Ntdtv, oleh Li Yun- Baru-baru ini, artikel di ‘Nikkei Asian Review’ menyebutkan bahwa masalah paling sulit yang sedang merongrong rezim Beijing adalah gelombang pengangguran. Meskipun tingkat pengangguran yang resmi dilaporkan adalah 6%, namun data tersebut tidak termasuk perhitungan pengangguran populasi pedesaan. Jika para pekerja migran yang jumlahnya sangat besar itu dimasukkan dalam perhitungan, maka tingkat pengangguran aktual Tiongkok bisa mencapai lebih dari 20%.

Zhongtai Securities Co. Ltd. pada akhir bulan April pernah memperkirakan bahwa tingkat pengangguran Tiongkok seharusnya telah mencapai sekitar 20,5%. Artikel pada majalah ‘Caixin’ bulan April menunjukkan bahwa wabah mungkin membuat 205 juta orang penduduk kehilangan pekerjaan. Jumlah itu menyita lebih 25% dari 775 juta orang pekerja Tiongkok.

Ditambah dengan masalah ketenagakerjaan yang dihadapi oleh lebih dari 8 juta orang lulusan universitas tahun ini.  Jadi, kelompok penganggur yang sedemikian besar mau tidak mau membuat rezim komunis Tiongkok yang berkuasa harus khawatir.

Beberapa pengamat Tiongkok di Hong Kong mengatakan bahwa, tanda-tanda menunjukkan Xi Jinping dan Li Keqiang berpandangan tidak sama dalam cara menyelamatkan krisis ekonomi. 

Laporan kerja Li Keqiang di Kongres Rakyat Nasional pada 22 Mei telah mematahkan kebiasaan dengan tidak ingin menetapkan target pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini. Ia juga mengungkapkan keprihatinannya tentang gelombang pengangguran yang besar.

Terhadap laporan kerja yang “tidak biasa” dari Li Keqiang itu, pakar Jepang menjelaskan bahwa teman dekat Xi Jinping sebenarnya berharap Li Keqiang dapat membuat pernyataan yang lebih optimis tentang prospek ekonomi untuk menonjolkan “kemenangan” Xi Jinping dalam memimpin negara mencegah epidemi. Akan tetapi Li Keqiang yang bertanggung jawab atas kebijakan keuangan dan ekonomi, justru mengungkapkan masalah 600 juta orang penduduk Tiongkok memiliki pendapatan bulanan yang hanya berkisar RMB. 1.000,-.

‘Nikkei Asian Review’ menyebutkan bahwa menurut perkiraan Bank Dunia, ekonomi Tiongkok tahun ini paling-paling hanya akan tumbuh sebesar 1%. Ini akan menjadi ekspansi yang paling lambat sejak tahun 1970 ekonomi Tiongkok dibuka kepada dunia luar. Meskipun kebebasan politik dibatasi, rakyat Tiongkok masih mentolerir kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok karena ada perbaikan kehidupan selama beberapa dasawarsa yang lalu.

Namun, krisis ekonomi dan gelombang pengangguran akan mengguncang rezim komunis Tiongkok. Mimpi terburuk Xi Jinping adalah bahwa Tiongkok berada dalam kekacauan karena krisis ekonomi sehingga berpotensi mengalami nasib yang sama seperti Uni Soviet yang runtuh pada tahun 1991.

Sebuah episode menunjukkan betapa khawatirnya Xi Jinping mengenai adegan seperti itu. Ketika Xi baru berkuasa pada tahun 2012, ia memerintahkan semua pejabat senior untuk menonton film dokumenter tentang runtuhnya Uni Soviet. Artikel menyebutkan : Bagi Xi, runtuhnya Uni Soviet bukan hal yang tidak mungkin terjadi di Tiongkok.

Beberapa pengamat Tiongkok di Hongkong mengatakan bahwa tanda-tanda menunjukkan Xi Jinping dan Li Keqiang berpandangan tidak sama dalam cara menyelamatkan krisis ekonomi. (Kevin Frayer/Getty Images)

Situasi yang Dihadapi Komunis Tiongkok Mirip dengan yang Dialami Uni Soviet Sebelum Runtuh

Baru-baru ini, industrialis Hongkong Yuan Gongyi ketika menerima wawancara eksklusif Epoch Times memberikan pendapatnya, bahwa situasi yang dihadapi komunis Tiongkok saat ini sangat mirip dengan situasi yang dialami Uni Soviet sebelum jatuh.

Yuan Gongyi yang lebih akrab dipanggil papa (ayah) Yuan mengatakan bahwa ketika “gurunya” Partai Komunis Tiongkok yakni Partai Komunis Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, Deklarasi Pembubaran Partai Komunis Uni Soviet yang dibacakan Gorbachev dan Yeltsin mengungkapkan bahwa Partai Komunis adalah organisasi ilegal. Selain itu situasi yang dialami Partai Komunis Tiongkok saat ini sangat mirip dengan situasi sebelum runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet.

Papa Yuan mengatakan bahwa kecelakaan pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl yang terjadi pada saat itu, telah menjadi pemicu bagi runtuhnya Partai Komunis Uni Soviet. Sama halnya dengan epidemi pneumonia komunis Tiongkok yang dengan cepat menyebar ke dunia setelah pecah di Wuhan. 

“Orang-orang di Uni Soviet mulai memahami bahwa Partai Komunis Uni Soviet begitu tidak bertanggung jawab, menipu dan melaporkan data palsu. Itu 100% sama dengan insiden pneumonia Wuhan”, katanya.

Yuan Gongyi juga menggunakan contoh bagaimana Lech Walesa memimpin Serikat Buruh Solidaritas Polandia untuk melawan Partai Komunis Polandia yang akhirnya membuat Partai Komunis Polandia runtuh, mendirikan Republik Polandia III. Ini sama dengan perjuangan rakyat Hongkong dalam menentang revisi Undang-undang ekstradisi yang sekarang diubah menjadi UU. Keamanan Nasional versi Hongkong.

Dia mengatakan bahwa Polandia mulai menentang, kemudian menjalar ke Jerman Timur, dan akhirnya membuat runtuhnya tembok Berlin, dengan demikian habislah Partai Komunis Uni Soviet. Sama halnya dengan kampanye anti-ekstradisi di Hongkong, jika Anda benar-benar sadar, Anda akan memahami semuanya itu. Komunisme sudah tak lagi dipercaya orang, hanya tinggal Tiongkok dan Korea Utara sekarang.

Papa Yuan menegaskan, bahwa Partai Komunis perlu diberantas sepenuhnya, karena di bawah kediktatoran komunis, hukum dan konstitusi itu palsu. Tidak peduli siapa yang berkuasa, mereka merasa dirinya tidak aman, sehingga mereka akan mengendalikan militer dan keamanan publik dan mempromosikan orang-orang kepercayaan mereka untuk memperluas kekuasaan.

Ia mengatakan bahwa perebutan kekuasaan di internal Partai Komunis Tiongkok saat ini berlangsung serius dan kacau. Yang akhirnya membuat ekonomi tidak tumbuh. Ada orang beranggapan bahwa kediktatoran sulit untuk melewati 70 tahun. Sedangkan Partai Komunis Tiongkok pada tahun 2019 telah memasuki batas tersebut.

“Kapal Merah” yang penuh dengan kerusakan nyaris tenggelam

Virus komunis Tiongkok yang mulai menyebar sejak akhir tahun 2019, hingga saat ini telah menimbulkan berbagai pukulan keras yang tidak pernah dialami komunis Tiongkok  sebelumnya. Baru-baru ini, ada netizen yang membeberkan secara online 10 krisis teratas yang dihadapi Partai Komunis Tiongkok saat ini.

Termasuk : Tuntutan ganti rugi atas penyebaran epidemi dari sejumlah negara di dunia. Masalah krisis keuangan di pemerintah daerah. Hengkangnya investor asing dari daratan Tiongkok. Jatuhnya perusahaan swasta Tiongkok. Masalah pengangguran. Hilangnya lapangan kerja bagi para lulusan baru mahasiswa. Krisis pangan. Masalah protes Hongkong. Masalah Taiwan. Masalah AS – Rusia “Bergandengan tangan” untuk menghadapi komunis Tiongkok. Masalah One Belt One Road. Masalah bagaimana menyelesaikan insiden distrik baru di Xiong’an. Masalah merealisasikan perjanjian perdagangan dengan AS.

Dalam menghadapi tuntutan tanggung jawab dan klaim kompensasi dari dunia, serta gelombang gulung tikar bisnis domestik dan pengangguran. Ditambah lagi dengan banjir di 22 provinsi, serangan hama belalang dan Spodoptera frugiperda, gelombang kedua wabah dan lainnya. Banyak pengamat percaya bahwa gelombang besar yang menghancurkan otokrasi Partai Komunis Tiongkok benar-benar telah tiba, “Kapal Merah” sudah nyaris tenggelam. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular