oleh Luo Tingting

Media corong partai Komunis Tiongkok tiba-tiba mengubah nada kebencian terhadap Amerika Serikat, dan menyatakan persahabatan antara rakyat Tiongkok dengan Amerika Serikat tidak dapat dihalangi.

Pada saat yang sama,  direktur Kantor Urusan Luar Negeri Tiongkok di Pangkalan Angkatan Udara Hickam Hawaii, Yang Jiechi terbang ke Amerika Serikat menemui Mike Pompeo untuk “bersilaturahmi.” 

Belakangan menimbulkan beragam komentar. Ada analis yang mengatakan bahwa Amerika Serikat telah memberlakukan serangkaian sanksi super berat terhadap pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok. Akibatnya Partai Komunis Tiongkok terpaksa bertekuk lutut, mengeluarkan sinyal  ingin melemah. Perjalanan Yang Jiechi kali sebenarnya bermaksud “minta ampun” kepada Amerika Serikat.

Media Amerika Serikat : Beijing Dukung Trump

Media Amerika Serikat Bloomberg menerbitkan sebuah artikel berjudul “Tiongkok Menyambut Trump untuk Duduk di Gedung Putih Selama 4 Tahun Ke Depan” pada 15 Juni 2020 lalu. 

Sembilan orang pejabat komunis Tiongkok baik yang masih aktif dan mantan pejabat mengatakan bahwa tidak peduli siapa yang duduk di Gedung Putih, ketegangan antara Tiongkok dengan Amerika Serikat akan meningkat. Namun demikian 9 pejabat itu menyatakan, dibandingkan dengan yang lain, Beijing lebih cenderung mendukung Trump untuk terpilih kembali menjadi presiden Amerika Serikat.

Sembilan orang pejabat komunis Tiongkok yang diwawancarai termasuk Wang Huiyao, pendiri China and Global Think Tank merangkap Penasihat Dewan Negara, beserta 4 orang pejabat yang masih aktif saat ini. Zhao Xiaoming, mantan wakil Perwakilan Tiongkok untuk Perserikatan Bangsa Bangsa/ PBB di Jenewa dan negosiator perdagangan Tiongkok. Gao Zhikai, seorang penterjemah pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping, dan lainnya.

Sebelumnya, otoritas komunis Tiongkok terus berusaha dengan sekuat tenaga melancarkan serangan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump dengan blak-blakan mengatakan kepada media sebelumnya bahwa tujuan komunis Tiongkok adalah mengharapkan dirinya gagal dalam pemilihan umum dan mencegahnya terpilih kembali.

Yang Jiechi datang menemui Mike Pompeo untuk “bersilaturahmi”

Saat ini, karena situasi epidemi dan masalah Hongkong menyebabkan hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok cukup tegang. Reuters mengutip ungkapan orang dalam melaporkan pada 16 Juni bahwa setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengunjungi Hawaii, pada 17 Juni rencananya  bertemu dengan Yang Jiechi.

Kedua negara belum memberikan tanggapan mengenai hal ini, tetapi dunia luar umumnya berpendapat bahwa kunjungan silaturahmi Yang Jiechi mengandung arti Beijing berniat tunduk kepada Washington. Penulis senior Hongkong Yan Chungou dalam artikelnya menyebutkan bahwa Amerika Serikat tidak mengandalkan komunis Tiongkok dan tidak mungkin mau meminta negosiasi. Sebaliknya, sanksi Amerika diluncurkan satu demi satu dengan kemampuan yang sangat mematikan.

Trump sebelumnya telah mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan membatalkan perlakuan istimewa kepada Hongkong dan akan memberikan sanksi kepada pejabat komunis Tiongkok dan Hongkong, termasuk pembatalan visa dan pembekuan aset  mereka di Amerika Serikat.

Menurut berita terbaru, sekitar 150 orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat yang tergabung dalam Republican Study Committee mengeluarkan strategi keamanan nasional yang disebut “Memperkuat Amerika Serikat dan Menanggapi Ancaman Global” pada 10 Juni. Mereka mengusulkan sejumlah program sanksi yang paling parah untuk komunis Tiongkok.

Otoritas tertinggi Partai Komunis Tiongkok, semua masuk dalam jangkauan sanksi. Mereka  termasuk 25 anggota Politbiro Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, termasuk Xi Jinping, 205 orang anggota Komite Sentral dan 171 orang anggota alternatif Komite Sentral,  2.280 orang perwakilan Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19 beserta pasangan dan anak-anak mereka. 

Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada individu dan anggota keluarga pejabat tinggi komunis Tiongkok yang sama sekali tidak memiliki efek terhadap rakyat Tiongkok. Ada netizen yang berkomentar bahwa sanksi dijatuhkan tepat mengenai pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok. 

“Itu bagus, agar mereka tidak dapat lagi menggunakan segala cara untuk menjadikan rakyat sebagai tameng mereka berbuat jahat,” komentar netizen.

Heng He, seorang komentator politik mengatakan bahwa di masa lalu, kejahatan pejabat Partai Komunis Tiongkok, termasuk pelanggaran hak asasi manusia, mereka dapat seenaknya bersembunyi di balik sistem yang dijalankan komunis Tiongkok. Sekarang komunis Tiongkok harus bertanggung jawab secara pribadi dan semua orang harus berpikir dua kali sebelum bertindak. Lagi pula, hasil korupsi yang telah didapat selama beberapa dekade mungkin saja dibekukan, apakah itu sepadan ?

Yan Chungou dalam artikelnya menyebutkan bahwa Pompeo sebelumnya telah bertemu dengan pemimpin mahasiswa 4 Juni. Seorang pemimpin pelajar, Li Hengqing saat menerima wawancara media mengungkapkan bahwa ada lebih dari 117 item sanksi untuk komunis Tiongkok yang diajukan oleh anggota Kongres Amerika Serikat. Singkatnya, bukan satu atau dua pukulan yang dilancarkan kepada komunis Tiongkok, tetapi serangan bertubi-tubi yang membuat komunis Tiongkok bertekuk lutut.

Netizen : “Bola mata” komunis Tiongkok langsung “naik ke atas” begitu lehernya dicekik

Pada saat berita pertemuan rahasia antara Pompeo dengan Yang Jiechi tersiar, media corong partai komunis Tiongkok tiba-tiba berubah nada. Tulisan bertemakan, “Persahabatan antara rakyat Tiongkok dengan Amerika Serikat tidak dapat dihalangi”  langsung muncul di kolom editorial.

“Tiap hari berkoar-koar, begitu dicekik bola matanya langsung naik ke atas,” komentar netizen.

Ada netizen lain yang menulis : “Kedatangan tiga kapal induk Amerika Serikat membuat negara hebat gemetaran, buru-buru minta negosiasi damai !”

Yan Chungou berpendapat bahwa inisiatif Yang Jiechi untuk menemui Mike Pompeo terutama ingin membicarakan masalah Hongkong. Bagi komunis Tiongkok, masalah Hongkong tidak dapat ditunda. Menurut Yan Chungou, Undang-Undang Keamanan Nasional tidak dapat ditunda. Dengan menunda berarti komunis Tiongkok memperlihatkan sikap lemah. Saat ini, komunis Tiongkok menemui Amerika dengan harapan bahwa Amerika Serikat akan menunjukkan belas kasihan, minta sanksi diperingan.

Yan Chungou menilai komunis Tiongkok hanya keras di mulut, takut di hati karena berbuat jahat. 

Sebelumnya, ketika awal Gerakan Anti-revisi Undang Undang ekstradisi di Hongkong, komunis Tiongkok ingin menggunakan tentara untuk menekan rakyat Hongkong. Yang Jiechi datang menemui Pompeo untuk mendapatkan persetujuan Amerika Serikat. 

Yang Jiechi ditolak dan akhirnya tidak mengirim pasukan. Kali ini Yang Jiechi mengambil inisiatif untuk memohon belas kasihan dari Amerika, mencerminkan bahwa Xi Jinping tidak memiliki visi strategis yang seharusnya dimiliki oleh seorang politisi besar.

Pihak berwenang Beijing telah kehilangan arah dalam negosiasi perdagangan Amerika Serikat dengan Tiongkok dan menangani masalah Hongkong. Sikapnya kadang keras, kadang lunak dan tidak sepenuhnya memperkirakan kekuatan satu sama lain. Setelah urusan menjadi kacau balau lalu bergegas ingin memperbaikinya, namun akibatnya adalah Komunis Tiongkok harus menelan kerugian yang lebih besar.

Yan Chungou menjelaskan bahwa karena pihak Tiongkok telah menyerah kalah, itu membuktikan bahwa trik yang dimainkan Amerika cukup berhasil. Karena itu Amerika Serikat tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menggebuk komunis Tiongkok. 

Kiranya kedatangan Yang Jiechi kali ini akan  pulang dengan tangan kosong. Jika pihak Tiongkok masih bersikeras untuk tetap memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hongkong, maka satu demi satu sanksi yang disusun Amerika Serikat akan dilaksanakan. (sin/rp)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular