Ntdtv.com- Pada 16 Juni 2020, Pemerintah Kota Beijing meningkatkan tanggap darurat  ke level dua terkait merebaknya wabah di kota itu.  Orang-orang yang memasuki dan meninggalkan Beijing dikontrol dengan ketat. Bagi warga di pasar Xinfadi dan warga daerah yang melakukan perjalanan berisiko tinggi, dilarang meninggalkan Beijing.  

Sedangkan bagi mereka yang terpaksa meninggalkan Beijing, diharuskan  melakukan tes asam nukleat negatif dalam 7 hari. Mulai 17 Juni 2020, semua kelas dan sekolah dari TK, sekolah dasar, menengah kejuruan hingga perguruan tinggi dihentikan.  Sedangkan lembaga pelatihan akan menangguhkan kursus offline dan kegiatan bersama-sama.

Mr Jiang, seorang warga Beijing mengatakan: “Sebagian besar daerah dan kota ditutup. Sedangkan keluar-masuk semuanya hampir tidak diizinkan. Komunitas di kota dikontrol dengan ketat. Mungkin sedang bersiap untuk me-lockdown kota.”

Mr Jiang menambahkan,  semua warga khawatir untuk keluar. Walaupun ada sebagian besar  dari mereka dalah pekerja lepas. Kini, sudah tidak ada pendapatan sama sekali selama setengah tahun. 

Mr Jiang menuturkan ia  tak melihat siapa yang pernah menerima kucuran bantuan. Dalam setengah tahun, pandemi menyebabkan kelumpuhan industri dan usaha warga.  Sehingga PDB nasional kehilangan 50%.

Laporan menyebutkan, Kota Beijing saat ini sedang melaksanakan pengelolaan komunitas atau wilayah  tertutup. Jika memasuki komunitas tersebut harus mengikuti sejumlah test tahapan termasuk pengukuran suhu, verifikasi kode, dan pendaftaran. 

Selain itu, penerbangan dibatalkan dalam skala besar.  Pada tanggal 17 Juni 2020 sebanyak 1255 penerbangan dibatalkan di dua bandara di Beijing. 

Mr  Dong, seorang warga Beijing, mengatakan bahwa kehidupan dan pekerjaannya yang baru mulai aktif terganggu oleh epidemi yang mendadak muncul.

Mr  Dong menuturkan : “sekarang penutupan komunitas lebih ketat. Warga harus mengukur suhu ketika masuk dan keluar.” Ia mengatakan tidak terlalu memikirkan pekerja migran atau apa pun. Sedangkan warga yang pulang kampung selama Musim Semi tidak diizinkan kembali. Meski demikian, beberapa dari mereka kembali satu demi satu seperti melanjutkan usaha. Meskipun bisnis belum membaik.

Wang, seorang warga pendatang di Beijing, mengungkapkan bahwa setelah pasar grosir Xinfadi ditutup, beberapa orang yang bergantung pada pemungutan sayuran untuk mata pencaharian mereka, kini sangat membutuhkan bantuan.

Wang, seorang pendatang di Beijing menuturkan : “ketika pasar Xinfadi ditutup, Ada beberapa pendatang yang tinggal di sekitar. Mereka hidup dengan mengandalkan pemungutan sayuran. Video pengamatan menunjukkan bahwa mereka yang mengunjungi pasar Xinfadi diharuskan mengikuti  test, dengan kisaran biaya beberapa ratus yuan hingga ada yang memungut sampai ribuan yuan untuk isolasi. 

Wang menambahkan, bagi yang tidak mempunyai uang, diisolasi secara mandiri di rumah atau kontrakan. Meski demikian terkendala dengan ketiadaan  stok pangan di rumah. Warga juga terpaksa meminta bantuan setiap hari.  Kini, warga tidak dapat membantu mereka. Pasalnya, jika mendekati mereka, warga itu juga harus diisolasi. 

Dalam beberapa hari terakhir,  antrean panjang warga menunggu deteksi asam nukleat di berbagai daerah di Beijing. Sedangkan orang-orang yang telah pergi ke pasar grosir Xinfadi di daerah epidemi yang baru muncul harus melakukan tes. Para pejabat mengatakan jumlah orang yang ditracking hampir 200.000 orang. (Hui/asr)

Wartawan NTD Xiong Bin dan Huang Yuning

Video Rekomendasi

Share

Video Popular