Ntdtv, oleh Luo Tingting- Pada 18 Juni Pompeo mengirim pesan lewat twitter yang berbunyi: “Selama pertemuannya dengan Yang Jiechi, anggota Biro Politik Komite Sentral Komunis Tiongkok, ia sekali lagi berjanji untuk memenuhi semua kewajiban yang tertera dalam perjanjian perdagangan tahap pertama antara kedua negara.”

Bloomberg mengungkapkan bahwa ini adalah pembicaraan substansial pertama yang diungkapkan setelah pertemuan terakhir antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Dalam beberapa bulan terakhir, pembelian produk pertanian Amerika Serikat oleh komunis Tiongkok seperti jagung, gandum, dan kedelai telah meningkat jumlahnya, melebihi tingkat sebelum perang perdagangan, dan menyetujui bank Amerika Serikat untuk memasuki pasar Tiongkok. Ini adalah bagian dari perjanjian perdagangan tahap pertama. Namun, hubungan Amerika Serikat dengan  Tiongkok justru  memburuk secara tajam karena epidemi virus komunis Tiongkok dan masalah Hongkong. Dampaknya dunia luar memiliki keraguan tentang apakah perjanjian tersebut dapat dipenuhi.

Pada 17 Juni, Pompeo dan Yang Jiechi mengadakan pertemuan rahasia di Pangkalan Angkatan Udara Hickam di Hawaii selama lebih dari 6 jam. Ini adalah pertemuan resmi tingkat tinggi pertama sejak ketegangan antara kedua negara. Kedua pihak mungkin terlibat dalam pembicaraan mengenai banyak masalah seperti perdagangan, situasi epidemi, Hongkong, Taiwan dan Korea Utara.

Dunia luar percaya bahwa pertemuan kali ini cenderung diprakarsai oleh pihak komunis Tiongkok yang rupanya ingin “minta ampun” kepada Amerika Serikat yang belakangan sering melontarkan “pukulan keras” terhadap komunis Tiongkok.

Setelah perundingan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Morgan Ortagus dalam sebuah pernyataan menyampaikan kembali tekanan Mike Pompeo pada pertemuan, yakni kedua belah pihak perlu menegakkan prinsip transaksi timbal balik sepenuhnya dalam hubungan dagang, keamanan maupun kegiatan diplomatik.

Perwakilan Dagang Amerika Serikat Robert Lighthizer pada 17 Juni dalam sebuah sidang dengar pendapat di United States House Committee on Ways and Means mengatakan bahwa komunis Tiongkok  baru-baru ini melakukan pembelian sejumlah besar produk pertanian Amerika Serikat. Pembelian itu termasuk kapas sebesar USD. 1 miliar, dan secara terbuka menegaskan bahwa mereka berniat untuk mematuhi isi dalam perjanjian perdagangan tahap pertama.

“Saya berharap mereka mematuhi perjanjian. Meskipun mereka telah mengindikasikan niat itu (mematuhi)”, kata Lighthizer. 

Media menganggap perjanjian itu lebih sebagai “kontrak jual-beli kedelai.” Karena perjanjian tahap pertama tidak hanya itu, tetapi juga mempermasalahkan tindakan yang harus dilakukan oleh komunis Tiongkok mengenai nilai mata uang, transfer teknologi dan kekayaan intelektual.

Senator Rick Scott dari Partai Republik Florida menyatakan dalam suratnya yang ditujukan kepada kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat pada 11 Juni bahwa jika Tiongkok gagal memenuhi tujuan pengadaan, maka Amerika Serikat harus berkomitmen untuk meminta pertanggungjawaban Tiongkok.

Bagi komunis Tiongkok saat ini masalah yang paling sulit diatasi adalah Hongkong. Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hongkong bagai anak panah yang sudah di atas busur, dan rencana sanksi keras Tiongkok  juga sudah dibeberkan di atas meja membuat komunis Tiongkok berada dalam situasi dilema, serba salah.

Seorang penerbit senior dan penulis terkenal Hongkong bernama Yan Chungou baru-baru ini menuliskan sebuah artikel analisis. Isinya menyebutkan bahwa karena sanksi Amerika Serikat tampaknya cukup efektif, maka mereka pasti tidak akan membuang kesempatan untuk menggebuk komunis Tiongkok. 

Dampaknya pertemuan Yang Jiechi sudah dapat diperkirakan akan pulang tanpa hasil. Tidak mungkin bagi komunis Tiongkok untuk menarik kembali Undang Undang Keamanan Nasional. Sedangkan sanksi Amerika juga satu per satu akan dilaksanakan. Rakyat Hongkong dapat mengalami kesulitan hidup untuk suatu masa, tetapi Partai Komunis Tiongkok sedang melangkah menuju kuburan yang digalinya sendiri.

Dua jam setelah pembicaraan antara Pompeo dengan Yang Jiechi berakhir, Kantor Berita corong Komunis Tiongkok, ‘Xinhua’ menyampaikan berita bahwa Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19 akan diadakan pada 18 Juni, dan Undang Undang Keamanan Nasional versi Hongkong akan dimasukkan sebagai agenda peninjauan. Tetapi Xinhua tidak mencantumkan ketentuan spesifik mengenai rancangan tersebut.

Xu Zhen, Direktur Pengawasan Hongkong Zhiming Institute mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa pejabat komunis Tiongkok langsung mengumumkan adanya rencana untuk meninjau kembali Undang Undang itu setelah selesai pertemuan Yang Jiechi. Kemungkinan maksudnya untuk menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa selain yang menyangkut masalah keamanan nasiona. Masalah lainnya dapat saja dinegosiasikan.

Menurut Shi Zangshan, seorang ahli urusan Tiongkok di Washington, Partai Komunis Tiongkok segera mengumumkan bahwa Undang-Undang Keamanan Nasional dimasukkan dalam peninjauan segera setelah pembicaraan berakhir. Hal itu, menyiratkan bahwa pembicaraan Tiongkok dengan Amerika Serikat tidak memberikan hasil dan Perang Dingin Baru telah dimulai. Isu antar selat dan masalah virus terjadi banyak benturan keras antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Pada kenyataannya, Amerika Serikat bersikap keras dalam menanggapi Undang Undang Keamanan Nasional versi Hongkong. Dalam konferensi pers pada 29 Mei, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump  mengkritik keras langkah Beijing karena melanggar Deklarasi Bersama Tiongkok dengan Britania dan memaksa Hongkong menerima prinsip Satu Negara Satu Sistem. 

Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat akan membatalkan perlakuan istimewa yang telah diberikan kepada Hongkong dan memberikan sanksi kepada pejabat komunis Tiongkok dan Hongkong.

Baru-baru ini, dalam daftar sanksi yang diajukan oleh sekitar 150 anggota Kongres Amerika Serikat telah dimasukkan nama Han Zheng, pejabat tinggi yang bertanggung jawab terhadap situasi di Hongkong.

Beberapa komentator percaya bahwa mimpi komunis Tiongkok ingin menggunakan pembelian produk pertanian berskala besar untuk mempengaruhi Trump sudah tidak mungkin terwujud. Sedangkan wabah besar kali ini telah membuat orang-orang baik di pemerintahan maupun swasta Amerika Serikat semakin sadar terhadap ancaman komunis Tiongkok.

Trump dalam banyak kesempatan sering mengatakan bahwa penilaiannya terhadap perjanjian perdagangan Amerika Serikat dengan  Tiongkok sudah berbeda, semakin menurun.

Trump dalam pesan tweet yang diunggah pada 13 Mei menyebutkan bahwa berurusan dengan Partai Komunis Tiongkok itu mahal, bahkan perjanjian perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat memperoleh angka 100 pun tidak sanggup mengembalikan semua nyawa tak berdosa yang telah meninggal.

Trump pada 18 Juni merilis lagi pesan mengejutkan lainnya di twitter yang berbunyi: “Amerika Serikat mempertahankan opsi kebijakan untuk decoupling lengkap dari Partai Komunis Tiongkok.” (Sin / rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular