Ntdtv.com- Menurut laporan dari media besar India, pada 15 Juni 2020 lalu, terjadi konflik besar di perbatasan antara Tiongkok dan India. Konflik itu dianggap sebagai konflik berdarah terbesar dan perselisihan diplomatik antara kedua pihak sejak perang berdarah antara kedua negara pada tahun 1962.

Dilaporkan bahwa tentara Tiongkok dan India bertempur langsung. Beberapa tentara India dipukuli, dilukai atau dibunuh. Beberapa tentara didorong ke ngarai atau sungai. Sementara tentara lainnya setelah terluka menderita kedinginan hingga tewas.

Media India New Indian Express mengutip sebuah sumber yang mengatakan, “Tentara Tiongkok mengenakan helm, perisai, bantalan lutut dan topi siku, dan peralatan anti huru hara.”

Seorang pejabat senior militer India mengatakan kepada BBC bahwa ada 55 tentara India dan 300 tentara Komunis Tiongkok di lokasi perkelahian tersebut. Perwira, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan: “Mereka memukul kepala tentara kami dengan tongkat logam yang dibungkus dengan kawat besi, paku, sedangkan tangan kami, tangan kosong.”

Militer India mengatakan bahwa 20 tentara India tewas dalam bentrokan antara kedua belah pihak. Menurut berita yang dikutip oleh ANI dari Kantor Berita New Delhi di India, konflik itu juga menyebabkan kematian dan cedera serius pada 43 personil militer Tiongkok.

 

Namun sejauh ini, baik pejabat Komunis Tiongkok maupun militer tidak mengumumkan korban sebenarnya dari tentara Tiongkok. People’s Daily, media inti partai, dan People’s Liberation Army Daily, koran militer Tiongkok, tidak menyebutkan konflik terbesar yang meletus di Tiongkok dan India dalam 50 tahun terakhir itu. Bahkan media Komunis Tiongkok tabloid Global Times di halaman dalam tersebut hanya menyebutkan konten terkait.

Adapun penyebab konflik antara kedua pasukan, Kementerian Luar Negeri India mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa Tiongkok telah mengambil tindakan yang direncanakan sebelumnya yang secara langsung menyebabkan kekerasan dan korban.

Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar mengatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan untuk mengurangi ketegangan dan tidak saling melanggar di sepanjang line of actual control (LAC) atau garis kontrol aktual yang disepakati di masa lalu oleh kedua pihak pada pertemuan tingkat militer yang diadakan pada 6 Juni. 

Komandan darat telah melakukan pertemuan secara teratur minggu lalu untuk mengimplementasikan konsensus ini.

Pernyataan itu juga mengatakan bahwa meskipun ada kemajuan yang dibuat oleh kedua belah pihak, Tiongkok masih berusaha membangun sebuah bangunan di sisi India dari garis kontrol yang sebenarnya di Lembah Galwan.

Meskipun ini menjadi sumber perselisihan, pihak Tiongkok mengambil tindakan yang sudah direncanakan dan direncanakan sebelumnya yang secara langsung mengarah pada kekerasan  dan korban ini.

Pernyataan itu mengatakan, “Itu mencerminkan niat pihak Tiongkok untuk mengubah keadaan. Fakta-fakta itu melanggar semua perjanjian kami untuk tidak mengubah status quo. “

Pernyataan itu menekankan bahwa perkembangan tak terduga seperti itu akan berdampak serius pada hubungan bilateral kedua negara.

Sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Komunis Tiongkok menyatakan bahwa tentara India “secara terbuka mematahkan” konsensus yang dicapai atas perintah militer kedua belah pihak. India dengan sengaja memprovokasi bahkan dengan kasar menyerang para perwira dan prajurit Tiongkok di garis kontrol yang sebenarnya, menyebabkan konflik fisik yang hebat dan menelan korban jiwa. (hui/rp)

(Reporter Xiao Jing laporan komprehensif / editor yang bertanggung jawab: Ming Xuan)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular