Ntdtv, oleh Qiao’an- Pada 19 Juni, sedikitnya 8,65 juta orang di luar daratan Tiongkok telah didiagnosis terinfeksi virus komunis Tiongkok. Sedangkan lebih dari 450.000 orang meninggal dunia. Adapun Jumlah infeksi warga di Beijing kembali dipertanyakan secara internasional.

Kota Beijing yang kembali terjangkit wabah telah memperlihatkan 2 pemandangan ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Jalanan di pusat kota seperti Lapangan Tiananmen dan Wangfujing kosong melompong.

Namun di lokasi pengujian asam nukleat berjubel warga, bahkan jarak sosial yang paling mendasar untuk mencegah penularan pun tidak dapat dilakukan.

Pada 19 Juni, Peking University International Hospital ditutup karena timbul kasus infeksi yang dikonfirmasi. Rumah Sakit Ditan yang menerima pasien positif COVID-19 terpaksa menambah 1.070 tempat pembaringan. Rumah sakit itu menerima lebih dari 100 orang staf medis yang dipindahkan dari 18 rumah sakit di kota lainnya untuk mendukung operasionalnya.

Menurut angka yang dirilis oleh Komisi Kesehatan Beijing, sejak wabah epidemi lokal muncul kembali pada 11 Juni. Adapun jumlah kumulatif dari kasus yang dikonfirmasi pasien terinfeksi di Beijing telah mencapai 183 kasus. Meski demikian jumlah ini terus dipertanyakan oleh dunia internasional.

Pejabat Kementerian Luar Negeri AS menyerukan pengiriman pengamat independen untuk menilai tingkat keparahan epidemi di Beijing. Selain itu, menyatakan tidak mempercayai data yang dirilis oleh komunis Tiongkok.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia, yang bekerja sama dengan komunis Tiongkok untuk menyembunyikan fakta epidemi di daratan Tiongkok sehingga epidemi menyebar luas ke dunia juga semakin menghadapi kesulitan. 

Seorang pejabat kesehatan Eropa yang meminta untuk tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa negara-negara seperti Inggris, Perancis, Jerman dan Italia sedang bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk membahas reformasi teknis WHO. Ini mencerminkan bahwa negara-negara Eropa ini tidak puas dengan WHO yang dapat dikendalikan oleh komunis Tiongkok.

Namun, pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengatakan pada hari Jumat lalu, bahwa pihaknya telah mulai memberitahukan Organisasi Kesehatan Dunia bahwa AS akan menarik diri. Pada saat yang sama, Amerika Serikat telah menemukan mitra yang dapat menggantikan WHO dalam proyek kesehatan global lain selain polio, dan tegas dalam sikapnya untuk meninggalkan WHO.

Pada 19 Juni, jumlah kasus baru di Brasil mencapai hampir 50.000, dan jumlah diagnosis kumulatif melebihi 1,03 juta. Hampir 50.000 orang meninggal dunia. Selama seminggu terakhir, epidemi Brasil telah menyebar pada tingkat rata-rata 25.000 kasus per hari dengan 1.000 kematian. Seorang profesor medis percaya bahwa setidaknya 3 juta orang di Brasil terinfeksi virus, dan jumlah sebenarnya mungkin mencapai 10 juta.

Meksiko, yang juga merupakan negara Amerika Latin, juga telah menciptakan rekor baru untuk jumlah orang yang didiagnosis dalam satu hari. Pada hari Jumat, jumlah kasus baru yang dikonfirmasi bertambah sebanyak 5,662 kasus. Karena tingkat deteksi virus yang relatif rendah di Meksiko, jumlah orang yang terinfeksi sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi daripada data  resmi. Jumlah diagnosis secara kumulatif di Meksiko telah melampaui 165.000 orang.

Pada saat yang sama, epidemi di Eropa terus mereda. Kepala Pejabat Kesehatan Inggris pada hari Jumat mengumumkan bahwa tingkat kewaspadaan terhadap virus komunis Tiongkok secara nasional telah diturunkan dari Tingkat 4 ke Tingkat 3. Akan tetapi ditekankan bahwa wabah masih mungkin kembali meluas.

Sedang di Benua Asia, Jepang sejak hari Jumat telah membatalkan semua pembatasan perjalanan domestik. Karena peningkatan besar dalam pemesanan kursi, sehingga perjalanan Kereta Api Cepat Jalur Laut Tiongkok Timur telah ditambah pada hari itu. Sedangkan lalu lintas penumpang di Bandara Haneda juga meningkat secara signifikan.

Jepang sedang berkoordinasi dengan Vietnam, Thailand, Australia dan Selandia Baru untuk membahas isu pencabutan batasan perjalanan di antara keempat negara ini. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular