NTDTV.com

Pada 15 Juni 2020 lalu, terjadi bentrokan keras  antara Tiongkok dan India di perbatasan Himalaya, yang menyebabkan kematian dan cedera hampir seratus perwira dan prajurit India. Media India mengungkapkan pada hari Minggu 21 Juni 2020 bahwa India memutuskan untuk mengabaikan kepatuhan soal konflik perbatasan dengan Tiongkok, yang melarang penggunaan senjata api. Itu memungkinkan tentara India  menembak Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok dalam konflik di masa depan.

Pasal 6 (1) tahun 1996, “Perjanjian tentang Tindakan Membangun Keyakinan di Lapangan Militer di Area Garis Kontrol Sebenarnya Perbatasan Tiongkok-India” menetapkan bahwa kedua belah pihak tidak akan menggunakan senjata api untuk menembak atau meledakkan dalam jarak 2 kilometer dari garis kendali perbatasan sebenarnya. Kecuali digunakan untuk pelatihan penembakan harian.

Namun, Hindustan Times mengutip seorang pejabat senior India anonim pada  21 Juni 2020 melaporkan bahwa Angkatan Darat India telah memerintahkan komandan unit kontrol perbatasan di perbatasan Tiongkok dengan India untuk “sepenuhnya bergerak”  menangani keadaan darurat di tingkat taktis.

Laporan itu juga menyatakan bahwa Angkatan Darat India menyetujui komandan penjaga perbatasan untuk tidak lagi mematuhi Perjanjian Non-senjata api antara Tiongkok dengan India. Setelah menghadapi “keadaan yang tidak biasa”, memiliki hak untuk memerintahkan pasukan untuk mengambil semua tindakan terhadap Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

Konflik kekerasan terburuk dalam 45 tahun pecah di perbatasan antara Tiongkok dan India pada Senin tanggal 15 Juni 2020 lalu. Penyebab konflik adalah bahwa komandan senior kedua belah pihak mencapai konsensus pada 6 Juni 2020 untuk menarik pasukan, tetapi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok mencoba membangun pos pengamatan di titik patroli ke-14 di dataran tinggi perbatasan. Padahal menurut pihak  India lokasi itu berada di perbatasan India. 

Komandan kolonel India B Santosh Babu berpatroli pada malam hari tanggal 15 Juni 2020 dan mencoba menghentikannya secara lisan. Akan tetapi ditolak oleh pihak Tiongkok, itu berubah menjadi pertempuran jarak dekat.

Laporan media asing mengungkapkan bahwa tentara Komunis Tiongkok melakukan serangan dengan “tongkat berpaku” pada saat itu. Sedangkan tentara India hanya tangan kosong dan batu dalam pertempuran. 

Kedua belah pihak bertempur selama tujuh jam. Namun, karena lokasi konflik berada di tebing curam, banyak perwira dan tentara di kedua sisi jatuh ke tebing. Atau tewas beku kedinginan setelah jatuh ke sungai.

Perdana Menteri India Narendra Modi secara terbuka menyatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada tanggal 17 Juni 2020 bahwa India menginginkan perdamaian, tetapi jika diprovokasi, itu akan menanggapi situasi apa pun. 

Narendra Modi menegaskan bahwa tentara India yang tewas dalam bentrokan berdarah di perbatasan antara Tiongkok dan India tidak akan mati sia-sia, dan India akan mempertahankan setiap jengkal wilayah.

Pada  20 Juni 2020, Modi sekali lagi mengutuk upaya Komunis Tiongkok karena melintasi garis kontrol yang sebenarnya, dan membangun gedung di wilayah India yang melintasi batas. 

Dia juga mengatakan bahwa setelah militer India menderita banyak korban, India “terluka” dan “seluruh India sangat marah”, dan memperingatkan bahwa tentara India telah diberi wewenang untuk mengambil semua tindakan balasan yang diperlukan untuk menanggapi pelanggaran baru.

Pemerintah India menekankan dalam sebuah pernyataan pada hari yang sama bahwa India tidak akan pernah menerima upaya apapun oleh Komunis Tiongkok untuk mengubah perbatasan secara sepihak.

Media India melaporkan bahwa pasukan India membunuh satu komandan kolonel dan 19 tentara dan melukai 76 lainnya dalam konflik kekerasan ini. Kementerian Pertahanan India mengumumkan bahwa saat ini ada 18 tentara India yang masih di rumah sakit dan 4 di antaranya dalam keadaan kritis.

Pejabat Komunis Tiongkok telah menghindari melaporkan ke publik tentang jumlah kematian dan cedera. Menteri Transportasi dan Jalan Raya India Singh (V. K. Singh) mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media India “TV News24” pada tanggal 20 Juni 2020 lalu bahwa korban jiwa di pihak Tiongkok setidaknya dua kali lipat dari jumlah korban tentara India. 

Sebelumnya, beberapa media India mengungkapkan bahwa setidaknya ada  43 tentara Komunis Tiongkok yang tewas, termasuk komandan utama dan wakil komandan unit. (hui/rp)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular