Hk.epochtimes, Qi Xianyu- Epidemi virus Komunis Tiongkok merebak di Beijing pada Februari 2020 lalu, dan terkendali pada Maret. Namun kembali muncul kasus baru pada pertengahan April 2020 lalu. 

Selama 50 hari berikutnya, tambahan baru yang dikonfirmasi di Beijing tetap nol kasus. Setelah Beijing mengumumkan kasus baru di pasar grosir Xinfadi pada 11 Juni 2020 lalu, dengan cepat melonjak hingga 36 kasus per hari. Belakangan pada 20 Juni, tambahan baru yang dikonfirmasi otoritas Beijing mencapai 227 kasus.

Namun, pada 18 Juni, ketika Partai Komunis Tiongkok meminta setiap provinsi untuk mengirim tim medis membantu situasi epidemi di Beijing, kota Beijing sudah dalam kondisi lockdown.

Namun menurut  Wu Zunyou, epidemi di Beijing sudah terkendali. Wu Zunyou, adalah sosok yang menggantikan Zhong Nanshan – dokter ahli paru Tiongkok yang menemukan coronavirus SARS tahun 2003 silam dan baru dipromosikan sebagai kepala ahli epidemiologi oleh Partai Komunis Tiongkok.

Pernyataan Wu Zunyou berdasarkan data epidemi harian yang dilaporkan oleh Partai Komunis Tiongkok. Namun dunia tahu akan kebohongan Komunis Tiongkok terkait informasi epidemi.

Banyak ahli virus mengatakan bahwa terkait virus komunis Tiongkok yang sangat menular dan baru terjadi itu mustahil dapat dikendalikan dalam beberapa hari, dan menunjukkan penurunan secara keseluruhan. Ini sangat jauh berbeda dengan data yang diumumkan negara-negara di dunia.

Epidemi di sebagian besar negara-negara Eropa dan Amerika baru menurun setelah beberapa bulan kemudian. Menurut ahli, satu-satunya penjelasan adalah Komunis Tiongkok terus menutupi informasi epidemi.

Pada 20 Juni pagi waktu Beijing, tim medis dari 6 rumah sakit besar provinsi Hubei, termasuk Wuhan University Zhongnan Hospital, Wuhan University Renmin Hospital, Tongji Medical College of HUST- Huazhong University of Science and Technology, dan Huazhong University of Science and Technology-Wuhan Union Hospital, mengirim lebih dari 70 ahli medis untuk membantu rumah sakit besar di Beijing.

Keterangan foto: Pada 20 Juni 2020, tim medis dari Wuhan union hospital membantu penanggulangan epidemi di Beijing. (Internet)

Sebelumnya, puluhan penyelidik epidemiologi yang dikirim dari Provinsi Jiangsu, Provinsi Zhejiang, Provinsi Shandong, Provinsi Henan dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok  telah tiba di rumah sakit terkait epidemi di Beijing.

Shi Zangshan, seorang ahli masalah Tiongkok di Washington, Amerika Serikat mengatakan bahwa sebagian besar provinsi yang membantu Beijing itu adalah provinsi di mana rekan dekat atau kepercayaan Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping berada. Terutama 6 tim yang dikirim dari Hubei, mereka sangat aktif. Ketua tim medisnya, Ying Yong adalah orang yang baru ditempatkan di  Hubei oleh Xi Jinping.

“Beijing kini dihantam epidemi. Orang-orang dari kamp Xi Jinping ini segera mengirim tim medis ke Beijing, terutama untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepada Xi Jinping. Bukankah Xi Jinping tampak emosi terkait epidemi di Beijing belum lama ini,” kata Shi Zangshan.

Keterangan foto: Komplek pemerintah pusat Zhongnanhai tampaknya tidak mampu lagi membendung serangan virus corona! Sumber mengatakan, jajaran elite Partai Komunis Tiongkok telah dievakuasi ke Xishan-Perbukitan Barat di Beijing. Ilustrasi (JASON LEE / AFP via Getty Image

Sejak pertengahan April 2020, komplek pemerintah pusat Zhongnanhai sudah tidak mampu lagi membendung serangan virus corona. Sementara itu, jajaran elite Partai Komunis Tiongkok diungsikan ke Jade Spring Hill, Istana Musim Panas di Beijing, Tiongkok.

Sampai pada April 2020, media Hong Kong Ming Pao, pada 17 April mengutip sumber terkait, mengatakan, bahwa karena dampak virus corona, sejumlah pemimpin Partai Komunis Tiongkok telah pindah dari Zhongnanhai ke kantor Jade Spring Hill dan pinggiran barat Beijing untuk mengurangi pertemuan.

Informasi terkait menyebutkan bahwa di Xishan-Perbukitan Barat di Beijing memiliki pusat komando Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok, serta tempat tinggal dan resor kesehatan bagi para pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok.

Pada tanggal 18 April 2020, penulis dan aktivis Tiongkok “Laodeng” juga mengatakan di twitternya, bahwa sumber-sumber internal Partai Komunis Tiongkok mengungkapkan, epidemi kedua telah tiba dan pengendalian epidemi di Beijing telah diperketat. 

Para elite senior atau pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok, telah mengungsi dari daerah perkotaan ke Xishan. Situasi  bagaikan masa perang. Sumber terkait mengatakan bahwa otoritas Komunis Tiongkok mungkin akan memulai kembali uji coba nuklir dan mengadakan latihan militer besar-besaran terhadap Taiwan untuk mengalihkan beban krisis yang dihadapi pucuk pimpinan Beijing.

Sejak 8 Februari 2020 lalu, Guo Wengui mengatakan dalam video bahwa Gedung Komisi Inspeksi Disiplin Kota Beijing sudah mati, tak berpenghuni. Orang pertama yang terinfeksi virus di Beijing adalah Komisi Inspeksi Disiplin dan Polisi Beijing. Xi Jinping kemudian tidak lagi berada di kantor Zhongnanhai. 

Beijing mengumumkan penutupan kota pada 10 Februari 2020, dan dilaporkan adanya infeksi klaster di Beijing, termasuk sejumlah tempat Pemerintahan Distrik Xicheng dimana Zhongnanhai berada.

Di antaranya  Rumah Sakit Fuxing, yang dilanda epidemi memiliki ruangan khusus untuk pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok. Rumah sakit itu bertanggung jawab atas perawatan medis lebih dari 5.000 pejabat tinggi di berbagai kementerian dan komisi negara. 

Rumah sakit itu hanya berjarak 3.500 meter dari Zhongnanhai dan hanya butuh waktu tempuh 7 menit dengan menggunakan mobil.

Direktur komite lingkungan di Distrik Sanlihe dekat Rumah Sakit Fuxing juga meninggal karena virus corona. Pejabat Partai Komunis Tiongkok juga mengkonfirmasi pada saat itu bahwa ada kasus yang di konfirmasi di unit bawahan dari Kementerian Keuangan Komunis Tiongkok di Distrik Xicheng. Di antaranya adalah Wang Zhongwei, sekretaris Partai dari Kantor Dewan Penasihat Negara yang didiagnosis terinfeksi virus.

Ada 3 Terowongan di Beijing untuk Menyelamatkan Diri

Partai Komunis Tiongkok selalu menganggap negara-negara Barat sebagai musuh. Mao Zedong selalu berteriak-teriak untuk meluncurkan Perang Dunia Ketiga. Karena itu, sejak 1950-an, terutama setelah Revolusi Kebudayaan, Komunis Tiongkok menggali terowongan di berbagai tempat untuk membangun Tembok Besar bawah tanah. 

Sebagai contoh, banyak gunung di Chongqing yang kosong di bawahnya, dan banyak tempat perlindungan dari serangan udara. Belakangan orang-orang menggunakan tempat perlindungan dari serangan udara itu untuk membuka pusat perbelanjaan bawah tanah. Bisnis di sana memang cukup booming ketika itu, karena musim dingin di gua itu terasa hangat dan sejuk di musim panas.

Pada waktu itu, dalam rangka mempersiapkan perang dan mencegah “imperialisme Amerika menyerang Tiongkok,” Komunis Tiongkok menggali banyak terowongan di Beijing untuk menyelamatkan diri.

Keterangan foto: Pada Mei 2017, ketika Semenanjung Korea tegang, Partai Komunis Tiongkok melaporkan latihan serangan balik nuklir rahasia, yang jarang mengungkapkan rahasia besar “Tembok Besar Bawah Tanah” kepada publik. (Internet)

Selain itu  Komunis Tiongkok memiliki tiga lorong bawah tanah di Beijing. Lorong pertama dari Zhongnanhai ke pangkalan angkatan udara “Jade Spring Hill” di Xishan, jalur bawah tanah ini dapat dilalui kendaraan.

Lorong kedua adalah dari Zhongnanhai ke Balai Kota Beijing kemudian ke Bandara Internasional Beijing.

Lorong ketiga adalah sebuah jalan rahasia menuju Bandara Internasional Daxing, Beijing yang baru beroperasi pada September 2019 silam. Sebuah sumber mengatakan, itu merupakan mega proyek yang digagas Xi Jinping, dan memiliki fungsi rahasia.  

Li Yiping, seorang juru bicara untuk Platform Resonansi Nasional, juga pernah mengungkapkan pada Desember 2019 bahwa pejabat senior Partai Komunis Tiongkok telah mengirim anak-anak mereka ke luar negeri. Mereka mengatur jalan hidup bagi seluruh keluarganya. Itu adalah kesepakatan yang dicapai oleh para pejabat senior dalam sistem Komunis Tiongkok. Generasi tua terlibat dalam politik kekuasaan, dan ketika “kapal akan tenggelam,” semua orang menyelamatkan diri bersama.  Istilah “kapal akan tenggelam,” mengacu pada runtuhnya rezim komunis Tiongkok.

Li Yiping mengungkapkan bahwa ada dua rute pelarian di tingkat tertinggi di Beijing. Ada jalan rahasia dari Zhongnanhai ke Pangkalan Angkatan Udara Xishan. Jalan yang lain adalah jalan rahasia dari Zhongnanhai ke Balai Kota Beijing dan kemudian ke Bandara Internasional Beijing. 

“Dua jalan untuk melarikan diri selalu siap kapan saja, dan rakyat jelata digunakan sebagai perisai manusia,” kata Li Yiping.  

Pusat komando kedua Partai Komunis Tiongkok juga diserang virus

Pada awal Februari lalu, situasi epidemi di kota Shiyan dan Xiaogan  (Baca: Siau Kan)  tetangga Wuhan jauh lebih ringan daripada di Wuhan sendiri, tetapi Li Yiping justeru memprioritaskan kendali militer di kedua kota kecil itu. Lalu mengapa dua kota kecil Shiyan dan Xiaogan di Hubei ini lebih dulu diterapkan kendali militer secara nasional?

Menurut laporan “Epoch Weekly”, hal itu dikarenakan status aktual kedua tempat tersebut sangat istimewa. Meskipun secara administrasi termasuk dalam yurisdiksi Provinsi Hubei, namun kedua kota kecil ini semi-independen dari Provinsi Hubei.

Di Kota Shiyan, selain memproduksi kendaraan bermotor Dongfeng, juga terdapat serangkaian pangkalan produksi rudal Tiongkok, serta pintu masuk dan keluar dari “Tembok Besar Tiongkok”. 

Di era Mao Zedong, Komunis Tiongkok telah menempatkan pusat komando kedua di Kota Shiyan semasa perang. Pusat Komando Pertama semasa perang hanya ratusan meter di bawah tanah perbukitan Dazhao, Beijing.

Jika terjadi sesuatu di Beijing, para pemimpin Partai Komunis Tiongkok akan pindah ke kota Shiyan, jadi bisa dibayangkan betapa pentingnya status kota ini.

Sementara di kota Xiaogan, provinsi Hubei ditempatkan satu unit pasukan taktis dan strategis terpenting Tiongkok, yaitu “Pasukan ke-15” sebelum reformasi militer, yang sekarang dinamakan “Korps Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.” 

Lokasi Xiaogan ini menjadi pusat geometris Tiongkok. Mengangkut pasukan ke ke mana pun dengan pesawat, sehingga bala bantuan bisa cepat dilakukan saat dibutuhkan.

Shiyan adalah pusat komando semasa perang, sedangkan Xiaogan adalah pangkalan angkatan udara. Jika epidemi di luar kendali di dua tempat ini, tanggap darurat militer Tiongkok akan menurun drastis, yang tentu saja akan membuat tegang otoritas Beijing. (Johny/ rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular