Ntdtv.com- Pada 23 Juni lalu, pejabat dari Biro Kereta Api Beijing menyatakan pada konferensi pers, bahwa mereka akan lebih ketat mengatur personel yang meninggalkan kota. 

Sejak 30 Mei, orang-orang yang pernah keluar masuk pasar grosir Xinfadi, atau mereka yang telah melakukan kontak dekat dengan pekerja di pasar terkait, serta orang-orang dari desa-desa dan kota-kota yang berisiko menengah, dilarang meninggalkan Beijing.

Lainnya dilarang meninggalkan Beijing jika tidak ada keperluan penting. Mereka yang benar-benar perlu meninggalkan Beijing harus memiliki bukti tes asam nukleat negatif dalam 7 hari, jika tidak, dilarang naik kereta. 

Saat ini, Stasiun Kereta Api Beijing mengurangi operasional kereta sekitar 50 hingga 60 pasang-PP per hari, dan rata-rata arus penumpang harian telah turun secara signifikan.

Seorang warga Beijing bermarga Jiang mengatakan: “Ya, anda dilarang meninggalkan Beijing jika tidak bisa menunjukkan bukti tes asam nukleat. Bukankah itu sama saja dengan penutupan kota. Pada dasarnya juga tidak ada kendaraan yang lalu lalang di jalan, terpaksa tetap di rumah bersama keluarga Anda. Kalau mau lockdown, yaa.. lockdown saja, tidak perlu kerja apa pun tahun ini, cukup bertahan hidup saja di rumah. Saya sudah tidak punya penghasilan sama sekali selama setengah tahun ini, dan sebentar lagi hidup bergantung pada uang pinjaman.”

Hingga tanggal  20 Juni, otoritas Beijing mengklaim telah melakukan tes asam nukleat terhadap 2,29 juta orang, dan akan terus memperluas tes asam nukleat pada tiga kriteria orang. Nyonya Wang, sumber yang mengetahui hal itu memaparkan situasi di Distrik Fengtai, tempat Pasar Grosir Xinfadi berada.

“Semua orang di Distrik Fengtai harus menjalani tes virus. Banyak orang di pasar Xinfadi perlu dikarantina. Biaya karantina adalah 8.000 yuan atau sekitar Rp. 16 juta per orang dan ditanggung sendiri. Waktu karantina adalah 14 hari. Sekarang harga sayur mayur, seperti mentimun dulu harganya 1.5 yuan atau sekitar Rp. 3.000,- tetapi sekarang naik menjadi lima yuan/Rp. 10.000,- Harga sayuran tiga yuan lebih mahal daripada tahun-tahun sebelumnya,” kata Nyonya Wang. 

Wu Zunyou, kepala ahli epidemiologi dari Pusat Pengendalian Penyakit Partai Komunis Tiongkok, secara terbuka menyatakan pada 18 Juni 2020 lalu bahwa “epidemi di Beijing dalam kendali.” 

Namun, pada 21 Juni, jumlah daerah berisiko tinggi di Beijing meningkat menjadi 4 kasus, dan daerah berisiko menengah meningkat menjadi 37 kasus. 

Pada 22 Juni, kepala pencegahan dan pengendalian epidemi Beijing sekali lagi menekankan bahwa situasi epidemi di Beijing saat ini masih parah dan kompleks, dan pekerjaan pencegahan dan pengendalian masih pada titik paling kritis dan paling sulit.

Warga Beijing bermarga Yang mengatakan, “Sebenarnya sudah terkendali atau belum? Kita juga tidak tahu persis. Siaran di TV mengatakan sudah terkendali, tetapi beberapa ahli mengatakan harus tetap waspada. Di beberapa tempat tampaknya masih sangat parah. Ada komplek pemukiman warga yang ditutup lagi, dan tidak mengizinkan keluar masuk sesukanya. Tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan, intinya sekarang sangat menakutkan.”

Sementara itu, pejabat Partai Komunis Tiongkok terus menekan opini publik tentang epidemi. Pan Xuhong, wakil direktur Biro Keamanan Umum Beijing, mengatakan bahwa sejak merebaknya epidemi di Beijing pada 11 Juni lalu, kepolisian Beijing telah menyelidiki dan menangani 60 kasus desas-desus terkait epidemi, termasuk 1 pelaku tindak pidana dan 9 tahanan administratif.

“Kita semua dilarang keluar. Terkendali atau tidak, kami bahkan tidak dapat melihat gambaran lengkapnya. Mereka bilang desas-desus itu hanya rumor, benarkah begitu ? Bukankah itu sama dengan Wuhan? Pertama, peringatan hingga akhirnya tak terbendung lagi. Biarlah waktu yang membuktikan semua fakta itu,” kata Jiang.

Di saat kontrol yang semakin ketat terhadap warga masyarakat, keberadaan para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok juga agak ganjil dan misterius. Media partai melaporkan bahwa sebelum dan setelah pecahnya epidemi di Beijing pada 11 Juni 2020 silam, Xi Jinping hanya 2 kali menampakkan diri dalam konferensi video. Sementara Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang hanya muncul sekali di depan umum. 

Li Zhanshu, politikus Tiongkok, dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional saat ini dan Wang Yang politikus Tiongkok dan salah satu dari empat Wakil Perdana Menteri Tiongkok dalam Pemerintah Perdana Menteri Li Keqiang, muncul dalam pertemuan Kongres Rakyat Nasional sambil memakai masker. 

Wang Yang juga muncul sekali saat investigasi di Xinjiang. Sejak itu, tidak ada lagi kegiatan yang menampakkan diri mereka. 

Wang Huning, seorang ahli teori politik Tiongkok dan salah satu pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok, sekaligus anggota Komite Tetap Politbiro partai saat ini, hanya dua kali menampakkan diri dalam konferensi video. Sedangkan Han Zheng seorang politikus Tiongkok yang menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Dewan Negara dan anggota Komite Pendirian Politbiro Partai Komunis Tiongkok,  juga hanya muncul sekali.

Sementara itu, Zhao Leji pemimpin senior Partai Komunis Tiongkok dan Sekretaris Komisi Pusat untuk Inspeksi Disiplin, badan anti-korupsi utama partai, tidak memiliki laporan kegiatan pada bulan Juni ini. 

Menurut analis, ada 7 anggota senior Komite Tetap Biro Politik Pusat Partai Komunis Tiongkok yang mungkin telah meninggalkan Beijing untuk menghindari wabah. Hanya pada saat terpaksa mereka masing-masing kembali ke Beijing, dan menampakkan diri di depan umum. (Johny/rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular