- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Benarkah Xi Jinping Ingin Trump Terpilih Kembali Menjadi Presiden Amerika Serikat?

Epochtimes, oleh Yang Wei

Akankah Partai Demokrat melunakkan sikapnya terhadap komunis Tiongkok ?

Banyak kalangan berpendapat bahwa Pemimpin Tiongkok,  Xi Jinping seharusnya lebih berharap mantan wakil presiden Amerika Serikat, Joe Biden yang terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat periode mendatang, sehingga kebijakan Amerika Serikat terhadap komunis Tiongkok dapat melunak. 

Secara teori tampaknya itu mungkin. Karena dilihat dari pernyataan Biden sebelumnya, dia cenderung untuk menghindari pengungkapan sikap dirinya terhadap komunis Tiongkok.

Namun situasi sekarang telah berubah, akibat komunis Tiongkok menutupi fakta tentang epidemi. Wabah yang menyebabkan lebih dari 120.000 orang Amerika Serikat meninggal dunia, dan semakin banyak warga Amerika Serikat membenci komunis Tiongkok. 

Karena itu Biden juga terpaksa bersikap keras terhadap komunis Tiongkok. Bahkan Partai Demokrat pun menunjukkan sikap kerasnya yang melebihi Partai Republik. Mayoritas kursi di Kongres Amerika Serikat ditempati oleh anggota dari Partai Demokrat. Mereka telah berhasil meloloskan Rancangan Undang Undang Hak Asasi Manusia / RUU HAM untuk Hongkong, Xinjiang, dan Tibet. Sebaliknya, Partai Demokrat-lah yang mendesak Trump agar bersikap lebih keras dalam menghadapi komunis Tiongkok. Ini adalah ‘kebenaran politik’ khas Partai Demokrat.

‘Kebenaran politik’ ini tidak diragukan lagi masih akan terus berlanjut. Epidemi di Amerika Serikat belum sepenuhnya berlalu. Jumlah kasus terinfeksi dan kematian masih meningkat, dan tingkat antipati warga Amerika terhadap komunis Tiongkok masih meningkat. 

Di luar Amerika Serikat, tidak hanya negara-negara Eropa, G7, dan G11 yang mulai mengekspresikan sikap menentang hegemoni komunis Tiongkok, tetapi semakin banyak negara bergabung dengan aliansi anti-komunis Tiongkok. 

Ini juga menjadi pendorong bagi Partai Demokrat untuk menunjukkan sikap keras terhadap komunis Tiongkok, dan mempertahankan ‘kebenaran politik’. Mundur dari sikap ini berarti mendatangkan bencana bagi Partai Demokrat.

Lalu bagaimana Joe Biden menghadapi komunis Tiongkok ?

Setelah komunis Tiongkok menutupi fakta epidemi yang terjadi di Tiongkok, serangkaian tindakan bodoh, penolakan, dan konfrontasi dengan kata-kata dan perbuatan telah menyebabkan komunis Tiongkok tidak memiliki jalan mundur dan tidak memiliki “kartu” untuk dimainkan. Jika Biden terpilih, meskipun jika ia ingin berdamai secara pribadi dengan Beijing, Biden tidak akan mendapatkan konsesi substansial dari komunis Tiongkok.

Apalagi Biden juga tidak mungkin membuat konsesi sepihak, seperti membatalkan tarif, menarik perjanjian perdagangan, menarik pasukan dari Samudera Pasifik, memberikan rantai pulau pertama kepada Partai Komunis Tiongkok, dan membiarkan komunis Tiongkok yang menguasai Laut Tiongkok Selatan serta melecehkan Taiwan. Jika komunis Tiongkok merusak perjanjian perdagangan, Biden tidak mungkin menunjukkan sikap yang lemah.

Bahkan jika Obama yang kembali terpilih, ia juga tidak akan melakukannya. Dalam hal perdagangan internasional, ketika itu Obama mendirikan “dapur” sendiri dengan membentuk Trans-Pacific Partnership di luar WTO, dengan maksud menahan komunis Tiongkok di luar perjanjian. 

Ini tidak ada bedanya dengan decoupling ekonomi meskipun disamarkan, hanya saja tidak menggunakan metode Trump dan tidak langsung anti-komunis Tiongkok. Trump lebih langsung dan memaksa rezim Beijing untuk memperbaiki kesalahan secara konfrontatif.

Obama tidak ingin berurusan langsung dengan komunis Tiongkok, juga tidak memiliki strategi yang memadai. Meskipun ia juga tidak menunjukkan sikap segan terhadap komunis Tiongkok. Obama ingin melalui jalan pintas ingin menghindari konfrontasi langsung dengan komunis Tiongkok, tetapi ia tidak mungkin dapat benar-benar menyelesaikan masalah yang timbul dari komunis Tiongkok. 

Obama juga tidak ingin berbicara langsung dengan Korea Utara, tetapi siap untuk berperang melawan Korea Utara. Ini adalah cara Partai Demokrat yang menunjukkan tidak adanya taktik mengatasi masalah.

Jika sikap Joe Biden secara pribadi dianggap lemah,  Partai Demokrat tidak akan membiarkannya bersikap demikian.  Xi Jinping yang mempertaruhkan Biden juga tidak akan memetik buah yang diharapkan. Terlebih lagi, begitu presiden dari Partai Demokrat berkuasa, Partai Republik sebagai oposisi akan menjadi pengawas, sehingga pihak Demokrat terpaksa bersikap keras meskipun setengah berpura-pura. Mereka harus menunjukkan ‘kebenaran politik’, yang mana membuat para pemimpin komunis Tiongkok kehilangan muka. Hal demikian dikhawatirkan akan mempermalukan para petinggi yang menghuni Zhongnanhai.

Lalu bagaimana Trump memperlakukan Xi Jinping ?

Selama perang dagang, Xi Jinping berulang kali mengingkari ucapannya dan menyembunyikan epidemi dan tidak mengatakan yang sebenarnya, sehingga Trump untuk sementara memutuskan  untuk menghentikan komunikasi langsung dengan Xi Jinping, meskipun tidak menutup seluruh peluang.

Jika komunis Tiongkok menarik kembali Undang Undang Keamanan Nasional versi Hongkong, maka Trump tidak akan membatalkan status khusus Hongkong. 

Jika komunis Tiongkok benar-benar menjalankan apa yang ditetapkan dalam perjanjian perdagangan, Trump akan mengurangi tarif. 

Jika komunis Tiongkok menghentikan provokasi militer, Trump tidak perlu lagi memperbesar kekuatan militernya, termasuk tidak akan mengirim 3 kapal induk lagi ke Samudera Pasifik Barat. 

Jika komunis Tiongkok mengambil inisiatif untuk membubarkan Partai Komunis Tiongkok dan bergerak menuju pemerintahan yang demokrasi, menjalankan ekonomi pasar, Trump pasti bersedia untuk bekerja sama dan memberikan bantu dengan murah hati.

Ini adalah interaksi peer-to-peer yang dijelaskan oleh Menteri Luar Negeri  Amerika Serikat, Mike Pompeo. Trump memiliki strategi yang jelas untuk menghadapi komunis Tiongkok.

Yang terpenting, Trump akan menjaga muka Xi Jinping. Sejauh ini, meskipun Trump berulang kali menyebut virus komunis Tiongkok, tetapi ia tidak menyerang pribadi Xi Jinping. Trump biasanya berbicara dengan jujur, tetapi ia tidak akan membuat malu Xi Jinping.

Xi Jinping pasti merasakan hal ini. Oleh karena itu media corong Partai Komunis Tiongkok menyerang Pompeo, tetapi tidak menyerang Trump. Tentu mereka masih berharap bahwa Trump akan terus menyelamatkan muka Xi Jinping yang cukup penting dalam  mempertahankan posisi Xi Jinping dalam Partai Komunis Tiongkok. 

Trump memperlakukan Xi Jinping sebagai lawan, tetapi di permukaan ia memperlakukan Xi Jinping secara bisnis, ia menyebut Xi Jinping adalah  teman. Xi Jinping juga memanfaatkan hubungan pribadi sebagai teman ini untuk menambah poin bagi dirinya dalam partai.

Lalu Apa yang Xi Jinping harapkan ?

Serangkaian kesalahan yang dibuat oleh Xi Jinping, atau dikatakan serangkaian tindakan jahat yang disebabkan oleh sifat Partai Komunis Tiongkok, menyebabkan kerusakan hubungan Tiongkok dengan Amerika Serikat, hubungan Tiongkok dengan Uni Eropa dan hubungan Tiongkok dengan dunia internasional. Rantai pasokan ekspor Tiongkok menghadapi disintegrasi, dan kerugian ekonomi yang tidak dapat diperbaiki. Tidak ada orang yang bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan. Tak seorang pun yang mampu mempertahankan hubungan pribadi dengan Trump. Reputasi ini benar-benar dibutuhkan oleh Xi Jinping.

Dunia luar berspekulasi bahwa Biden mungkin memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Xi Jinping. Jika Biden benar-benar terpilih, tetapi karena ‘kebenaran politik’, dia mau tak mau perlu menjaga jarak dengan Xi Jinping. Mustahil untuk menunjukkan hubungan baik itu, apalagi menjaga muka Xi Jinping.

Biden yang sudah berusia lanjut tidak memiliki energi dan semangat sekuat Donald Trump dalam menghadapi serangan bertubi-tubi dari komunis Tiongkok. Biden kemungkinan akan meniru gaya kepemimpinan Obama, mendirikan “benteng” pengaman untuk melindungi dirinya. Menerapkan jurus seakan hendak decoupling dari Partai Komunis Tiongkok. Atau menyampaikan sikap keras dalam menghadapi beberapa gesekan kecil, dan bahkan mungkin berperang dalam skala kecil. Meskipun tidak berdampak kerugian besar bagi komunis Tiongkok, tetapi reputasi diri yang diharapkan Xi Jinping tetap bisa terjaga tampaknya sulit untuk tidak menurun.

Bahkan jika Biden berkuasa, strategi Amerika Serikat terhadap Tiongkok tidak dapat kembali seperti dahulu. Persaingan dan konfrontasi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok akan menjadi norma. Amerika Serikat harus memastikan bahwa kedudukan Amerika   tidak dilemahkan oleh komunis Tiongkok. 

Pada saat yang sama, tidak dapat membiarkan komunis Tiongkok tumbuh lebih besar. Orang Amerika tidak akan mengizinkan komunis Tiongkok seenaknya mencuri rahasia teknis. Mereka juga tidak akan membiarkan komoditas Tiongkok masuk Amerika Serikat  secara besar-besaran, dan juga tidak akan membiarkan sejumlah besar dana mengalir ke daratan Tiongkok yang dikuasai oleh komunis. Kerjasama Amerika Serikat dengan Tiongkok yang diinginkan Beijing telah pupus selamanya.

Konfrontasi Amerika Serikat dengan komunis Tiongkok sudah bukan lagi perang antara Trump dengan komunis Tiongkok. Jika Trump terpilih kembali, apa yang kemungkinan besar akan dilakukannya adalah bagaimana tahap demi tahap melemahkan pengaruh kekuatan komunis Tiongkok, tetapi juga tidak benar-benar sampai menggiring ke medan peperangan. 

Trump pasti akan menyisakan sedikit ruang bagi para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok, sehingga memaksa mereka berubah jika masih hendak mempertahankan “nama baik”, atau memilih menghancurkan diri sendiri.

Para pemimpin puncak komunis Tiongkok sekarang sudah tidak lagi peduli dengan kerugian internasional dan penurunan ekonomi. Ini sudah tidak terubahkan lagi. Tidak ada lagi orang yang benar-benar peduli terhadap masa depan partai. Bagaimana melewati krisis yang sedang menghadang adalah prioritas utama. Apa yang diinginkan para pemimpin puncak komunis Tiongkok saat ini adalah bagaimana mempertahankan kekuasaan mereka yang sedang goyah. Senyuman atau sikap berbaik yang ditunjukkan oleh  Trump meskipun hanya sedikit, akan membawa kelegaan bagi para pemimpin puncak komunis Tiongkok.

Saat ini tidak seorangpun yang mampu mengubah tren konfrontasi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Kecuali   Trump yang tampaknya masih memiliki sedikit peluang. Setidaknya memungkinkan Partai Komunis Tiongkok menyelamatkan muka dan bernapas. Bahkan jika Partai Komunis Tiongkok kehilangan lebih banyak kepentingan rakyat Tiongkok, asal  bisa membuat  Trump agak melunak, mereka  tidak rugi.

Ini persis seperti prediksi orang di pasar saham Presiden. Jika Biden terpilih, pasar saham akan turun tajam, jika Trump terpilih, pasar saham akan terus meningkat. Trump pernah mengaku  tahu, beberapa orang tidak menyukai dirinya, tetapi mereka tidak punya pilihan yang lebih baik. (sin/rp) 

Video Rekomendasi