- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Dialog dengan Uni Eropa Gagal, Di mana Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Li Keqiang?

Epochtimes.com- Banyak  peristiwa menarik yang terjadi di dunia belakangan ini. Berita dari daratan Tiongkok dan dunia internasional lainnya yang menjadi perhatian dunia. Berikut ini beberapa peristiwa penting yang terjadi baru-baru ini. 

– Ilmuwan Amerika Serikat menemukan fakta bahwa strain virus jauh lebih menular daripada jenis virus sebelumnya. Infektivitasnya meningkat sekitar 9 kali lipat, dan mudah menyerang sel manusia. Sementara itu para peneliti Komunis Tiongkok mengatakan bahwa virus itu termasuk cabang evolusi virus Eropa. Namun, para ahli virologi Amerika menilai, pernyataan Komunis Tiongkok itu merupakan bentuk melempar tanggungjawab.

– Amerika Serikat mengumumkan pada tanggal 23 Juni lalu, bahwa mereka akan memperlakukan empat media utama Komunis Tiongkok sebagai “misi asing”. Media itu seperti CCTV, China News Service, People’s Daily / Harian Rakyat dan Global Times. Media itu akan dibatasi operasinya di Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Federal Communications Commission / Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat juga menolak permohonan untuk siaran lintas-batas dari “Phoenix U Radio” dibawah bendera Phoenix Television, dan memerintahkan agar menghentikan program siaran ke Amerika Serikat dalam waktu 48 jam.

– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah menandatangani perintah administratif untuk menangguhkan penerbitan visa kerja sebelum akhir tahun ini. Pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa pembatasan visa  akan menyediakan setidaknya 500.000 pekerjaan di Amerika Serikat.

– Hujan deras telah mengakibatkan penutupan jalan bebas hambatan di sejumlah provinsi daratan Tiongkok. Pada 23 Juni lalu, lebih dari 40.000 warga terkena dampak dari luapan banjir Qijiang atau sungai Qi di Chongqing. Pihak berwenang setempat segera mengevakuasi lebih dari 100.000 orang. Lebih dari 29.000 orang diantaranya ditempatkan secara terpisah.

Nah, selain berita-berita menarik di atas, ada berita menarik yang menjadi fokus berita hari ini.  Ada dua topik utama hari ini. 

Pertama, terkait dengan keberadaan petinggi elit Partai Komunis Tiongkok selama terjadinya epidemi virus di Tiongkok. Di mana para pucuk pimpinan Komunis Tiongkok? Apakah telah menyelamatkan diri dari Beijing?

Berita kedua adalah Uni Eropa secara langka telah mengeluarkan empat peringatan utama kepada Komunis Tiongkok. 

Di mana Pemimpin Pemerintahan TIongkok dan Jajaran Elite Partai Komunis Tiongkok Lainnya?

Pada 22 Juni lalu, Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang (Baca: Li Khe Qiang) hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi/ KTT Tiongkok dengan Uni Eropa melalui video. Tetapi dunia luar curiga dengan keberadaan mereka. Apakah masih di Beijing?

Kita akan menganalisa sejenak kemunculan tujuh tokoh utama baru-baru ini satu per satu. Melalui keberadaan mereka, kita akan menganalisa situasi epidemi di Beijing.

Pada 2 Juni sebelum ledakan epidemi di Beijing, Xi Jinping menjadi tuan rumah simposium para ahli dan cendekiawan di Beijing dan menyampaikan pidato. Kemudian dari tanggal 8 Juni hingga 10 Juni, Xi Jinping mengunjungi Ningxia. Dengan kata lain, Xi Jinping telah meninggalkan Beijing pada 7 Juni 2020.

Selanjutnya, terjadi ledakan wabah di Beijing pada 11 Juni lalu. Sementara pada 10 Juni, Xi hanya 2 kali muncul dalam konferensi video. Selain KTT Tiongkok dengan Eropa, juga ada KTT video memerangi pandemi bersama antara Tiongkok dengan Afrika pada tanggal 17 Juni. Pada saat itu Wang Huning juga hadir. Sekadar info, Wang Huning adalah seorang ahli teori politik Tiongkok dan salah satu pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok, sekaligus anggota Komite Tetap Politbiro partai saat ini dan sekretaris tingkat pertama sekretariat partai.

Namun dua kehadiran dalam video itu bukan kemunculan publik. Adapun laporan lain tentang Xi Jinping, pada dasarnya melalui sambungan telepon, mengeluarkan perintah atau pidato tertulis dan sebagainya.

Sementara itu, Li Keqiang hanya satu kali muncul di depan publik selama periode itu, yaitu, pada 15 Juni, saat hadir dalam upacara pembukaan Canton Fair ke-127 di Beijing. Ini adalah satu-satunya kemunculan Li Keqiang di depan publik.

Adapun menurut laporan CCTV, Li Keqiang memimpin pertemuan Komite Tetap Biro Politik Pusat Partai Komunis Tiongkok pada 17 Juni. CCTV tidak menampilkan gambar tempat, hanya berupa teks. Kemungkinan pertemuan diadakan dalam bentuk video. Pada 22 Juni, Li Keqiang menghadiri KTT Tiongkok dengan Uni Eropa  juga dalam bentuk video.

Sebelum pecahnya wabah di Beijing pada pertengahan Juni 2020, Li Keqiang mengadakan kunjungan mendadak di Shandong pada tanggal 1 dan 2 Juni. Kemudian mengadakan rapat kerja terkait epidemi pada tanggal 4 Juni. Saat itu CCTV juga tidak menampilkan gambar dalam pertemuan itu, hanya berupa teks, mungkin juga merupakan konferensi video. Pada Global Vaccine Summit malam itu, Li Keqiang juga hadir melalui video.

Dalam pertemuan Komite Tetap Biro Politik Pusat Partai Komunis Tiongkok pada 9 Juni, juga hanya berupa teks. Pertemuan Li Keqiang  dengan Kanselir Jerman Angela Merkel pada tanggal 11 Juni juga dalam bentuk video.

[1]
Keterangan foto: Setelah Kongres Rakyat Nasional ke-19 Partai Komunis Tiongkok, anggota komite tetap yang menjadi fokus perhatian dunia luar akhirnya muncul juga di depan publik. (Getty Images)

Li Zhanshu, politikus Tiongkok, dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional saat ini, kepala badan legislatif terkemuka Tiongkok, menjadi tuan rumah pertemuan ke-19 Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional selama empat hari berturut-turut dari tanggal 19 hingga 21 Juni 2020. Tetapi dia tidak menyampaikan pidato. Li Zhanshu memakai masker ketika itu.

Sebelum pecahnya epidemi, Li Zhanshu hanya dua kali muncul di depan publik, masing-masing pada tanggal 1 dan 9 Juni, yakni saat pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional ke 58 dan 59.

Sementara itu, Wang Yang, politikus Tiongkok dan salah satu dari empat Wakil Perdana Menteri Tiongkok dalam Pemerintah Perdana Menteri Li Keqiang menghadiri pertemuan dalam pembukaan Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok kedua belas pada 22 Juni lalu. 

Pada tanggal 19 Juni, Wang Yang menjadi tuan rumah forum konsultasi ke 37 di Beijing. Dalam dua pertemuan itu, Wang Yang memakai masker dan tidak menyampaikan pidato. Kemudian, dari tanggal  8 hingga 12 Juni 2020, Wang Yang mengadakan survey di Xinjiang.

Sebelum pecahnya wabah, Wang Yang dua kali muncul di Beijing, yakni saat memimpin dua pertemuan Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok masing-masing pada tanggal 5 dan 8 Juni 2020.

Selanjutnya adalah Wang Huning yang dijuluki “Kaisar Tiga Dinasti”, dan “Setan Negeri/ bermuka dua/ pengkhianat”, sangat jarang muncul di depan publik. Selain mendampingi Xi Jinping di KTT video memerangi pandemi bersama Tiongkok dengan Afrika, Wang Huning juga hadir dalam rapat kerja terkait epidemi yang dipimpin Li Keqiang pada tanggal 4 Juni 2020.

Pasca ledakan wabah di Beijing, tujuh pucuk pimpinan Partai Komunis Tiongkok jarang muncul di depan publik

Dari laporan media resmi Partai Komunis Tiongkok, dapat dilihat bahwa pasca ledakan wabah di Beijing, tujuh pucuk pimpinan Partai Komunis Tiongkok sangat jarang muncul di depan publik. Jadi sekarang seharusnya bisa membuat penilaian.

Komentator peristiwa terkini, Zhong Yuan mengatakan dalam artikelnya di media the Epoch Times Amerika Serikat, bahwa Xi Jinping mungkin tidak berada di Beijing, begitu juga dengan Li Keqiang mungkin tidak berada di Beijing saat itu. Karena hadir dalam konferensi video tidak dapat menjelaskan apa pun.

Li Zhanshu dan Wang Yang mungkin juga tidak berada di Beijing. Mereka mungkin telah meninggalkan Beijing, menghindari wabah di Beijing. Akan tetapi Kongres Rakyat Nasional dan Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) mengadakan pertemuan dan mereka harus sementara mengenakan topeng ke tempat kejadian. Wang Huning, Zhao Leji dan Han Zheng mungkin tidak berada di Beijing sekarang.

Dengan kata lain, tujuh raksasa Partai Komunis Tiongkok mungkin telah meninggalkan Beijing untuk melarikan diri dari wabah itu. Hanya pada saat terpaksa, mereka baru kembali ke Beijing, tampil di depan publik.

Menurut Zhong Yuan, lokasi pasti para pucuk pimpinan Partai Komunis Tiongkok tidak diketahui, mungkin di suatu tempat di sekitar Beijing, atau tersebar di berbagai tempat lain. Namun, pihak berwenang jelas tidak berani mengumumkan secara terbuka, jika tidak, akan terjadi kasak-kusuk di masyarakat, apalagi di internal Partai Komunis Tiongkok, mungkin akan semakin bergolak. Sejumlah besar polisi bersenjata di Beijing dapat membuktikan kekhawatiran tersebut.

Jika tujuh pucuk pimpinan itu benar-benar keluar dari sarangnya, dari markas pemerintah, maka Beijing sekarang sedang menggunakan “Strategi Empty Fort” yakni strategi yang melibatkan penggunaan psikologi terbalik untuk menipu musuh agar berpikir bahwa lokasi kosong penuh dengan jebakan.

Oleh karena itu, mungkin pihak berwenang Beijing lebih berharap wabah epidemi cepat berlalu, karena jika terlalu lama “mengungsi di luar”, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga. Ibarat kertas tidak bisa membungkus api. Berrmakna sesuatu yang disembunyikan pasti akan tercium juga. Begitu kontradiksi itu diketahui, tidak tertutup kemungkinan akan terjadi kudeta yang berlangsung lancar. 

Lalu apakah memang demikian? Mari kita amati bersama-sama.

Dialog Xi Jinping, Li Keqiang dengan Uni Eropa membentur tembok alias gagal? Empat peringatan dari Uni Eropa

Mari kita kilas balik sejenak KTT Video Tiongkok dengan Eropa sebelumnya. Xi Jinping dan Li Keqiang mengadakan konferensi video dengan Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, namun tidak ada pernyataan bersama antara kedua pihak.

Ditilik dari berbagai sumber, pihak Uni Eropa kali ini menyatakan secara blak-blakan atas ketidakpuasan mereka terhadap Partai Komunis Tiongkok pada berbagai kesempatan selama beberapa tahun terakhir. 

Dua pimpinan tertinggi Partai Komunis Tiongkok yakni Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, dengan gembira ingin mencapai beberapa hasil dengan Uni Eropa. Namun Uni Eropa justeru memberikan empat peringatan.

“Simpul mati” yang tidak terurai, masing-masing dengan pandangannya sendiri-sendiri

Setelah konferensi video, Charles Michel dan Von der Leyen mengadakan konferensi pers bersama. Michel mengatakan bahwa dia berdiskusi dengan Tiongkok tentang situasi epidemi, hubungan ekonomi dan perdagangan serta masalah Hong Kong dan topik lainnya. Menurutnya  pihak Eropa menyatakan “keprihatinan mendalam” tentang Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong, dan meminta Tiongkok untuk menjamin kebebasan dan otonomi Hong Kong.

Sementara itu, Von der Leyen mengatakan bahwa kedua pihak “perlu bergerak maju” dalam masalah perdagangan, lingkungan, dan hak asasi manusia. Menurutnya masalah hak asasi manusia “tidak dapat dikompromikan”. Von der Leyen dengan jelas mengatakan kepada Xi Jinping bahwa Undang Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong akan memiliki “konsekuensi yang sangat negatif” bagi Hong Kong.

Mengenai masalah perdagangan, Uni Eropa menekankan pentingnya akses pasar yang adil, menolak transfer teknologi secara paksa, dan mencegah kelebihan kapasitas, tetapi “tidak ada kemajuan yang dicapai.”

Menurut laporan CCTV, pihak Tiongkok telah menekankan “kerja sama”. Li Keqiang mengklaim  bahwa Tiongkok dan Eropa adalah mitra strategis dan komprehensif. Kerja sama antara kedua belah pihak jauh lebih besar daripada kompetisi, dan konsensus jauh lebih penting daripada perbedaan.

KTT Tiongkok dengan Uni Eropa dinilai penting bagi Komunis Tiongkok, tetapi tidak melihat substansinya, mungkin ini menandakan pembicaraan berlangsung tidak menyenangkan. Pendekatan klasik Komunis Tiongkok adalah  selama pihak lain memiliki kritik yang substansial, Komunis Tiongkok akan mempromosikan kerja sama antara kedua pihak.

Namun, tidak peduli bagaimana Tiongkok menyembunyikan faktanya, tetap saja ada informasi yang mengatakan, bahwa Uni Eropa telah menyatakan ketidakpuasan dan kritiknya terhadap Komunis Tiongkok pada berbagai kesempatan selama beberapa tahun terakhir.

Sebenarnya, sebelum KTT Tiongkok dengan Uni Eropa, beberapa pejabat senior Uni Eropa telah menyatakan bahwa Tiongkok dan Eropa adalah “pesaing institusional.”

Persaingan kelembagaan adalah kontradiksi mendasar dari ideologi, dan tidak ada rekonsiliasi antara demokrasi liberal dan tirani. Dengan kata lain, ada “simpul mati” yang tidak teruraikan antara Uni Eropa dan Komunis Tiongkok. Dalam kondisi ini, Tiongkok dan Eropa melakukan pembicaraan lewat video.

Dapat dibayangkan, tidak peduli bagaimana mencari titik temu dalam perbedaan, kontradiksinya juga sangat jelas. Lagipula, dari informasi yang diungkapkan oleh Uni Eropa, pertemuan antara kedua belah pihak bukan hanya berlangsung tidak menyenangkan, tetapi juga relatif kaku.

Singkatnya, Uni Eropa telah mengeluarkan empat peringatan kepada Komunis Tiongkok.

Peringatan 1 : perdagangan dan investasi Tiongkok dengan Uni Eropa masih tidak seimbang.

Setelah pertemuan itu, Presiden Dewan Eropa, Charles Michel menyatakan bahwa untuk menyeimbangkan kembali hubungan ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dengan Uni Eropa, diperlukan kemajuan di banyak bidang. Michel mengambil contoh dari serangkaian masalah yang belum terpecahkan, termasuk akses pasar, subsidi pemerintah, transfer teknologi paksa, masalah regulasi, dan reformasi WTO.

Dari pernyataan Michel, ada ketidakseimbangan sistematis dalam perdagangan Tiongkok dengan Uni Eropa.

“Kami perlu menyelesaikan masalahnya secara konkrit,” kata Michel. 

Sementara itu, Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen dengan blak-blakan menyatakan bahwa “perdagangan dan investasi masih tidak seimbang” antara Tiongkok dan Eropa.

 “Dibutuhkan tindakan nyata atas komitmen Tiongkok ini,” kata Von der Leyen.

Ditilik dari pernyataan-pernyataan itu, sikap Uni Eropa kali ini dengan sebelumnya jauh lebih keras meminta Beijing untuk melakukan perubahan. Sebuah peringatan dikeluarkan secara langsung kepada Beijing bahwa masalah ketidakseimbangan perdagangan harus diselesaikan. 

Meskipun Uni Eropa tidak mengatakan tindakan selanjutnya jika ketidakseimbangan perdagangan itu tidak terpecahkan, tetapi jelas bahwa sikap Uni Eropa telah menunjukkan situasi yang tidak adil tak bisa ditolerir lagi dan bahkan sama dengan kejahatan serius.

Peringatan 2: Pelanggaran terhadap hak kekayaan intelektual ditangani sebagai “penjahat nomor satu”

Dalam serangkaian ketidakseimbangan perdagangan, Komunis Tiongkok melanggar hak kekayaan intelektual Uni Eropa. Kondisi ini telah lama berlangsung dan sangat serius. Uni Eropa menganggap perilaku  Komunis Tiongkok seperti itu sebagai kejahatan.

Dalam “Laporan tentang Perlindungan dan Penegakan Hak Kekayaan Intelektual di Negara Ketiga” yang dirilis pada Januari 2020, Uni Eropa dengan jelas menyatakan bahwa  Komunis Tiongkok adalah “Pelanggar Utama” yang melanggar hak kekayaan intelektual Uni Eropa.

Dalam laporan tersebut,  Komunis Tiongkok adalah satu-satunya negara yang ditandai dengan “Prioritas Pertama” sebagai perhatian utama Uni Eropa. Itu menunjukkan bahwa “dalam hal nilai dan kuantitas, Tiongkok adalah sumber utama pengiriman barang palsu dan bajakan ke Uni Eropa.” 

Di antara barang palsu dan bajakan yang disita oleh bea cukai Uni Eropa, lebih dari 80% berasal dari daratan Tiongkok dan Hong Kong. Termasuk obat-obatan dan mainan palsu, itu berpotensi menimbulkan risiko bagi konsumen.

Uni Eropa telah memasukkan tindakan-tindakan  Komunis Tiongkok itu sebagai “penjahat nomor satu”. Dapat dibayangkan bahwa dalam perdagangan Tiongkok dengan Uni Eropa di masa depan, Uni Eropa kemungkinan akan menjatuhkan sanksi terhadap  Komunis Tiongkok.

Amerika Serikat telah menerapkan serangkaian sanksi terhadap pelanggaran hak kekayaan intelektual oleh  Komunis Tiongkok. Ini termasuk penangkapan para ahli dan cendekiawan yang berpartisipasi dalam Program Seribu Talenta  Komunis Tiongkok, dan mendeportasi ribuan mahasiswa asing yang dicurigai sebagai mata-mata dengan latar belakang militer  Komunis Tiongkok.

Lalu, tindakan apa yang akan diambil Uni Eropa di masa depan? 

Uni Eropa belum menyatakan. Tetapi tetap memasukkan  Komunis Tiongkok sebagai penjahat nomor satu, dan mengarah langsung kepada dua tokoh utamanya sebagai “Penjahat nomor satu.” Diyakini Uni Eropa tidak akan bersikap lunak di masa mendatang.

Peringatan 3: Hak asasi manusia tidak bisa diabaikan

Masalah hak asasi manusia adalah peringatan ketiga yang dikeluarkan oleh Uni Eropa untuk Beijing. 

“Bagi Uni Eropa, hak asasi manusia dan kebebasan mendasar tidak dapat dinegosiasikan,” kata Von der Leyen. 

Nada bicara dari pernyataan Von der Leyen ini terdengar sangat keras. Di masa lalu, ketika Uni Eropa bernegosiasi dengan  Komunis Tiongkok, kadang-kadang juga menyinggung masalah hak asasi manusia Tiongkok, tetapi  Komunis Tiongkok justeru menghubungkan hak asasi manusia dengan perdagangan. Jika Anda berbicara tentang hak asasi manusia, hal ini akan berdampak pada perdagangan Tiongkok dengan Uni Eropa. Ini adalah titik lemah Uni Eropa di masa lalu, dan selalu terpukul oleh perdagangan Partai Komunis Tiongkok.

Tetapi sikap Uni Eropa kali ini tidak perlu diragukan lagi, tidak ada ruang untuk negosiasi. Ketidakseimbangan perdagangan tidak hanya harus berubah, tetapi situasi hak asasi manusia di Tiongkok juga harus berubah.

Pernyataan Uni Eropa menunjukkan bahwa mereka juga menyatakan keprihatinan tentang situasi hak asasi manusia di Xinjiang dan Tibet. Kedua poin ini memang sudah diduga dunia luar, dan satu poin lagi di luar dugaan dunia luar. Uni Eropa secara khusus menyinggung kasus individual.

Uni Eropa menyebut tiga orang, masing-masing adalah dua warga negara Kanada yang ditahan oleh Partai Komunis Tiongkok, bernama Michael Kovrig dan Michael Spavor. Satu orang lagi, warga negara Swedia, bernama Gui Minhai yang dijatuhi hukuman oleh Partai Komunis Tiongkok.

Masalah warga Swedia, Gui Minhai sebenarnya telah beberapa kali disinggung oleh Uni Eropa. Namun, Uni Eropa dinilai sangat lemah campur tangan dalam urusan Tiongkok dengan Kanada. Dari sini dapat dilihat bahwa Uni Eropa kali ini tidak akan lagi terikat oleh kepentingan, hanya setuju saja pada Komunis Tiongkok. Uni Eropa yang sekarang tampaknya memiliki keberanian untuk berbicara tentang kebenaran, berani mengkritik dan bersinggungan dengan Komunis Tiongkok.

Peringatan 4: Akan ada “konsekuensi serius” jika Undang Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong dipaksakan.

Uni Eropa berani mengatakan kebenaran dan berani mengkritik Partai Komunis Tiongkok. Satu lagi manifestasi yang lebih jelas adalah masalah Hong Kong, peringatan Uni Eropa bisa dikatakan cukup keras.

Michel dan Von der Leyen mengatakan kepada Xi Jinping dan Li Keqiang bahwa “Undang-Undang Keamanan Nasional” versi Hong Kong yang sedang digodok akan membahayakan status Hong Kong sebagai pusat keuangan global. Meminta Tiongkok untuk memenuhi komitmen “otonomi tingkat tinggi dan menjamin kebebasan” rakyat Hong Kong dan masyarakat internasional.

Sebuah sumber mengatakan kepada “South China Morning Post” bahwa Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis Tiongkok akan mengadakan pertemuan tambahan dari tanggal 28 hingga 30 Juni, saat itu akan dilakukan voting terkait “Undang undang Keamanan Nasional versi Hong Kong.” 

Sumber itu mengatakan bahwa pihak berwenang Beijing berharap “Undang Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong” akan disahkan dan berlaku sesegera mungkin. Ia berharap dapat menghemat waktu untuk diskusi terbuka dan mengurangi perselisihan tentang hukum.

Laporan itu juga mengatakan bahwa dalam satu minggu ke depan, Komunis Tiongkok akan mengirim pejabat untuk mengadakan beberapa seminar tentang “Undang-undang Keamanan Nasional versi Hong Kong.”

Tampaknya Partai Komunis Tiongkok tidak sabar lagi untuk memaksakan dan memberlakukan “Undang-undang keamanan nasional versi Hong Kong”. Dalam hal ini, peringatan Uni Eropa juga cukup keras.

“Kami ingin menyampaikan kepada mereka bahwa jika Partai Komunis Tiongkok tetap memaksakan undang-undang ini, maka mereka akan menghadapi konsekuensi yang sangat negatif. Uni Eropa mengadakan kontak dengan Kelompok G7 tentang masalah ini. Kami telah dengan jelas menyatakan posisi kami kepada para pemimpin Tiongkok  dan mendesak mereka untuk mempertimbangkan kembali,” kata Von der Leyen. 

Von der Leyen tidak mengungkapkan apa konsekuensi seriusnya, tetapi dalam hubungan diplomatik internasional, pemimpin Uni Eropa yang mewakili 27 negara anggota Uni Eropa tidak mungkin berbicara sembarangan, setiap kata yang mereka katakan itu berbobot.

Dengan kata lain, Uni Eropa kemungkinan memiliki rencana terlebih dahulu, atau sedang menyiapkan rencana sanksi terhadap Komunis Tiongkok. Uni Eropa secara langsung memperingatkan dua tokoh utama Beijing yakni Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang, akan konsekuensi seriusnya, jelas ini adalah satu peringatan. Itu merujuk pada sebuah kalimat yang sering digunakan oleh Partai Komunis Tiongkok, yakni  “Don’t say we didn’t warn you” / Jangan bilang kami tidak memperingatkan Anda.”

Sebelumnya pada Jumat tanggal 19 Juni lalu, Parlemen Eropa meloloskan sebuah resolusi dengan perbandingan suara 565: 34 suara. Meminta Uni Eropa dan semua negara anggota harus mempertimbangkan untuk membawa Komunis Tiongkok ke Mahkamah Internasional jika  Beijing menerapkan Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong.

Hubungan Uni Eropa dengan Tiongkok “Mundur tanpa kemajuan”, Dunia membentuk front anti-komunis. 

Dibawah serangan wabah virus Komunis Tiongkok yang umumnya dikenal sebagai virus virus corona, covid-19, KTT video sekarang seperti konsultasi langsung. Para pemimpin Uni Eropa mengeluarkan empat peringatan langsung kepada para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok. Itu adalah sikap Uni Eropa yang tidak pernah terjadi sebelumnya di masa lalu. Karena itu, situasi ini jelas tidak terduga oleh Beijing sebelum pertemuan.

Adapun tindakan yang akan diambil oleh Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi kepada Komunis Tiongkok di masa depan, masih perlu kita pantau lebih lanjut. Namun peringatan secara langsung telah membuat otoritas Beijing melihat perubahan sikap Uni Eropa.

Lagipula, hubungan antara Eropa dan Tiongkok bukan tak terpisahkan, karena pertentangan ideologi yang mendasar, dan “simpul mati” yang tidak terurai. Jadi bagi Komunis Tiongkok, perubahan sikap Uni Eropa akan memberi banyak tekanan pada Komunis Tiongkok. Pasalnya  dalam hubungan Eropa dengan Tiongkok, itu seperti “perahu yang berlayar melawan arus,” yang artinya  jika tidak maju berarti mundur.

Sebelum KTT Tiongkok dengan Uni Eropa, Amerika Serikat telah mendesak Uni Eropa untuk “memperjuangkan demokrasi.” Diharapkan Amerika Serikat dan Eropa bersatu untuk menghadapi Komunis Tiongkok dalam mengatasi situasi epidemi dan agresivitasnya di bidang militer, ekonomi, dan hak asasi manusia.

Dalam laporan panjang di Majalah mingguan Jerman Der Spiegel, disebutkan arah perkembangan hubungan Uni Eropa dengan Tiongkok di masa depan. Artikel tersebut mengatakan bahwa diskusi Eropa tentang hubungannya dengan Tiongkok “mungkin merupakan tanda peringatan” kepada para pucuk pimpinan Partai Komunis Tiongkok, dan Uni Eropa mungkin akan mengambil jalur yang lebih keras terhadap partai Komunis Tiongkok.

Artikel itu mengatakan, bahwa karena upaya Komunis Tiongkok untuk memperluas lingkup pengaruhnya, telah mendorong banyak negara di dunia untuk membentuk sebuah front melawan Komunis Tiongkok. Saat ini, ada beberapa yang berselisih secara terbuka dengan Komunis Tiongkok, sementara lainnya tersembunyi. 

“Apa yang kita saksikan sekarang hanyalah awal dari serangan balik global,” sebut artikel itu. 

Hampir setengah tahun telah berlalu tahun ini. Dalam enam bulan terakhir, masyarakat di negeri Tiongkok menjalani kehidupan yang sulit. Setiap pergolakan apa pun mungkin dapat menyebabkan ketegangan.

Terus terang saja, rakyat Tiongkok telah tersiksa secara berulang, dan tidak sanggup lagi menahannya. Tapi sebelumnya telah kami sampaikan, selama Komunis Tiongkok tidak hancur, siksaan batin seperti itu juga tidak akan pernah berhenti.

Banyak orang Tionghoa perantauan menggunakan WeChat dan Weibo. Tentu saja, jika Anda ingin memahami perkembangan domestik, keinginan Anda itu memang baik. Tapi ada dua masalahnya, seperti yang kami katakan sebelumnya, berita yang disajikan Komunis Tiongkok itu berulang kali disaring. Dan begitu mendaftar di akunnya, anda akan dipantau oleh Komunis Tiongkok. 

The Epoch Times Amerika memperoleh beberapa dokumen internal dari Partai Komunis Tiongkok, yang  menyebutkan bahwa Komunis Tiongkok memonitor opini publik setiap hari, terutama di Sina Weibo.

Demikian informasi hari ini. Tetap ikuti berita selanjutnya di channel kami.  Terima kasih atas perhatian anda dan sampai jumpa. Salam.  

Johny / rp 

Video Rekomendasi