Epochtimes.com- Banjir melanda daratan Tiongkok. Warga Tiongkok mengungkapkan bahwa belum pernah terjadi banjir selama beberapa dekade, dikhawatirkan meningginya debit banjir tanpa peringatan.

Pada 27 Juni 2020 hujan deras membanjiri Kota Yichang, Provinsi Hubei. Warga khawatir bahwa banjir menyebabkan  permukaan air Sungai Yangtze naik dan sistem drainase kota tak berfungsi. 

Seorang warga, Mr Zhang, warga kota Yichang, mengatakan kepada wartawan bahwa setiap tahun turun hujan. Bahkan, hujan tahun ini tak lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Warga itu mengatakan semua warga merasa bahwa hujannya tak terlalu deras. Lalu bagaimana bisa banjir? warga menduga disebabkan oleh luapan dari debit air Bendungan Tiga Ngarai.  Permukaan airnya tinggi,debit air di sungai Yangtze juga tinggi. Dikarenakan Yichang berada di aliran Sungai Yangtze. Sedangkan air di drainase mungkin tidak dapat mengalir, tetapi semuanya hanya dugaan saja. “

Warga itu menunjukkan bahwa Yichang hanya berjarak 20 kilometer dari Bendungan Tiga Ngarai. Selain itu, merupakan stasiun aliran pertama di hilir Bendungan Tiga Ngarai. Dulu hujan banjir paling banyak hanya setinggi setengah meter. Kali ini tingginya lebih dari satu meter, benar-benar menakutkan. Warga itu berkata : “Kami tinggal di sini lebih dari 40 tahun, kali ini merupakan banjir yang terburuk. “

Dia mengatakan bahwa secara umum, pesan akan dikirimkan saat hujan badai. Akan tetapi kali ini warga tidak menerima peringatan, SMS atau pemberitahuan lainnya,sehingga banyak orang kewalahan.

Warga itu khawatir, “Jika pintu air dibuka, jangan terlalu cepat dibuka, harus ada pemberitahuan sebelumnya.” Namun demikian, unit terkait tidak memberitahukannya. Sehingga rakyat tidak memiliki persiapan. Ketika musim hujan baru saja berawal, lalu bagaimana terjadi selanjutnya  membuat warga mengkhawatirkan.

Truk Besar Terendam, Banjir Merendam hingga Lantai 2 Rumah Warga

Warga berinisial Zhang itu berkata bahwa dirinya tak bisa menyusuri jalanan dalam dua hari ini. Orang-orang memilih untuk tetap tinggal di rumah tak berani keluar. Bahkan Stasiun Kereta Api Yichang daerahnya yang lebih tinggi juga dilanda banjir. Daerah itu terletak puluhan kilometer dari sungai. Bahkan, lapangan di kawasan itu juga kebanjiran. Sehingga tak bisa dibayangkan bagaimana dengan daerah lainnya. 

Sementara orangtuanya Zhang, tinggal di daerah Gezhouba dan menderita sakit. Ia sempat menjenguk ibunya dengan segala perjuangannya menuju ke rumah ibunya.

Zhang mengatakan, ketika itu jalanan banjir. Sedangkan jalan utama di jalan penuh dengan air. Airnya meninggi sehingga mobil tidak bisa melewatinya. Bahkan semua truk besar juga terendam air. 

Ia juga menuturkan adiknya mencoba melewati banjir, tetapi ditengah jalan kembali lagi karena banjir terlalu dalam. Adiknya itu mengatakan banjir pasti berdampak pada harga barang. Dikarenakan supermarket ditutup karena banjir. Sehingga warga keselutian untuk membeli makanan.

Dia mengatakan bahwa beberapa orang memposting video di Internet dan kejadian itu benar semuanya. Mulai rumah yang rusak hingga mobil yang hanyut. Banyak orang tak bisa berangkat kerja.

Kejadian lainnya, ada orang yang jatuh ke kubangan air dan mobil-mobil yang terendam. Pada akhirnya rakyat hanya bisa menolong dirinya sendiri. Warga mengungkapkan, insiden itu terjadi di Kota Yichang. Kronologi kejadiannya, ketika Air menyapu pinggiran drainase, lalu jatuh. Tak diketahui apakah orang tersebut dapat menyelamatkan dirinya. 

Warga itu juga mengungkapkan : “Masih ada banyak tempat parkir bawah tanah terendam banjir. Tak diketahui apakah ada orang di dalam. Diperkirakan bahwa para pejabat tidak memiliki informasi dalam hal ini. hanya bisa menunggu sampai air surut baru bisa memeriksanya.”

Mr Zhang mengatakan bahwa para pejabat tidak mengeluarkan peringatan sebelumnya. Bahkan setelah banjir, juga tidak terlihat ada petugas yang keluar untuk menyelamatkan warga. 

Ia menuturkan : “Polisi bersenjata dan pasukan bantuan bencana yang sebenarnya tidak terlihat. Apa yang akan dilakukan rakyat? Saya tidak tahu, saya hanya bisa mengandalkan diri saya sendiri. Siapa yang peduli? “

Kisaran besar kerugian materil seperti mobil yang terendam juga sulit diperkirakan. Warga hanya bisa menyelamatkan diri sendiri. Menemukan seseorang untuk menariknya keluar dari rendaman air.  

Lebih parah lagi, tak tersedianya Fasilitas umum. Dikhawatirkan apakah akan ada lagi peringatan dini tentang banjir  ke depannya. 

Mr Tan, warga kota Yichang, percaya bahwa hujan deras menyoroti kurangnya fasilitas publik. Pasalnya, setelah hujan turun selama lima atau enam jam, sistem drainase tidak bisa mengalir sekaligus. Ditenggarai standarnya terlalu rendah, saluran itu  dibuat. Begitu air tiba dalam skala besar, air sudah tidak dapat lagi mengalir.”

Banjir juga menyebabkan terjadinya pemadaman listrik di beberapa tempat. Sedangkan, mobil-mobil yang terendam banjir tak diketahui pihak asuransi bersedia menggantinya. 

Pada pagi 28 Juni 2020, hujan lebat masih mengguyur.  Mr Zhang mengatakan tak berani keluar rumah. Begitu keluar, takut mobilnya terendam  dan tidak bisa meninggalkan mobil.”

Setelah banjir besar, Zhang khawatir bahwa debit air meninggi dari Bendungan Tiga Ngarai kembali lagi tanpa peringatan banjir. Dikarenakan, besarnya debit air sehingga membuat rakyat jelata tidak ada persiapan untuk menghadapinya. (Hui/asr)

Editor yang bertanggung jawab: Liu Yi

Video Rekomendasi

Share

Video Popular