Epochtimes, oleh Li Yan- Warga turun ke jalan menggelar demonstrasi secara besar-besaran di ibu kota Kashmir yang dikuasai Pakistan, Muzaffarabad Senin 6 Juli 2020. Kantor Berita Internasional Asia -ANI- melaporkan bahwa warga mengutuk pembangunan Azad Pattan Hydropower Project di Neelam-Jhelum dan Kohala Hydro yang ilegal oleh Komunis Tiongkok. Proyek itu dinilai  merusak lingkungan ekologi lokal.

Komunis Tiongkok mempromosikan inisiatif “Belt and Road” secara global, yang membawa jebakan utang ke negara-negara yang berpartisipasi. Inisiatif itu sering disertai dengan korupsi dan kerusakan lingkungan ekologis lokal. Oleh karena itu, penduduk lokal memprotesnya.

Pembangkit listrik tenaga air Neelam dan Jhelum dan pembangkit listrik tenaga air Kohala Hydro adalah proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan dianggap sebagai proyek utama dari inisiatif “Belt and Road”.

Dilaporkan dua pembangkit listrik tenaga air itu dikontrak untuk dibangun oleh konsorsium Grup Gezhouba dan China Machinery Engineering Corporation dan China Three Gorges Corporation. Proyek itu adalah pembangkit listrik tenaga air konstruksi Neelam dan Jhelum pada tahun 2008.  

Meski demikian, biaya proyek membengkak selama proses dan progresnya lambat. Proyek itu baru selesai pada Agustus 2018.  Proyek pembangkit listrik tenaga air  Kohala Hydro dikerjakan oleh China Three Gorges Corporation pada tahun 2015. Pada tahun 2018, proyek  memicu protes dari penduduk setempat dan berlanjut hingga hari ini.

Penduduk setempat menunjukkan bahwa jika pembangkit listrik tenaga air dioperasikan, itu akan mencegat 90% air Sungai Neelam, yang secara langsung akan mempengaruhi mata pencaharian 500.000 orang di Muzaffarabad dan menyebabkan suhu lokal naik.

Selain itu, para pengunjuk rasa juga mempertanyakan bahwa pembangunan pembangkit listrik tenaga air di Kashmir yang dikuasai Pakistan dan Komunis Tiongkok, tidak memiliki dasar hukum dan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

Dewan Keamanan PBB membuat Resolusi No. 47 pada tahun 1948, yang memungkinkan India dan Pakistan, yang bersaing untuk kedaulatan Kashmir. Bahkan mengadakan referendum di wilayah tersebut dan membiarkan penduduk setempat memutuskan masa depan wilayah yang disengketakan ini.

Seorang pengunjuk rasa menyerukan: “Kita harus bergerak menuju proyek Kohala dan terus melakukan protes di sana sampai proyek berhenti.”

Para pengunjuk rasa juga meluncurkan kampanye “#SaveRiversSaveAJK” di medsos, berharap bahwa dunia akan memperhatikan masalah mereka. (Hui/asr)

Editor yang bertanggung jawab: Lin Yan #

Video Rekomendasi

Share

Video Popular