- Erabaru - http://www.erabaru.net -

Ekonomi Sirkulasi Domestik Sulit Karena Pendapatan Mayoritas Penduduk Tiongkok Menurun

oleh Liu Yi

Sejak epidemi pneumonia Wuhan melanda daratan Tiongkok, lebih dari setengah penduduk Tiongkok mengalami penurunan penghasilan, sedangkan 70% dari mereka masih berkewajiban untuk membayar berbagai angsuran, seperti KPR, KPM dan lainnya. Dengan adanya kondisi seperti ini tampaknya pemerintah komunis Tiongkok hendak menggerakan pertumbuhan melalui ekonomi sirkulasi domestik bukan hal yang mudah.

Laporan survei tentang kekayaan penduduk Tiongkok pasca epidemi yang dipublikasikan oleh media ‘Tencent’ baru-baru ini menunjukkan, bahwa pendapatan penduduk daratan Tiongkok telah mengalami degradasi dalam berbagai tingkatan akibat terpengaruh oleh epidemi. Di mana penurunan pendapatan yang melebihi 50% dialami oleh 17.5% penduduk, penurunan pendapatan antara 20%~50% dialami oleh 15% penduduk dan penurunan pendapatan <20% dialami oleh 24.9% penduduk.

Penurunan penduduk yang berwiraswasta adalah yang paling besar, mereka ini kebanyakan bergerak di usaha makanan, pengecer dan berbagai jenis jasa. 

Sebanyak 78.2% responden di bidang ini mengaku terjadi penurunan pendapatan. Sedangkan 30% dari mereka mengalami penurunan pendapatan hingga lebih dari 50%.

Selain itu, sekitar 70% responden menanggung berbagai jenis angsuran pinjaman. Di antaranya, 42% responden memiliki angsuran KPR, 16,4% responden memiliki angsuran KPM, dan 26,8% responden memiliki berbagai pinjaman konsumen. 

Dalam hal usia, bagi mereka yang lahir pasca 1980 memiliki tekanan utang paling besar, 74% dari mereka terbeban angsuran hutang yang berarti bahwa pada kelompok usia ini ada 7 dari 10 orang memikul beban bayar angsuran hutang. Sebaliknya, para orang tua dari generasi pasca-1980-an ini memiliki tekanan utang paling kecil, hanya 45% dari para ortu ini yang terbeban bayar hutang.

Menurut laporan itu, 29,5% responden mengatakan bahwa setelah epidemi berlalu, mereka akan mengurangi konsumsi dan meningkatkan tabungan. Namun demikian, 52,9% responden percaya bahwa pengeluaran konsumen sulit untuk ditekan, tetapi sumber pendapatan itu yang perlu diperbesar.

Epidemi juga mengurangi selera risiko investasi masyarakat. Laporan tersebut menunjukkan bahwa 71,7% responden mengaku bahwa mereka akan menjadi lebih konservatif dalam memilih investasi dan mengendalikan keuangannya nanti setelah epidemi lewat.

Dalam hal ini, ‘Hongkong Economic Times’ berpendapat bahwa pendapatan penduduk daratan Tiongkok telah menurun dalam berbagai tingkatan, sekitar 20% penghasilan penduduk mengalami penurunan pendapatan sampai melebihi 50%. Lebih dari 40%-nya terbeban bayar angsuran kredit. Meningkatkan konsumsi dalam keadaan isi dompet menyusut bukan hal yang mudah tentunya. Jika lapangan kerja dan penghasilan penduduk masih belum membaik, maka dapat dipastikan ekonomi sirkulasi domestik tidak akan berfungsi.

Selain itu, daratan Tiongkok masih menghadapi tekanan dari lapangan kerja yang sangat terbatas. Banjir besar datang melanda wilayah Tiongkok selatan di saat epidemi belum sepenuhnya teratasi. 

Dalam situasi seperti ini jika komunis Tiongkok ingin menstabilkan ekonomi, ia pertama-tama harus menyelesaikan masalah lapangan kerja dan pendapatan penduduk. 

Ini adalah kesulitan besar yang perlu diatasi oleh para pemegang tampuk kekuasaan komunis Tiongkok, tanpa berhasil mengatasi masalah nafkah penduduk, akan sulit untuk mengharapkan adanya kenaikan daya beli masyarakat.

Baru-baru ini, pejabat komunis Tiongkok terutama Wakil Perdana Menteri Liu He dengan penuh semangat terus mempromosikan kebijakan ekonomi sirkulasi domestik. Tujuannya untuk mengatasi penurunan ekspor dan beralihnya kapasitas produksi ke luar daratan Tiongkok.

Menanggapi situasi tersebut, Wang Jian, seorang komentator senior mengatakan bahwa, jika seorang dokter memberitahu pasiennya untuk pulang ke rumah dan makan apa saja yang diinginkan, biasanya sebagai petanda dokter sudah angkat tangan terhadap penyakit pasiennya itu. Kira-kira ekonomi sirkulasi domestik memiliki arti yang tidak berbeda. Kita bisa melihat betapa berbahayanya ekonomi Tiongkok sekarang. Selain itu, bahkan jika sirkulasi domestik terbentuk, ekonomi Tiongkok tidak akan membaik, isi dompet rakyat tidak akan menebal, dan kekayaan masyarakat secara keseluruhan tidak akan meningkat.

Wang Jian mengatakan, Ekonomi Tiongkok itu melejit dan kekayaan sosial meningkat, itu sejak era Deng Xiaoping melaksanakan Reformasi Ekonomi, mulai mendapatkan uang orang asing sebelum kekayaan sosial mulai meningkat. Sejak RRT berdiri pada tahun 1949, negara tirai bambu itu telah ditutup dan dikurung selama bertahun-tahun. Rakyat dan negara Tiongkok sangat miskin. Hanya dengan membuka pintu gerbang untuk mendapatkan bisnis baru dapat memperoleh uang.

Komentator lain bernama Wen Xiaogang mengatakan, komunis Tiongkok mendorong ekonomi sirkulasi domestik itu, sebenarnya merupakan ekspresi gentar terhadap blokade internasional. Membuat rencana terburuk untuk menghadapinya. Sedangkan dapat dipastikan pendapatan masyarakat tidak dapat dinaikkan meski ekonomi sirkulasi domestik itu terlaksana. Rakyat tidak punya uang, tidak punya daya beli, sehingga tidak ada permintaan domestik, bagaimana roda sirkulasi domestik itu diputar ? (Sin/asr)

Video Rekomendasi :