Epochtimes, oleh Gu Xiaohua, Han Lu, dan Lin Cenxin- Curah hujan terbesar di Tiongkok mengguyur wilayah di Kabupaten Huangmei, Provinsi Hubei, Tiongkok pada tanggal 7 dan 8 Juli 2020. Pada 8 Juli pukul 4 pagi waktu setempat, tanah longsor tiba-tiba terjadi di 3 blok Desa Yuanshan, Kota Dahe, Kabupaten Huangmei. Akibatnya 5 rumah, dan 9 orang tewas terkubur. 

Warga desa Yuanshan mengatakan kepada reporter the Epoch Times, “Longsor terjadi antara pukul 3,4 pagi. Orang-orang tertimbun longsor dan belum ada yang ditemukan hingga sekarang.”

Sekeluarga di Desa Yuanshan terkubur longsor, termasuk seorang bocah usia 3 tahun

Menurut penuturan warga desa Yuanshan, saat itu, hujan sangat lebat, mengakibatkan tanah longsor disertai bebatuan, sampai-sampai seisi rumah hancur total. 5 keluarga dan 9 orang tertimbun longsor dan belum ditemukan, diduga sudah tewas terkubur hidup-hidup.

Ada sekitar 7 atau 8 mobil polisi menuju ke lokasi. Insiden yang terjadi dari jam 03.00 pagi hingga siang pukul 12.00, membuat penduduk desa sangat khawatir dengan para korban yang mungkin bernasib malang. Hampir tidak ada ruang untuk bernafas karena tertimbun tanah longsor.

Kerabat dari lima keluarga sudah berada di lokasi kejadian. 

“Satu keluarga yang terdiri dari empat anggota keluarga terkubur hidup-hidup, salah satunya seorang bocah yang baru berusia sekitar 3 tahun, menyedihkan. Sementara yang tertua berusia antara tahun 70, 80 tahun-an,” kata warga desa.

Warga desa itu mengatakan bahwa lokasi rumahnya dengan lereng bukit tempat kejadian itu hanya tersekat satu sungai, tetapi karena letaknya di gunung seberang, sehingga dirinya tidak bisa ke sana untuk membantu.

“Di desa kami di sini terkena banjir hingga setinggi pinggang dan tidak bisa ke sana untuk membantu. Setelah bencana itu, polisi meluncur ke lokasi kejadian sekitar jam pagi waktu setempat, sementara petugas pemadam kebakaran baru tiba sekitar jam 8, 9 pagi waktu setempat,” kata warga desa itu.

Lebih dari 40 penduduk desa lainnya telah dievakuasi ke sekolah-sekolah dasar terdekat. Beberapa warga desa yang belum dievakuasi masih menunggu sambil melihat situasi. 

“Mudah-mudahan hujan tidak akan terlalu deras hari ini,” kata warga desa

Sementara itu pada 8 Juli sekitar jam 7 pagi, Sekolah Menengah Umum Huaning di Kabupaten Huangmei juga tergenang banjir akibat hujan deras. Kedalaman air di dalam sekolah mencapai 1,6 meter. Sekitar 500 siswa yang akan ujian masuk perguruan tinggi di gedung asrama terjebak banjir, sehingga mau tidak mau, mereka naik sampan ke lokasi ujian.

Lantai pertama sejumlah toko di Kota Dahe tersapu banjir

Banyak daerah dataran rendah termasuk Kota Kabupaten Huangmei, Kota Dahe, Kotapraja Shanshan, dan Kota Caishan terendam banjir hingga ketinggian lebih dari satu meter. Tingkat air di sejumlah waduk di Kabupaten Huangmei melonjak, sehingga sangat dikhawatirkan dengan keselamatan penduduk setempat.

Mr. Yang, seorang warga yang tinggal di sekitar jalan utama Kota Dahe, mengatakan bahwa pada pukul 03.00 dini hari, lantai pertama rumah terendam lebih dari satu meter. Dia sekeluarga terpaksa pindah ke lantai dua.

Mr. Yang juga mendengar bahwa tanah longsor terjadi di Desa Yuanshan, mungkin akibat hujan terlalu lebat pada saat itu. Hujan lebat yang tiba-tiba itu juga menyebabkan Kota Dahe bagaikan samudera.

“Air bah itu turun dari tumpahan waduk, dan terjadi tiba-tiba di tengah malam. Jalan-jalan tergenang air, dan sekilas tampak seperti samudera. Dua mobil saya juga terendam banjir dan tidak bisa keluar,” kata Mr. Yang. 

Mr. Yang mengatakan pernah mengalami bencana akibat banjir dari luapan Waduk Yongan, Kabupaten Huangmei, Tiongkok pada Juli 2016 silam.

Pemilik apotek di sebuah jalan raya kota kabupaten setempat mengatakan, “Banjir besar setinggi pinggang itu tiba-tiba menerjang di tengah malam. Kasir di lantai pertama bahkan terbalik disapu banjir, dan semua barang-barang di toko terendam. Banjir datangnya terlalu tiba-tiba, sehingga tidak sempat untuk memindahkan barang-barang, hanya bisa menyaksikan dengan pasrah barang-barang saya ditelan banjir.”

Tanggul dan waduk di sejumlah kotapraja Kabupaten Huangmei berisiko ambruk

Warga Kotapraja Caishan dekat Danau Taibai di Kabupaten Huangmei mengatakan, bahwa beberapa daerah aliran sungai di sini mengandung risiko bahaya. Saat ini, jalan desa masih bisa dilewati, hanya saja jalan-jalan di dataran rendah terendam banjir.

“Di dekat utara, ada pelabuhan pribadi. Jika masih hujan hari ini, mungkin akan merusak tanggul. Kali ini curah hujan terlalu besar, sehingga terjadi genangan air,”  katanya.

Menurut warga desa Meishan, Kotapraja Shanshan, Kabupaten Huangmei, hujan deras  malam itu sampai jam 03.00 atau 04.00 pagi membanjiri banyak lahan pertanian di sekitarnya. 

“Sekilas tampak seperti sebidang samudera luas di sini, semua sawah-sawah terendam banjir. Jalan-jalan di dataran rendah tergenang banjir hingga lebih dari satu meter tingginya,” katanya. 

Info dari warga desa Meishan menyebutkan bahwa air di daerah pegunungan menumpuk di waduk terdekat. 

“Menjelang fajar. Kami berusaha menemukan cara untuk membuka waduk. Masing-masing warga melindungi diri mereka sendiri dan membiarkan banjir mengalir ke ladang. Sekarang banjir tampak dimana-mana, termasuk desa (Shanmu), dan tempat-tempat dataran rendah lainnya,” kata warga itu. 

Dia mengeaskan bahwa hal yang paling berbahaya sekarang adalah, jika reservoir atau waduk ambruk tersapu banjir, dan bendungan juga runtuh, itu pasti sangat berbahaya. 

Editor : Li Mu-en

Johny / rp 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular