Erabaru.net. Menteri  Perdagangan  Agus  Suparmanto  menekankan,  pelaku  usaha Indonesia  harus  dapat  memaksimalkan  manfaat  Perjanjian  Kemitraan  Komprehensif  Indonesia- Australia  (Indonesia  Australia  Comprehensive  Economic  Partnership  Agreement/IA-CEPA)  yang telah berlaku 5 Juli 2020.

Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat memberikan keterangan pers di Jakarta,  pada  Jumat   (10/7/2020).  Hadir  dalam  konferensi  pers  Wakil  Menteri  Perdagangan  Jerry Sambuaga,  Direktur  Jenderal  Perundingan  Perdagangan  InternasionaI  Iman  Pambagyo,  Ketua Umum  KADIN  Indonesia  Rosan  P.  Roeslani,  dan  Wakil  Ketua  Umum  KADIN  Indonesia  Shinta  W. Kamdani.

“IA-CEPA  sudah  berlaku  pada  5  Juli  2020.  Para  pelaku  usaha  dapat  memanfaatkan  cakupan  IA- CEPA yang komprehensif seperti penghapusan tarif bea masuk perdagangan barang, kesempatan yang  luas  di  perdagangan  jasa,  program-program  pengembangan  sumber  daya  manusia,  dan peluang  investasi  dari   kedua  negara.  Semuanya  ini  diharapkan  akan  membentuk  Indonesia sebagai “Economic Powerhouse” di kawasan,” jelas Mendag dalam siaran persnya.

Mendag   menyampaikan,   IA-CEPA   memiliki   cakupan   komitmen   yang   komprehensif   meliputi perdagangan  barang,  perdagangan  jasa,  penanaman  modal,  dan  kerja  sama  ekonomi.   Cakupan tersebut memberikan berbagai manfaat bagi perekonomian Indonesia.

Pertama,  akses  barang  dan  jasa.  Pada  perdagangan  barang,  IA-CEPA  memberikan  kemudahan dalam hal tarif bea masuk, Australia mengeliminasi 100 persen atau semua pos tarifnya (6,474 pos tarif)  menjadi  0  persen.  Sementara  Indonesia  mengeliminasi  94,6  persen  dari  seluruh  total  pos tarif. Sedangkan dalam perdagangan jasa, IA-CEPA memfasilitasi perpindahan orang perseorangan juga pengakuan atas jasa-jasa profesional Indonesia.

Kedua,  investasi  yang  bersifat  jangka  panjang.  IA-CEPA  juga  mendorong  masuknya  Investasi Australia  ke  Indonesia.  Saat  ini  tingkat  tabungan  di  dalam  negeri  tidak  mencukupi  kebutuhan untuk  investasi.  Indonesia  membutuhkan  investasi  dari  negara-negara  lain  dan  Australia  melalui IA-CEPA telah menunjukan keseriusannya untuk berinvestasi di Indonesia.

Ketiga,  pembangunan  sumber  daya  manusia  (SDM).  Melalui  IA-CEPA,  Indonesia  mendapatkan program-program  kerja  sama  ekonomi  yang  membawa  kapasitas  SDM  Indonesia  menjadi  lebih ahli, terampil, dan sesuai dengan kebutuhan industri. SDM yang unggul akan membuat ekononomi Indonesia kuat.

Keempat,   pembentukan   economic   powerhouse.   Konsep   economic   powerhouse   merupakan kolaborasi  antara  Indonesia-Australia  dengan  memanfaatkan  keunggulan  negara  masing-masing untuk menyasar  pasar  di  kawasan  atau  di  negara  ketiga. Seperti,  pada  industri  makanan  olahan berbahan dasar daging yang didatangkan dari Australia dan diolah di Indonesia untuk tujuan Timur Tengah.

“Kesemua manfaat ini saling mendukung satu sama lain, dan di sinilah esensi dari IA-CEPA. Bukan hanya  soal  ekspor  barang  dan  jasa  tetapi   juga  bagaimana  perjanjian  ini  mampu  mendorong Peningkatan SDM dan daya saing ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Mendag  mengungkapkan,  Indonesia  saat  ini  mengalami  defisit  perdagangan  dengan  Australia. Namun, impor Indonesia dari Australia mayoritas merupakan bahan baku dan penolong industri, seperti  gandum,  batubara,  bijih  besi,  alumunium,  seng,  gula  mentah,  susu,  dan  krim.  Produk tersebut  digunakan  oleh  Industri  di  tanah  air  untuk  proses  produksi  baik  untuk  keperluan domestik, maupun tujuan ekspor.

Menurut  Mendag,  melalui  IA-CEPA  potensi  perdagangan  jasa  terbuka  lebar.  Berbeda  dnegan ekspor  barang,  untuk  eskpor  jasa  Indonesia  mengalami  surplus  perdagangan  dengan  Australia sebesar USD 1,8 miliar yang disumbang dari sektor pariwisata. Melalui IA-CEPA ini, diproyeksikan surplus  perdagangan  jasa  lainnya  transportasi  udara  dan  laut,  komunikasi,  perdagangan,  jasa keuangan dan asuransi dapat meningkat.

Selain  itu,  Australia  mempunyai  daya  beli  yang  tinggi  untuk  produk-produk  Indonesia.  Australia memiliki produk domestik bruto (GDP) per kapita tinggi dan daya beli tinggi sebesar USD 57 ribu atau lima belas kali GDP per kapita Indonesia sebesar USD 3893.

“Australia   juga   memiliki   jaringan   kerja   sama   perjanjian   perdagangan   bebas   (Free   Trade Agreement/FTA) dan CEPA yang luas di dunia. Australia memiliki (FTA/CEPA) yang sudah berjalan dengan 30 negara sehingga produk Indonesia dapat memanfaatkan Australia sebagai pintu masuk ke pasar Pasifik dan Oceania,” terang Mendag.

Mendag  juga  mengungkapkan,  setelah  IA-CEPA  ditandatangani  pada  4  Maret  2019  lalu,  kedua negara sepakat merumuskan desain program-program kerja sama ekonomi berdasarkan masukan berbagai pemangku kepentingan kedua negara.

Saat  ini,  Indonesia  dan  Australia  dalam  proses  penyusunan  desain  kerja  sama  ekonomi  untuk tahun  pertama.  Kedua  negara  telah  menyepakati  tiga  sektor  ekonomi  yang  akan  diprioritaskan. Yaitu  agrifood  (grain  partnership),  advanced  manufacturing  (kerja  sama  mobil  listrik),  dan  jasa (pendidikan dan kesehatan). “Ketiga sektor ini akan menjadi proyek percontohan  IA-CEPA dalam meningkatkan daya saing Indonesia,” tandasnya.

Mendag menambahkan, saat ini Kementerian Perdagangan telah memiliki Free Trade Agreement (FTA)  Center  di  lima  kota  niaga  yaitu  Jakarta,  Bandung,  Surabaya,  Medan,  dan  Makassar. 

FTA Center   ini   bertujuan   untuk   meningkatkan   kemudahan   ekspor   dan   fasilitasi   perdagangan, meningkatkan pemanfaatan skema kerja sama perdagangan internasional, serta mendorong para pengusaha untuk ekspor dan mencetak para eksportir baru.

Tugas utama FTA Center memberikan edukasi/sosialisasi,   konsultasi,   dan   advokasi   pemanfaatan   hasil   perundingan   perdagangan internasional kepada para pelaku usaha tanpa dipungut biaya.

“Diharapkan para  pemangku kepentingan, pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, pelajar,   masyarakat   madani,   akademisi,   pekerja,   dapat   memaksimalkan   perjanjian   ini   agar memberikan manfaat seluas-luasnya untuk kesejahteraan Indonesia,” kata Mendag.

Sementara itu, Jerry menyampaikan, selain implementasi IA-CEPA, Kementerian perdagangan juga melaksanakan negosiasi dagang lainya. “Sekalipun saat ini sedang menghadapi Covid-19, negosiasi perdagangan tetap berjalan. Kami tetap melaksanakan negosiasi  perjanjian perdagangan sesuai dengan target yang telah ditetapkan, khususnya dengan kawasan yang memiliki pasar potensial,” ujarnya.

Di  sisi  lain,  Rosan  mengungkapkan,  dunia  usaha  meyakini  implementasi  IA-CEPA  akan  berjalan dengan lancar. Kadin juga telah melakukan sosialisasi mengenai manfaat IA-CEPA dan mendapat respons  yang  positif  dari  dunia  usaha.  (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular