Ntdtv, oleh Zhong Gusheng- Yan Limeng, adalah  ahli corona virus yang melarikan diri dari Universitas Hongkong ke Amerika Serikat. Dia mengungkapkan ihwal penyembunyian situasi epidemi di Tiongkok oleh komunis Tiongkok sehingga menyebar luas ke seluruh dunia.  Yan Limeng menyebut dua nama  orang yang masing-masing adalah co-direktur laboratorium WHO  Malik Peiris dan konsultan ahli WHO Leo Poon.

Kedua orang tersebut adalah dosen di Universitas Hongkong. Leo Poon pernah menjadi murid Joseph Sriyal Malik Peiris, dan ia juga menjabat direktur laboratorium Univ. Hongkong tempat Yan Limeng bekerja. 

Menurut Yan Limeng, kedua orang itu yang membuat temuan Yan Limeng mengenai bahayanya virus komunis Tiongkok ini diendapkan supaya tidak dipublikasikan. Bahkan Leo Poon mewanti wanti Yan Limeng dengan mengatakan, “Jangan coba-coba melewati garis merah yang dibuat komunis Tiongkok.”

Malik Peiris adalah seorang ahli mikrobiologi dan patologi asal Sri Lanka. Ia menerima gelar Ph.D dari School of Pathology di Universitas Oxford, Inggris dan kemudian datang ke Hongkong. 

Malik Peiris kemudian berfokus pada penelitian penyakit menular yang disebabkan oleh virus baru antara manusia dan hewan, termasuk influenza, corona virus (SARS, MERS) dan sebagainya. Ia dianggap sebagai orang pertama yang berhasil mengisolasi virus SARS.

Malik Peiris pernah menjabat sebagai co-direktur Pusat Penelitian Pasteur dari Universitas Hongkong, co-direktur Laboratorium Referensi H5 dari Universitas Hongkong dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan kepala departemen virologi dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Hongkong.

WHO membentuk jaringan global laboratorium rujukan H5 pada tahun 2004 silam untuk memenuhi tantangan yang ditimbulkan oleh virus H5N1. Laboratorium Referensi HKU H5 adalah salah satu anggota pendiri. 

Pada bulan Agustus 2015, Universitas Hongkong mengadakan upacara pembukaan Pusat Kolaborasi WHO untuk Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Menular dan Laboratorium Rujukan H5 WHO.

Ketika itu, Direktur Jenderal WHO Margaret Chan Fung Fu-chun dan Malik Peiris menghadiri upacara tersebut. Margaret Chan Fung Fu-chun pernah menjabat Direktur Dinas Kesehatan Pemerintah Hongkong dan dituduh terpilih sebagai Direktur Jenderal WHO karena didukung oleh komunis Tiongkok.

Keterangan foto: Pada 13 Agustus 2015, Malik Peiris (kiri no.1) dan Direktur Jenderal WHO Margaret Chan Fung Fu-chun (kiri no.3) menghadiri upacara pembukaan Pusat Kolaborasi WHO untuk Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Menular dan Laboratorium Rujukan H5 WHO H5. (Situs web resmi Universitas Hongkong)

Menurut situs resmi Universitas Hongkong, Malik Peiris adalah anggota Kelompok Penasihat Strategis WHO untuk Ahli Imunisasi yang melayani beberapa komite WHO. Dia pernah mewakili WHO dalam menyelidiki virus H7N9 Influenza A di daratan Tiongkok dan virus MERS di Korea Selatan dan Saudi Arab.

Malik Peirin lahir di Sri Lanka. Meskipun sistem demokrasi diterapkan, partai-partai politik sayap kiri di Sri Lanka sangat aktif, dan sistem politik negara itu juga banyak menganut sistem sosialis.

Pada tahun 2003, Malik Peiris mengisolasi patogen SARS di laboratorium Universitas Hongkong dan menggunakan PCR real-time untuk mendiagnosis SARS dengan kolaboratornya.

Leo Poon adalah murid Malik Peiris dan kemudian menjadi kolega dan kolaborator. Bersama-sama, mereka menerbitkan makalah tentang penelitian virus komunis Tiongkok dalam jurnal Natural Science.

Menurut situs resmi Universitas Hongkong, Leo Poon adalah seorang ahli virologi dari beberapa organisasi internasional, termasuk Kelompok Kerja Diagnostik Molekuler Virus Influenza WHO.

Pada tahun 2003, Poon dan Malik bersama melakukan penelitian virus SARS,. Mereka  dianggap orang pertama yang memecahkan urutan virus SARS. Penelitian Poon diperluas untuk menemukan spesies virus baru pada hewan liar, termasuk penemuan corona virus jenis baru dari tubuh kelelawar.

Pada tahun 2020, Leo Poon dan Malik Peiris menerbitkan makalah di jurnal ‘The Lancet’ untuk mempelajari waktu bertahan hidup virus komunis Tiongkok pada berbagai materi yang berbeda.

Data publik ini menunjukkan bahwa arah penelitian kedua orang ini terkait erat dengan corona virus jenis baru, termasuk promosi antibodi, badai sitokin, dan reorganisasi hewan. Mereka juga terkait erat dengan WHO.

Setelah wawancara Yan Limeng dengan Fox News di Amerika Serikat, WHO menanggapi Fox News dengan menyatakan bahwa Leo Poon dan Malik Peirin hanya menjabat sebagai konsultan yang tidak berarti, mereka adalah anggota WHO.

Namun, menurut Tang Jingyuan seorang komentator politik yang berdomisili di Amerika Serikat, menyatakan bahwa tanggapan WHO hanyalah demi mengaburkan fokus. Inti pertanyaannya adalah apakah WHO memperoleh informasi peringatan dari Leo Poon atau Malik Peirin tentang laporan temuan dari Yan Limeng.

Juga apakah tanggapan yang masuk akal telah dibuat untuk itu, bukannya masalah identitas mereka dapat atau tidak mewakili WHO. 

WHO belum memberikan jawaban yang jelas untuk pertanyaan kunci ini, dan jelas bahwa itu adalah sikap menganggap enteng.

WHO telah dituduh terkena infiltrasi komunis Tiongkok. Media Hongkong ‘Apple Daily’ pada 16 April 2020 lalu melaporkan bahwa semua ini dimulai ketika Margaret Chan Fung Fu-chun menjadi Direktur Jenderal WHO pada tahun 2006. 

Ketika SARS pecah pada tahun 2003, Margaret Chan Fung Fu-chun yang saat itu menjabat sebagai direktur Dinas Kesehatan Hongkong, dituduh membantu komunis Tiongkok menyembunyikan epidemi tersebut. 

Tedros Adhanom yang menggantikan Margaret sebagai Direktur Jenderal WHO, juga mendapat kritikan keras karena menutupi epidemi virus Komunis Tiongkok itu.

Keterangan foto: Pada 16 November 2017, Malik Peirin (kedua dari kiri) dan rombongannya mengunjungi Laboratorium Kunci Negara untuk Penyakit Pernapasan di Guangzhou dan berfoto bersama dengan Zhong Nanshan (ketiga dari kiri). (foto internet)

Menurut media Hongkong, Tedros adalah anggota tingkat tinggi dari Partai Marxis-Leninis Ethiopia ‘Tigre People’s Liberation Front’. Selama pemerintahan partai Ethiopia sebelum tahun 2018, Tedros menjabat sebagai menteri kesehatan dan menteri luar negeri negara itu. (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular