Epochtimes, oleh Zhang Bei- Sebuah video yang disampaikan oleh sumber yang tak mau disebutkan namanya menyebutkan bahwa, mereka yang masih terdampar di Dubei, Yordania, Kuwait melakukan unjuk rasa. 

Mereka mengenakan masker dan bersama-sama membentangkan spanduk yang berisi permohonan untuk diizinkan pulang ke tanah air. 

Warga Tiongkok yang terdampar di Qatar bahkan masuk ke dalam konsulat Tiongkok setempat untuk membentangkan spanduk yang bertuliskan 2 bahasa, yakni bahasa Mandarin dan Inggris. Isinya meminta diizinkan pulang ke Tiongkok.

Seorang wanita yang tampaknya adalah organisator mereka berteriak: “Kita tidak bekerja, tidak memiliki uang, tidak punya rumah, tidak ada tempat tinggal, kita mau pulang!”

Seorang wanita lainnya berteriak, “Kita nyaris menjadi gelandangan!”

Sebuah sumber mengatakan bahwa insiden-insiden tersebut terjadi pada akhir bulan Juni lalu. Mereka masih tertahan di sana. Mereka menggunakan cara meminta kepada negara agar terhindar dari berdiri sebagai oposisi. Jadi mereka protes dengan cara demikian. Pada saat yang sama, mereka juga tidak menerima wawancara media asing.

Sumber itu juga mengungkapkan, bahwa ia pernah bergabung dengan kelompok WeChat Tiongkok yang terdampar di Rusia. Ada orang yang menyarankan untuk membuat masalah di depan gedung Kedutaan Besar Tiongkok di Rusia, tetapi akibatnya pengusul tersebut “ditendang” dari kelompoknya. 

Sumber itu juga mengatakan, bahwa para pemimpin kelompok dan pemilik kelompok di dalam sangat mendukung komunis Tiongkok. Jadi meskipun ada ratusan ribu orang warga Tiongkok yang terdampar di Rusia, mereka tidak akan membuat masalah. Tampaknya mereka juga tidak pergi ke kedutaan untuk membentang spanduk.

Dampak kebijakan ‘5 Buah 1’  yang dikeluarkan otoritas penerbangan sipil Tiongkok berdampak pada warga negara Tiongkok di luar negeri. Kebijakan ‘5 Buah 1’  yakni 1 maskapai penerbangan hanya dapat terbang ke 1 titik destinasi pada 1 negara, dan hanya dapat terbang 1 kali dalam seminggu. Kebijakan itu diterapkan pada 29 Maret lalu.

Kebijakan itu  menyebabkan pengurangan tajam dalam jumlah penerbangan internasional ke dan dari Tiongkok. Di satu sisi, harga tiket pesawat telah melambung tinggi, sehingga sulit untuk mendapatkan satu tiket.

Sebelumnya, banyak laporan menunjukkan bahwa para mahasiswa Tiongkok yang studi di luar negeri, atau warga yang bepergian mengunjungi kerabat, bertamasya dan bekerja kesulitan kembali ke negara asal mereka. 

Beberapa orang juga mengatakan, “Kita tidak bisa kembali ke rumah kita sendiri, itu sungguh menyakitkan.” (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular