Epochtimes, oleh Wang Kaidi, Lin Qinxin- Mantan anggota Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok atau Chinese People’s Political Consultative Conference – CPPCC- Provinsi Qinghai, Wang Ruiqin dalam wawancara gabungan dari Epoch Times dan New Tang Dynasty TV di Amerika Serikat mengatakan bahwa, ia berharap melalui pengalaman pribadinya dapat memberitahu dunia tentang kenyataan yang dihadapi oleh para pengusaha swasta domestik di daratan Tiongkok.

Wang Ruiqing menuturkan, Para pengusaha swasta Tiongkok sebenarnya punya banyak sekali keluhan. Tetapi mereka tidak berani dan tidak memiliki saluran untuk menyampaikan, pintu tertutup. Ia yang juga sebagai pengusaha itu mengatakan, kita sesama pengusaha swasta hanya dapat bicara dalam komunitas sendiri. Masing-masing pengusaha memiliki catatan sejarah yang berdarah dan air mata. Semua dari mereka telah mengalami berbagai kesulitan yang secara sengaja dibebankan oleh pemerintah, bahkan kesulitan yang berada di luar imajinasi Anda.

Wang Ruiqin lulus dari Universitas Lanzhou jurusan sejarah. Setelah lulus ia bekerja sebagai pengajar sejarah Partai Komunis Tiongkok di Qinghai Nationalities University. 

Pada tahun 1988, Provinsi Hainan dibentuk. Tahun berikutnya ia meninggalkan profesi sebagai guru dan terjun ke dunia bisnis. Di Hainan ia menggeluti bisnis real estate dan menjadi kaya. Kemudian ia pun memutuskan untuk ikut dalam pembangunan di kampung halamannya Qinghai.

Wang Ruiqin berkata : “Sejak kecil saya dibesarkan di Qinghai, memiliki hubungan bathin dengan provinsi tersebut. Setelah saya berhasil kaya dari berbisnis di Hainan, terpikir untuk melakukan sesuatu bagi kampung halaman.” 

Ia juga menuturkan bahwa saat itu, Qinghai masih terbelakang, fasilitas tempat penginapan pun sangat sederhana. Terus timbul pikirannya untuk membangun sebuah hotel yang terbaik. Sejak itu, ia mulai terjun menggarap proyek Donghu Hotel”. 

Keinginan membangun hotel mewah terbentur oleh “3 Gunung Besar Baru”

Wang Ruiqing mendirikan perusahaan Donghu yang merupakan patungan pemodal Tiongkok dengan AS  pada tahun 1997, yang menjadi salah satu proyek utama untuk mempromosikan investasi di Provinsi Qinghai pada waktu itu. Kemudian, ia 2 kali menjabat sebagai anggota CPPCC Kota Xining dan Anggota CPPCC Provinsi Qinghai Periode ke-11.

“Donghu Hotel yang bergaya taman berada di tepi Sungai Huangshui, sebuah sungai lokal terkenal yang merupakan anak sungai dari Sungai Kuning”. 

Hotel tersebut memiliki lebih dari 200 kamar dan berbagai restoran. Setelah dibuka pada bulan Juli 2001, pendapatan operasional bulanan bisa mencapai hampir RMB. 1 juta, dan banyak dikenal oleh para pebisnis  lokal.

Suatu hari pada bulan April tahun 2002, tanpa pemberitahuan tiba-tiba hotel dipaksa menutup usaha oleh pihak berwenang komunis Tiongkok dengan alasan membangun jalan. 

Ia menceritakan : “Hotel baru saja selesai dibangun. Pemerintah untuk membangun jalan bebas hambatan Kota Lanzhou – Kota Xining yang pintu keluarnya tepat di depan hotel kita. Sehingga pintu gerbang hotel terblokir”. Akhirnya, terpaksa menunggu sampai proyek selesai hotel baru dapat beroperasi kembali. Setelah itu pemerintah memulai lagi pekerjaan proyek tahap kedua, kembali memblokir pintu gerbang hotel.

“Karena itu hotel terpaksa tidak dapat beroperasi selama kurang lebih 3 tahun lamanya, kerugian yang kita derita cukup besar. Hanya untuk membayar bunga pinjaman saja kita menghabiskan 30 juta renminbi, jika dikalkulasi bersama dengan kerugian atau biaya lainnya, maka kerugian finansial kita tidak kurang dari 100 juta renminbi”. 

Wang Ruiqin yang anggota CPPCC telah berulang kali mengadukan masalah. Tetapi permintaan untuk diberikan fasilitas jalan buat 1 kendaraan hotel keluar masuk saja tidak digubris.  

“Pemerintah kota komunis Tiongkok tingkat 3 atau 4 sangat Biadab. Biadab dalam pekerjaan konstruksi dan biadab dalam masalah pengelolaan. Mereka tidak pernah memikirkan berapa besar kerugian para pebisnis. Mereka tidak memikirkan hidup mati kita”.

Pada tahun 2007 Donghu Hotel diajukan ke pengadilan oleh Qinghai Bank karena gagal membayar bunga. “Kita telah dianiaya sehingga tidak dapat beroperasi selama 3 tahun oleh pemerintah, maka kita minta pengurangan bunga dan dendanya”. 

Tetapi pengadilan tetap mengikuti syarat bank BUMN dan memutuskan bahwa kita wajib membayar bunga dan dendanya total sebesar RMB. 20 juta. “Padahal pinjaman yang kita terima adalah RMB. 36 juta, sedangkan putusan pengadilan menghendaki pembayaran total sebesar RMB. 20 juta, itu jelas tidak adil”.

Selama proses pengadilan itu, Ada orang yang mengisyaratkan agar Wang Ruiqin bersedia memberi “uang diskon sekitar 10%” dari jumlah yang disengketakan, maka urusan cepat beres. 

“Tetapi direktur kita bersikukuh untuk menolak pemberian “uang diskon” dengan alasan hotel tidak dapat beroperasi gegara pembangunan proyek jalur pintu keluar tol, dan usaha kita tidak melanggar hukum, mengapa harus memberi uang suap ?”

“Bank tidak bersedia menerima hipotek berupa tanah, villa, kekayaan lain sebagai jaminan, mereka hanya mau dilunasi dalam 1 kali transaksi dengan uang kontan. Tujuannya tak lain adalah untuk mempersulit, tujuan mempersulit adalah minta uang. “Karena Qinghai Bank tidak bersedia menerima jaminan hipotik, Maka Pengadilan Tinggi Rakyat Qinghai membuat keputusan untuk menghentikan prosedur eksekusi.

5 tahun kemudian, Qinghai Bank menggugat kembali kasus tersebut. Pada saat itu, bunga Qinghai Bank sudah menggelembung sampai jumlah RMB. 120 juta, yang berarti bahwa “uang diskon” itu saja sekarang bisa mencapai jutaan hingga puluhan juta yuan, nilainya bahkan akan lebih tinggi. 

Wang Ruiqin masih berkata : “Saya sendiri menjadi korban, dan saya adalah seorang Kristen, mengapa saya harus memberi uang untuk suap ?” Proses dari kasus tersebut lebih kurang berlangsung selama 15 tahun. Akhirnya juga masih terkatung-katung tanpa keputusan.

Mengamati sengsaranya usaha swasta, Manyampaikan keluhan melalui Dwi Konferensi 

Gugatan panjang yang dialami Wang Ruiqin menyadarkan dirinya bahwa perusahaan swasta di Tiongkok menghadapi “3 Gunung Besar Baru”. Yakni diskriminasi keuangan, ketidakadilan peradilan dan perilaku pemerintah yang tidak diatur. Hal mana menyebabkan sejumlah besar perusahaan swasta masuk ke dalam lembah kesulitan besar. Inilah alasan Wang Ruiqin terdorong untuk menyampaikan keluhan kepada otoritas Xi Jinping.

“Dwi Konferensi berlangsung pada bulan Mei tahun ini, saya  merasa bahwa saya harus berani berbicara, karena saya tahu betapa sulitnya alam usaha entitas swasta. Saya juga tahu bahwa  otoritas Xi Jinping dengan pejabatnya yang bertindak sewenang-wenang sekarang sudah tidak mendapat tempat di hati rakyat”, kata Wang Ruiqin.

Di saat Partai Komunis Tiongkok menyelenggara Dwi Konferensi pada 21 Mei tahun ini, Wang Ruiqin berada di AS menyampaikan surat terbuka yang berjudul ‘Surat Terbuka kepada Perwakilan NPC dan Perwakilan CPPCC’. 

Setelah surat tersebut dipublikasikan “Langsung menyulut api kemarahan mereka, Ditambah lagi seluruh anggota NPC dan CPPCC membaca surat tersebut, lebih-lebih membuat kemarahan naik ke ubun-ubun para pejabat Pusat. Mereka kemudian mendirikan Tim Khusus 616.

Tim Khusus 616 ini kemudian menyelidiki semua kerabat Wang Ruiqin dan lebih dari 20 perusahaan yang berhubungan, satu per satu akun keuangan diperiksa. Sedangkan personil yang relevan juga diperiksa satu per satu, bahkan termasuk karyawan yang telah berhenti selama bertahun-tahun. “Mereka telah melakukan banyak upaya dalam hal ini. Ini diluar perkiraan saya”.

Kerabat di daratan Tiongkok mengalami ancaman dari pihak berwenang, kekayaan perusahaan juga dibekukan. Pada 22 Juni, meskipun hatinya sakit, tetapi ia terpaksa mengeluarkan pernyataan dalam bahasa Mandarin dan Inggris, yang mana menyebutkan bahwa dirinya memutus hubungan dengan semua kerabatnya di daratan Tiongkok. 

Dalam wawancara dengan Epoch Times dan NTD TV ia mengatakan, pengalamannya telah  membuat dirinya sadar bahwa komunis Tiongkok tetap akan menerapkan perlakuan sadis terhadap siapa pun yang  mempromosikan demokrasi di negara ini meskipun ia telah berjasa bagi sebuah kota maupun negara”. Kebrutalan Partai Komunis Tiongkok membuatnya lebih yakin untuk berani berjuang (melawan otoritas komunis Tiongkok) seperti dirinya..

Mengapa perusahaan Swasta Tiongkok berada dalam situasi tidak terjamin ?

Dalam artikel berjudul ‘Pikiran tentang 10 Rasa Sakit yang Dialami Perusahaan Swasta Dalam Menghadapi Lingkungan Hidup Bagi Usaha Swasta’ yang ditulis Wang Ruiqin pada tahun 2015, disebutkan bahwa, setelah lebih dari 30 tahun pembangunan, ekonomi yang dikelola swasta telah menjadi bagian tak terpisahkan dan penting dalam pembangunan ekonomi dan sosial Tiongkok. Ekonomi yang dikelola swasta telah menciptakan lebih dari 60% PDB domestik. 

Disebutkan juga, beberapa provinsi bahkan melebihi 80% dari PDB domestik, bahkan menyumbang 219 juta kesempatan kerja. Namun, ada “10 rasa sakit” yang membuat para pelaku yang berbisnis dengan tidak melanggar peraturan tersebut mengalami kesulitan yang mematikan.

“Untuk membentuk usaha swasta di Tiongkok tidaklah mudah”. Dalam wawancaranya dengan Epoch Times dan NTD TV, Wang Ruiqin memberikan beberapa kesulitan yang dialami perusahaan swasta di Tiongkok saat ini. “Pertama-tama, perusahaan swasta tidak diposisikan sama di tingkat hukum dengan perusahaan milik negara, perusahaan milik Pusat, atau bahkan perusahaan asing. Selain tidak mendapat perlindungan, perusahaan swasta harus menghadapi diskriminasi dari pejabat di semua departemen pemerintah, mereka minta ini, minta itu, pemerasanlah begitu kira-kira”.

Diungkapkan juga bahwa “Pajak yang dibebankan pemerintah komunis Tiongkok beratnya tidak kira-kira, bahkan mengenakan pajak berulang kali. Jika Anda tidak menghindari pajak, Anda hampir tidak dapat mempertahankan break even point (tanpa untung atau rugi). Jika Anda ingin menghasilkan keuntungan, Anda harus bermain dengan tukang pajak. Sistem perpajakan itu sendiri memiliki banyak celah yang memang sengaja dirancang guna pemanfaatannya. Tujuannya adalah agar punya celah untuk bermain. Pengusaha dipaksa jadi maling”.

Hal demikian, “Termasuk kantor perpajakan, dinas keselamatan, dinas perlindungan lingkungan, dinas kesehatan dan stasiun pencegahan epidemi. Semuanya akan datang mengganggu dengan pungutan-pungutan liar, seluruh pejabat dalam pemerintahan berupaya untuk mendapatkan uang dengan ilegal dari perusahaan swasta. Yang mana, pungutan itu tidak dapat mereka peroleh dari perusahaan milik negara atau perusahaan yang didanai asing. Target pungli  mereka terutama perusahaan swasta”.

“Karena itu, energi para pengusaha swasta itu 50% dipergunakan untuk berurusan dengan berbagai departemen pemerintah, untuk melancarkan “hubungan.” Sehingga waktu untuk mengurusi bisnisnya sendiri tidak banyak. Inilah karakteristik perusahaan swasta Tiongkok. Jika tidak demikian maka akan sulit baginya untuk bertahan hidup”.

“Beberapa perusahaan swasta kecil, terutama toko-toko kecil yang ditangani oleh keluarga, mereka ini sangat layak untuk mendapat perhatian dan simpati. Betapa tidak, mereka pasangan suami istri bekerja keras siang malam, tetapi tidak ada jaminan. Pejabat mana pun di Tiongkok dapat dengan alasan yang dibuat-buat untuk menghalangi mereka membuka toko dengan menyegel, kemudian menghabiskan banyak uang jika minta pembebasan segel”.

Wang Ruiqin juga menyinggung soal laporan media tentang perusahaan swasta yang penuh dengan prasangka. “Mereka tidak melaporkan secara positif tentang bagaimana para pengusaha itu “banting tulang” agar bisnis berjalan, dan berkontribusi pada masyarakat, selain menggerakan perekonomian. Yang mereka laporan justru mengenai bagaimana perusahaan swasta itu menghindari pembayaran pajak, bagaimana berkolusi dengan pejabat”.

Wang Ruiqin bertanya : “Mengapa ada kolusi antara pejabat dengan pengusaha ? Suap, itu dipaksa !”

Wang Ruiqin mengungkapkan setiap pejabat pemerintah komunis Tiongkok, termasuk Biro Keamanan Publik, Kejaksaan dan Pengadilan, semua pejabat itu menggunakan semua kekuatan mereka dan sarana untuk memeras perusahaan swasta”. Dia menyebutkan, bahwa pengusaha seperti dirinya yang bersikeras tidak bersedia menyuap pejabat sebenarnya tidak banyak di Tiongkok. Tetapi akhirnya juga membayar harga yang cukup mahal.

Dengan menyimpulkan pengalaman dan pengamatan yang dilakukan selama 30 tahun, Wang Ruiqin percaya : “Komunis Tiongkok tidak menganggap penting perusahaan swasta, ingin menyingkirkan, hanya karena perusahaan BUMN penuh dengan korupsi dan kolusi, tidak kompeten, dan tingkat efisiensinya rendah, maka perusahaan swasta dibiarkan tetap hidup. Tetapi sebenarnya Partai Komunis Tiongkok pada dasarnya tidak welcome dengan adanya perusahaan swasta”.

Karena usaha swasta tidak terjamin, beberapa perusahaan swasta akan melindungi diri mereka sendiri melalui memiliki identitas diri sebagai anggota CPPCC atau NPC. “Dapat memperoleh perlindungan melalui identitas. Jadi jika sesuatu terjadi, setidaknya ada satu prosedur yang harus dijalankan. Pertama, mencabut terlebih dahulu keanggotaan CPPCC atau NPC. baru boleh melakukan penangkapan. Menambah prosedur berarti memiliki waktu untuk melakukan persiapan. Betapa menyedihkan perusahaan swasta di Tiongkok !”

Kredibilitas komunis Tiongkok hancur, menyerukan kepada perusahaan swasta untuk mendukung demokratisasi

Wang Ruiqin menyinggung soal perusahaan swasta tidak memiliki generasi kedua atau generasi ketiga. Ini semua akibat ulah pemerintah. Ia menguraikan, bahwa sangat banyak pengusaha swasta tidak ingin putra putri mereka untuk mengambil alih atau meneruskan usaha orang tua. Hal ini juga berlaku bagi dirinya”. Kebanyakan pengusaha swasta lebih menghendaki jaminan usaha, bagaimana mengalihkan kekayaan mereka ke luar negeri, mencari cara terbaik untuk bermigrasi ke negara lain. “Pada dasarnya, sekarang sudah tidak ada orang yang mau berinvestasi”.

Wang Ruiqin menjelaskan bahwa tanpa demokrasi, perusahaan swasta tidak memiliki hari esok. Selalu menjadi sapi perahan, menjadi kambing yang menunggu disembelih”. Wang Ruiqin kembali mengimbau : Kita harus bangkit, kepada semua insan dan institusi yang mempromosikan demokratisasi di Tiongkok. Memberi mereka lebih banyak dukungan”.

“Kredibilitas komunis Tiongkok sudah hancur, apapun yang ia katakan, perusahaan tidak percaya”. Wang juga menyinggung soal informasi yang beredar luas : “Saat ini, para intelektual Tiongkok dan orang-orang sukses di berbagai bidang memiliki pemahaman yang mendalam tentang masyarakat ini. Memiliki pemahaman yang sama dengan dirinya, perbedaannya terletak pada apakah mereka berani mengatakan, dan dapatkah mereka mengatakannya”.

Wang Ruiqin percaya bahwa sistem komunis Tiongkok telah menjadi sangat korup. “Sistem ini sudah total rusak dan busuk. Promosi pejabat tergantung pada uang. Setelah pejabat dilantik yang mereka kejar hanya uang. Kenyataan yang dihadapi perusahaan swasta adalah rasa sakit. Ketika mereka menutup pintu, mereka hanya mampu mengeluh tanpa ada saluran yang bersedia menampung untuk diatasi. Lalu mencacimaki para pejabat itu”.

Diketahui juga bahwa “Sangat banyak di antara para pejabat komunis Tiongkok sebenarnya sudah sadar negara ini sedang bergerak dengan cepat menuju bencana”.

Wabah penyakit dan banjir datang silih berganti pada tahun 2020, para pejabat komunis Tiongkok mendapatkan kontribusi khusus dan kenaikan gaji, mereka tidak akan terpengaruh. Namun, untuk masyarakat akar rumput dan perusahaan swasta yang berusaha merebut setiap sen, niscaya ini merupakan pukulan berat. “Sangat menyakitkan hati !”. Kondisi ini telah mendorong Wang Ruiqin untuk bangkit berbicara, agar semua orang sadar bahwa sumber malapetaka ini berasal dari sistem partai komunis Tiongkok yang sewajarnya untuk segera diganti. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular