Erabaru.net- Sejumlah praktisi Falun Dafa atau Falun Gong Wilayah dari wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya menggelar aksi menyerukan diakhirinya penganiayaan terhadap rekan-rekan mereka di Tiongkok yang berlangsung selama 21 Tahun di Depan Kedutaan Besar Tiongkok di Jalan Mega Kuningan, Jakarta, Sabtu (18/07/2020).

Sejumlah spanduk dibentangkan pada saat itu diantaranya bertuliskan “SOS-HELP STOP PERSECUTION OF FALUN DAFA IN CHINA – TORTURED FOR THEIR BELIEF KILLED FOR THEIR ORGAN.” Spanduk lainnya bertuliskan “Tolak Partai Komunis Tiongkok. Terbentang juga spanduk bertuliskan “Langit Memusnhakan Partai Komunis Tiongkok.”

Tak hanya itu spanduk yang bertuliskan “ 20 Juli 1999 : Perintah Jiang Zemin Terkait Falun Gong : Cemarkan Reputasinya, Bangkrutkan Secara Finansial, Hancurkan Secara Fisik.”  Spanduk yang bisa dilihat lainnya adalah “Hentikan Penindasan Terhadap Praktisi Falun Dafa di China, STOP PERSECUTION OF FALUN DAFA IN CHINA.”

Warga melintasi spanduk yang dibentangkan praktisi Falun Gong, Sabtu 18 Juli 2020 di Depan Kedubes RRT

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia (HFDI) Gatot Machali mengatakan bahwa tanggal 20 Juli adalah menandai 21 tahun terhitung sejak tanggal 20 Juli 1999 dimulainya penindasan Genosida HAM terhadap Falun Dafa, sebuah latihan spiritual kuno Tiongkok yang berlangsarkan pada prinsip Sejati-Baik-Sabar oleh Jiang Zemin (Mantan Presiden Tiongkok) dan rezim Partai Komunis Tiongkok yang sampai saat ini masih berlangsung.

Disebutkan juga bahwa data terakhir sejak dimulainya penindasan, setidaknya 4.263 orang dikonfirmasi tewas akibat penganiayaan dan diperkirakan masih ribuan lebih banyak lagi kasus kematian, namun demikian belum bisa dikonfirmasi. Angka ini, kata Gatot, hanyalah puncak gunung es. Ketika fakta kebenaran nantinya terungkap dan pengadilan akhir terhadap pelaku kejahatan disidangkan, total jumlah kematian dan korban lainnya bakal bisa mengejutkan lebih tinggi.

Ketua Himpunan Falun Dafa Indonesia (HFDI) Gatot Machali di Depan Kedubes RRT di Jakarta 18 Juli 2020

Selain kematian, sebanyak ratusan ribu praktisi saat ini masih terancam jiwanya mendekam di penjara. Praktisi Falun Dafa dipaksa agar melepas keyakinanya terhadap prinsip Sejati-Baik-Sabar, jika praktisi menolak menendatangani surat pernyataan maka disiksa secara brutal, dihukum kerja paksa, dimasukkan ke rumah sakit jiwa, pencucian otak, dibius dengan obat antipsikotik, praktisi wanita ditelanjangi dimasukkan ke dalam sel narapidana untuk diperkosa beramai-ramai dan penyiksaan secara keji lainnya.

“Puncak dari penganiayaan yang paling mengerikan dan telah menjadi sorotan dunia internasional adalah perampasan organ tubuh secara hidup-hidup dari puluhan ribu praktisi Falun Dafa untuk kebutuhan industri transplantasi di Tiongkok, yang melibatkan pejabat PKT sampai ketingkat politbiro,”ujarnya.

Pada kesempatan penyampaian pernyataanya, Gatot mengungkapkan bahwa pengaruh dari kejahatan ini tidak hanya dirasakan di wilayah Tiongkok. Namun demikian, menjelujur di seluruh dunia. Dikarenakan, pasien penerima organ tubuh berasal dari Asia (termasuk Indonesia)  maupun barat dan juga melibatkan banyak kerjasama antar industri transplantasi Tiongkok dengan professional medis mancanegara serta kerjasa di bidang farmasi.

Selain akibat kurangnya kecaman internasional kejahatan rezim komunis Tiongkok, terlihat seperti fenomena wabah pandemi COVID-19 saat ini. Pasalnya, watak jahat rezim komunis Tiongkok yang penuh dengan dusta mengakibatkan tak hanya menelan korban jiwa orang Tiongkok yan tak bersalah, tetapi juga ke masyarakat dunia.

Menurut Gatot, kampanye massal komunis Tiongkok untuk mendiskriminasi dan memusnahkan Falun Dafa dengan nilai-nilai dasarnya Sejati-Baik-Sabar juga merupakan serangan terhadap hati nurani, kemanusiaan sera merusak tatanan moral rakyat Tiongkok maupun masyarakat dunia.

Suasana praktisi Falun Gong sedang meditasi di Depan Kedubes RRT

Mengapa penganiyaan dilakukan? Hal demikian, kata Gatot, tak lain disebabkan dengan popularitas Falun Gong sehingga membuat iri mantan Sekjen Partai Komunis Tiongkok kala itu yakni Jiang Zemin. Pasalnya, nilai-nilai Sejati-Baik-Sabar adalah bertolak belakang dengan ideologi  komunis yang Bohong, Jahat dan Teror.

Sementara itu, Koordinator Global Human Right Effort (GHURE) Fadjar Pratikto mengatakan sebagai umat Manusia yang beradab tak boleh membiarkan begitu saja kejahatan terhadap praktisi Falun Gong. Lebih lagi para pemimpin negara-negara dunia punya tanggungjawab moral yang sama.

Ilustrasi penindasan yang dialami oleh praktisi Falun Gong

Menurut Fadjar, saat ini kita menunggu sikap pemerintah Indonesia terhadap kejahatan kemanusiaan yang dialami praktisi Falun Gong di Tiongkok. Diserukan tak membela kepentingan rezim Tiongkok, apalagi investasi dan pinjaman dana untuk pembangunan infrastruktur semakin banyak diterima.

Ia mengatakan, atas dalih menjaga hubungan baik dengan pemerintah Tiongkok, pemerintah semakin tak bersedia menerima pengajuan keberadaan organisasi Himpunan Falun Dafa Indonesia.

“Kita justru ingin menyadarkan para pemimpin kita, pengaruh PKT ternyata sudah sedemikian mendalamnya, kita ingin menyadarkan bahwa kepentingan ekonomi dan politik PKT terhadap negeri kita, sehingga mesti hati-hati, jangan sampai mimpi besar PKT dengan imperium baru melalui OBOR malah membuat kita tergelincir dan jatuh bersama kehancuran PKT,” ujarnya.  

Ia menjelaskan, belajar dari wabah virus Wuhan yang saat ini menjadi pandemi global termasuk di Indonesia, diketahui negara-negara yang paling parah terkena dampaknya adalah mereka yang mendapat pengaruh besar Partai Komunis Tiongkok. Bukan saja dikarenakan PKT menutupi situasi pandemi tapi penyebarannya telah menghancurkan ekonomi dunia.

“Jalan satu-satunya agar selamat dari pandemi virus ini, adalah menjauhkan diri dari PKT, ambil sikap berani dengan mereka,jangan mau diintervensi,” tegasnya.  (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular