Ivan Pentchoukov

Otoritas Amerika Serikat pada 22 Juli 2020 memerintahkan konsulat Tiongkok di Houston  ditutup. Hal demikian disampaikan oleh juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Morgan Ortagus.

“Amerika Serikat tidak akan mentolerir pelanggaran RRT terhadap kedaulatan dan intimidasi terhadap rakyat kami, seperti halnya kami tidak mentolerir praktik perdagangan RRT yang tidak adil, pencurian pekerjaan di Amerika, dan perilaku mengerikan lainnya. Presiden Trump menekankan keadilan dan hubungan timbal balik dalam hubungan AS-Tiongkok,” kata Ortagus dalam surat elektronik yang dikirimkan kepada The Epoch Times.

“Kami mengarahkan penutupan Konsulat Jenderal RRT di Houston, untuk melindungi kekayaan intelektual Amerika dan informasi pribadi Amerika,” ujarnya.

Ortagus tak menjelaskan  lebih lanjut, tetapi menunjuk pada dua Konvensi Wina yang mengamanatkan diplomat untuk “menghormati hukum dan peraturan negara penerima” dan “memiliki tugas untuk tidak ikut campur dalam urusan internal negara itu.”

Tiongkok menyebut penutupan itu “peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Pihak Komunis  Tiongkok mengatakan akan membalas jika Amerika Serikat tidak mencabut perintah tersebut.

Kementerian Luar Negeri Komunis Tiongkok mengatakan Amerika Serikat memberikannya tiga hari untuk menutup konsulat.

“Penutupan konsulat jenderal Tiongkok di Houston secara sepihak dalam waktu singkat adalah peningkatan tindakan baru-baru ini terhadap Tiongkok,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Komunis Tiongkok, Wang Wenbin.

“Kami mendesak AS untuk segera mencabut keputusan yang salah ini. Jika negara itu bersikeras menempuh jalan yang salah ini, Tiongkok akan bereaksi dengan tindakan tegas, ” tambahnya.

Wang mengatakan konsulat beroperasi secara normal. Dia tidak menanggapi pertanyaan tentang laporan dokumen yang dibakar di halaman konsulat.

Sebuah video yang dikirim ke kantor berita lokal dan diposting di media sosial menunjukkan beberapa titik api menyala di halaman terbuka dan sosok yang tampaknya sebagai staf konsulat.

“Tampaknya pembakaran di ruang terbuka dalam wadah di halaman fasilitas konsulat Tiongkok. Tampaknya bukan api yang tak dibatasi, tetapi kami belum diizinkan mengaksesnya, ”kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Houston, Samuel Pena, kepada KTRK.

“Kami siaga dan memantau,” imbuhnya. 

Sementara itu, Polisi Houston mengatakan kepada FOX 26 bahwa staf di sana membakar tumpukan dokumen karena mereka diusir dari gedung.

Penutupan konsulat terjadi setelah tuduhan dua warga negara Tiongkok atas tindakan spionase dunia maya selama satu dekade, di mana mereka dituduh mencuri informasi mengenai desain senjata, informasi obat, kode sumber perangkat lunak, dan data pribadi.

Surat dakwaan ini adalah yang terbaru dalam kampanye penegakan hukum nasional yang luas untuk melawan pencurian kekayaan intelektual AS dan aspek infiltrasi lain oleh rezim Komunis Tiongkok. (asr)

 

Reuters berkontribusi pada laporan ini.

Share

Video Popular