Theepochtimes.com- Bekerja sebagai peninjau konten di Tiongkok, Liu Lipeng bertugas menyaring unggahan  di media sosial dan menandai konten yang melanggar pedoman sensor rezim Komunis Tiongkok. 

Liu Lipeng melihat banyak konten yang dijadwalkan untuk dihapus, mengenai Gerakan Payung di Hong Kong pada tahun 2014. Konten itu  tentang  massa menduduki jalan-jalan utama di Hong Kong untuk menuntut hak pilih universal dalam pemilihan umum. 

Setelah pengalihan kedaulatan Hong Kong dari Inggris ke pemerintahan Tiongkok pada tahun 1997, Hong Kong dijanjikan pemilihan umum yang bebas dan adil. Akan tetapi Beijing malah memilih kandidatnya sendiri untuk pejabat tertinggi Hong Kong.

Menonton video unjuk rasa tahun 2014, Liu Lipeng melihat dengan matanya sendiri, rakyat  Hong Kong memperjuangkan kebebasan dan demokrasi. Mengamati rakyat  Hong Kong membuatnya bersemangat dan terdorong untuk kebebasan dalam hidupnya sendiri.

“Hong Kong adalah garis depan untuk kebebasan dan demokrasi Tiongkok. Hong Kong perlu dukungan oleh dunia,” katanya.

Selama wawancara dengan The Epoch Times, Liu Lipeng, yang baru saja berimigrasi ke California, mengenakan T-shirt berwarna hitam yang gambar payung kuning dan tertera kata “kuat” di bawah gambar tersebut.

Payung kuning menjadi ikon bagi gerakan pro-demokrasi tahun 2014, setelah puluhan ribu pengunjuk rasa Hong Kong menggunakan payung untuk melindungi diri dari tembakan gas air mata oleh polisi dalam upaya untuk membubarkan pengunjuk rasa.

Karena Beijing baru-baru ini menerapkan hukum keamanan nasional untuk Hong Kong, perusahaan-perusahaan teknologi internasional yang beroperasi di Hong Kong menangguhkan tinjauannya mengenai permintaan pemerintah untuk memperoleh data pengguna. Ini mengutip kekhawatiran akan pelanggaran kebebasan berekspresi para pengguna.

Tentang hukum keamanan nasional untuk Hong Kong seperti tindakan kriminal yang dianggap subversi, pemisahan diri, terorisme, dan kolusi dengan kekuatan asing akan dipenjara seumur hidup.

TikTok, aplikasi berbagi video milik Tiongkok yang populer, segera mengumumkan akan meninggalkan pasar Hong Kong. Liu Lipeng, yang sebelumnya mempertimbangkan bekerja untuk kantor TikTok di Tiongkok dalam peran memantau dan menyensor konten pengguna luar negeri.

Menurut Liu Lipeng, TikTok  cenderung tidak punya pilihan selain mematuhi permintaan pihak berwenang Hong Kong untuk memperoleh data para pengguna. Tetapi TikTok — yang baru-baru ini menghadapi pengawasan ketat di Amerika Serikat dan di tempat lain karena TikTok mengumpulkan data para pengguna internasional, mewaspadai rontoknya hubungan masyarakat yang dihasilkan dari kepatuhan semacam itu.

“TikTok tahu, mustahil bagi TikTok untuk mengambil sikap melawan hukum keamanan baru milik Partai Komunis Tiongkok di Hong Kong,” kata Liu Lipeng.

Liu Lipeng menilai mustahil bagi aplikasi milik Tiongkok seperti TikTok untuk sepenuhnya transparan, meskipun TikTok berjanji untuk membangun sebuah “pusat transparansi” guna mengurangi kekhawatiran masyarakat mengenai operasinya. TikTok dikembangkan dan dimiliki oleh perusahaan teknologi yang berbasis di Beijing, ByteDance.

Liu Lipeng bekerja selama dua tahun sebagai peninjau konten untuk Weibo, sebuah platform media sosial Tiongkok yang mirip dengan Twitter. Ia juga bekerja selama empat tahun sebagai manajer moderasi konten untuk Leshi, sebuah platform media sosial Tiongkok yang mirip dengan YouTube.

Liu Lipeng menggambarkan peran peninjau konten atau moderator di Tiongkok sebagai tenaga kerja yang intensif dan bertekanan tinggi yang diawasi dan dikendalikan dengan ketat oleh badan sensor utama pemerintah pusat, Administrasi Dunia Maya.

Menurut Liu Lipeng,  para peninjau konten di Tiongkok perlu mengingat banyak kata, nama, atau subyek yang dianggap sensitif secara politik oleh rezim Tiongkok. Ia memberi contoh seperti berikut ini: 

“Falun Gong, sebuah latihan meditasi kuno dengan ajaran moral berdasarkan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, yang telah dianiaya dengan kejam oleh rezim Tiongkok sejak bulan Juli 1999.”

“Tanggal 4 Juni juga dikenal sebagai Pembantaian Lapangan Tiananmen pada tahun 1989, saat pihak berwenang mengirim pasukan dan tank untuk menghancurkan gerakan pro-demokrasi yang dipimpin mahasiswa di Beijing.”

“Liu Xiaobo, seorang pembangkang politik yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2010.”

“Xi Jinping, nama pemimpin Tiongkok, semuanya dianggap sensitif secara politik.”

Pengguna media sosial Tiongkok mengupayakan banyak cara untuk menghindari komentar mereka terkait dengan Xi Jinping yang disensor. Sebagai hasilnya, Liu Lipeng mengatakan ada lebih dari  35.000 kata, simbol, atau kombinasi kata dan simbol yang berbeda yang terkait dengan Xi Jinping yang dianggap sensitif secara politis. Oleh karena itu, dijadwalkan untuk dihapus.

Liu Lipeng mengatakan bahwa di sebagian besar pemberitahuan perekrutan pekerjaan untuk peran semacam itu, perusahaan- perusahaan mencantumkan syarat, bahwa anggota Partai Komunis Tiongkok dan Liga Pemuda Komunis Tiongkok  lebih disukai.

Persyaratan pekerjaan juga meliputi:

“Calon harus memiliki kepekaan politik,” yang berarti, mengikuti garis Partai Komunis Tiongkok.

“Latar belakang pendidikan tinggi biasanya diperlukan, tetapi tanpa persyaratan untuk jurusan tertentu,” kata Liu Lipeng. 

Liu Lipeng lulus dari universitas dengan jurusan sumber daya manusia. Ia secara alami menjadi target konsultan yang memburu orang-orang untuk pekerjaan peninjau konten.

Liu Lipeng percaya bahwa alasan sebenarnya untuk persyaratan kuliah adalah karena di Tiongkok, lulusan perguruan tinggi mengalami  indoktrinasi politik selama masa pendidikan. Liu Lipeng menatakan bahwa ketakutan adalah bagian kehidupan sehari-hari bagi peninjau konten di Tiongkok.

“Anda tidak akan melihat anda diawasi, tetapi anda tahu anda diawasi. Anda merasa anda diawasi,” kata Liu Lipeng. Liu Lipeng menyatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok memiliki cabang-cabang Partai Komunis Tiongkok di semua kantor perusahaan media sosial.

“Kami semua tahu siapa anggota Partai Komunis Tiongkok di kantor kami, dan biasanya mereka sangat ramah kepada semua orang. Mereka tidak pernah memberitahumu apa yang harus dilakukan. Tetapi mengenai masalah penting, mereka akan berbicara keras mengenai apa yang mereka yakini, dan anda tahu itu adalah sikap resmi,” kata Liu Lipeng.

TikTok dan versi bahasa Mandarinnya yaitu Douyin,  keduanya adalah milik ByteDance, sebuah perusahaan media sosial Tiongkok yang didirikan oleh Zhang Yiming pada tahun 2012. TikTok memungkinkan pengguna untuk mengunggah video berdurasi 60 detik dengan cepat, menjadi populer setelah diluncurkan.

Pada bulan April 2018, program media sosial ByteDance paling populer Neihanduanzi, terpaksa menghentikan operasinya oleh pihak berwenang Tiongkok di bidang sensor, Administrasi Radio dan Televisi Nasional.

Setelah pelarangan tersebut, Zhang Yiming membuat permintaan maaf kepada masyarakat dan mengakui bahwa produk itu berjalan ke arah yang salah, dan menyimpang dari nilai-nilai inti sosialis…perusahaan terlalu fokus pada teknologi, tetapi mengabaikan bahwa penggunaan teknologi harus di bawah arahan nilai inti sosialis..

Demikian berita ET News hari ini. Terima kasih telah menonton, dan silakan subscribe channel ini dan bagikan ke teman-teman Anda. Jika Anda memiliki opini, silakan beri komentar di bawah ini. Sampai jumpa. 

vivi/rp

Video Rekomendasi

Share

Video Popular