Ivan Pentchoukov

Penjabat Ketua Komite Intelijen Senat AS, Marco Rubio mengatakan Konsulat Tiongkok di Houston, yang diperintahkan oleh Amerika Serikat untuk ditutup, adalah “markas mata-mata secara massif” yang bekerja untuk Partai Komunis Tiongkok. 

“Konsulat Tiongkok di Houston bukan fasilitas diplomatik. Ini adalah simpul utama dari jaringan mata-mata dan pengaruh yang luas dari Partai Komunis di Amerika Serikat. Sekarang gedung itu harus ditutup dan mata-mata memiliki 72 jam untuk pergi atau menghadapi penangkapan, ” kata Rubio dalam cuitannya di Twitter pada 22 Juli 2020. Ia menambahkan perintah penutupan itu sudah lama tertunda.

 

Sebelumnya juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus mengatakan pada 22 Juli, bahwa AS memerintahkan konsulat Tiongkok di Houston agar ditutup. 

Juru bicara itu mengatakan penutupan itu diperintahkan “untuk melindungi kekayaan intelektual Amerika dan informasi pribadi Amerika.”

Chen Yonglin, sekretaris dan konsul pertama Beijing untuk urusan politik di Sydney, Australia, yang membelot pada tahun 2005 mengatakan, Kedutaan dan konsulat Tiongkok di seluruh dunia diberi mandat untuk memengaruhi politisi lokal dan pejabat pemerintah. Selain itu, memobilisasi komunitas Tionghoa dan mahasiswa Tionghoa untuk memajukan pengaruh Partai Komunis Tiongkok. 

Chen Yonglin mengatakan : “Kontrol komunitas Tionghoa perantauan telah menjadi tujuan strategis yang konsisten dari Partai Komunis Tiongkok sebagai cara untuk menembus arus utama negara tuan rumah. 

“Ini bukan hanya di Australia. Ini dilakukan dengan cara ini di negara-negara seperti AS dan juga Kanada,” ujarnya. 

Perintah penutupan itu muncul menyusul tuduhan dua warga negara Tiongkok atas kampanye spionase dunia maya yang berlangsung selama satu dekade. Mereka dituduh mencuri informasi tentang rancangan senjata, informasi obat, kode sumber perangkat lunak, dan data pribadi.

Pada bulan April lalu, dokumen pengadilan dari gugatan federal yang tidak disegel di Connecticut, menuduh bahwa duta besar Tiongkok untuk Amerika Serikat dan seorang diplomat Tiongkok terkemuka di New York City, memfasilitasi perekrutan rahasia para ilmuwan di Amerika Serikat. 

The Daily Beast adalah yang pertama melaporkan kasus ini.

Pada September tahun lalu, Amerika Serikat mengusir dua pejabat kedutaan Tiongkok karena mengendarai mobil ke pangkalan militer “sensitif” di Virginia. Itu adalah yang pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun,  para diplomat Tiongkok diusir karena diduga melakukan tindakan spionase.

Pejabat tinggi Amerika Serikat baru-baru ini memperkuat kritikan mereka terhadap Partai Komunis Tiongkok.  Mereka mengatakan rezim komunis Tiongkok adalah ancaman terbesar bagi Amerika Serikat.

Sekitar 80 persen dari semua tuntutan spionase ekonomi oleh Departemen Kehakiman AS, menuduh perilaku kriminal dimaksudkan untuk menguntungkan Partai Komunis Tiongkok.  

Departemen Kehakiman AS menyebutkan, komunis Tiongkok  terlibat dalam beberapa langkah sekitar 60 persen dari semua kasus pencurian rahasia perdagangan. 

Direktur FBI Christopher Wray mengatakan pihaknya sedang membuka penyelidikan kontra intelijen baru yang melibatkan Komunis Tiongkok setiap 10 jam. 

FBI memiliki lebih dari 2.000 investigasi terkait Tiongkok yang aktif, sebagai bagian dari Prakarsa Tiongkok, kampanye kontra-Partai Komunis Tiongkok berskala besar diluncurkan pada bulan November 2018 oleh Jaksa Agung Jeff Sessions.

Komunis Tiongkok menyebut perintah untuk menutup konsulat itu “suatu eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Pihak komunis Tiongkok mengatakan akan membalas jika Amerika Serikat tidak mencabut perintah itu. 

Kementerian Luar Negeri Komunis Tiongkok mengatakan, Amerika Serikat memberikannya tiga hari untuk menutup konsulat.

Juru bicara kementerian luar negeri Komunis Tiongkok Wang Wenbin mengatakan, konsulat beroperasi secara normal, tetapi tidak menanggapi pertanyaan tentang laporan dokumen yang dibakar di halaman konsulat. 

Sebuah video yang dikirim ke kantor berita lokal dan diposting di media sosial menunjukkan beberapa titik api di halaman  terbuka. Polisi Houston mengatakan kepada FOX 26, bahwa staf di sana membakar dokumen karena mereka diusir dari gedung.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Houston, Samuel Pena, kepada KTRK mengatakan, tampaknya pembakaran terbuka dalam wadah di halaman fasilitas konsulat Tiongkok. Bukan api yang tidak dibatasi tetapi pihaknya belum diizinkan mengaksesnya. 

Departemen Luar Negeri AS tidak segera menanggapi pertanyaan tentang dugaan kegiatan mata-mata di konsulat Tiongkok itu. 

Ortagus tak menyebutkan rincian lebih lanjut tentang perintah penutupan, tetapi menunjuk pada statement Konvensi Wina yang mengamanatkan para diplomat untuk “menghormati hukum dan peraturan negara penerima” dan “memiliki tugas untuk tidak ikut campur dalam urusan internal negara itu.” (asr)

Omid Ghoreishi dan Bowen Xiao berkontribusi pada laporan ini.

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular