Epochtimes, oleh Lin Yan- Berita instruksi penutupan Konsulat  Jenderal Tiongkok di Houston menjadi berita panas sejak hari Rabu, 22 Juli 2020 lalu. Saat ini, alasan di balik Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, yang terdokumentasi dengan baik meliputi karena Konsulat Jenderal Tiongkok di Houston menjadi sarang mata-mata. Tidak hanya dicurigai mencuri intelijen ekonomi dan militer Amerika, tetapi juga secara langsung mengintervensi pejabat terpilih di Amerika Serikat. Bahkan secara langsung mengirim ke luar border tersangka kriminal yang sedang dalam penyelidikan lembaga yudikatif Amerika Serikat.

Peristiwa itu, untuk pertama kalinya, Amerika Serikat menutup konsulat Tiongkok dalam 40 tahun terakhir sejak kedua negara melanjutkan hubungan diplomatik.

Wall Street Journal pada hari Rabu 22 Juli 2020 lalu mengutip berita dari sumber yang akrab dengan masalah ini memberitakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, para pejabat Amerika Serikat semakin khawatir dengan kegiatan-kegiatan Komunis Tiongkok yang dimotori oleh kedutaan besarnya di Washington dan kelima konsulatnya di seluruh Amerika Serikat. 

Konsulat Houston sedang berada dalam pengawasan khusus pemerintah Amerika Serikat. Sumber tersebut memberitakan bahwa FBI telah selama bertahun-tahun memantau personil yang diyakini adalah orang intel milik Konsulat Komunis Tiongkok di Houston. Konsul Jenderal Tiongkok di Houston tertangkap ikut melancarkan pengiriman tersangka kriminal ke luar border Amerika Serikat. 

Dalam sebuah wawancara dengan New York Times pada hari Rabu 22 Juli 2020 lalu, Asisten Sekretaris Negara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk Asia Pasifik, David Stilwell mengungkapkan bahwa Cai Wei, Konsul Jenderal Tiongkok untuk Houston bersama 2 orang diplomat lainnya baru-baru ini, tertangkap sedang mengantar penumpang Tiongkok ke pintu boarding pesawat Air China di Bandara Houston dengan menggunakan informasi penumpang yang berbeda.

David Stilwell mengatakan bahwa dokumen boarding yang dipegang Air China berbeda tanggal lahir dengan penumpang yang merupakan pejabat diplomatik Tiongkok.

Selain itu, Konsulat Jenderal komunis Tiongkok di Houston merupakan “pusat penggerak” di mana militer komunis Tiongkok mengirim mahasiswa Tiongkok ke universitas-universitas Amerika untuk memperoleh informasi  intelijen demi memperluas keunggulan militernya. 

David Stilwell mengungkapkan bahwa selama 6 bulan terakhir, komunis Tiongkok telah mempercepat kegiatan pencurian hasil penelitian ilmiah tertentu dari Amerika Serikat. Ini mungkin berkaitan erat dengan pengembangan vaksin virus komunis Tiongkok. “Kita telah mengambil langkah-langkah praktis untuk mencegah mereka melakukan hal itu,” kata David Stilwell.

Kasus ini bukan kasus pertama kalinya komunis Tiongkok menggunakan saluran diplomatik untuk meloloskan pelarian informan penting mereka kembali ke daratan Tiongkok melalui maskapai penerbangan ‘Air China’. 

Sebelumnya pernah terjadi, pada tahun 2019, manajer operasional darat Air China yang warga Amerika etnis Tionghoa, Lin Ying mengaku bersalah di Pengadilan Federal New York. Dia mengaku telah membantu Qin Fei, seorang pengusaha Beijing  yang kasus pidananya sedang diselidiki oleh FBI meloloskan diri dengan naik pesawat pada 28 Oktober 2015.

FBI terus mencurigai bahwa Qin Fei adalah agen mata-mata komunis Tiongkok. Akibat Lin Ying yang mengetahui Qin Fei adalah subjek investigasi FBI dan masih membantunya untuk melarikan diri, maka Lin Ying dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dengan tuduhan menyembunyikan agen asing dan berulang kali melayani komunis Tiongkok.

Berusaha mempengaruhi Kongres Amerika Serikat, negara bagian dan pejabat tinggi Amerika Serikat

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada hari Rabu 22 Juli, Pejabat Ketua Komite Intelijen Senat Kongres, Marco Rubio mengatakan bahwa Konsulat Jenderal Tiongkok di Houston pada dasarnya berada di garis depan kegiatan spionase komunis Tiongkok dan simpul utama kegiatan spionase komersial dan spionase pertahanan. 

“Konsulat juga terlibat dalam kegiatan mata-mata yang mencoba mempengaruhi Kongres. Dalam banyak kasus, mereka menggunakan orang-orang bisnis untuk mencoba mempengaruhi anggota kongres dan pemimpin politik di tingkat negara bagian dan lokal,” kata Rubio. 

Rubio mengungkapkan bahwa Konsulat Tiongkok di Houston adalah pusat mata-mata, Amerika Serikat tahu siapa yang menjadi mata-mata. Rubio memiliki akses ke informasi rahasia Kongres. Ini juga bukan pertama kalinya lingkaran politik memperhatikan infiltrasi komunis Tiongkok terhadap Amerika Serikat. 

New York Times melaporkan tahun lalu bahwa pemerintah Amerika Serikat diam-diam mengusir 2 orang pejabat kedutaan Tiongkok sebelumnya karena keduanya masuk ke pangkalan militer yang sensitif di Virginia. Salah satu dari mereka adalah agen intelijen komunis Tiongkok.

Kejadian serupa terjadi pada tahun 1987. Amerika Serikat mengusir 2 orang agen mata-mata yang disembunyikan dengan fungsi diplomatik di Kedutaan Besar komunis Tiongkok.

Mengancam pejabat Amerika Serikat dengan membatalkan investasi Tiongkok jika mereka pergi ke Taiwan

Sekretaris Negara Amerika Serikat, Mike Pompeo mengatakan pada Pertemuan Gubernur Nasional pada bulan Februari 2020 lalu, bahwa Konsulat Tiongkok di New York, Illinois, Texas, dan dua konsulatnya di California seharusnya memenuhi tanggung jawab dan hak-hak diplomatik yang tercantum dalam Konvensi Wina. Akan tetapi mereka sangat aktif secara politis di tingkat negara bagian, bahkan Kedutaan Besar Tiongkok di Washington DC juga demikian.

Pompeo membaca surat kiriman Konsul Jenderal Tiongkok di New York yang ditujukan kepada majelis negara bagian di Amerika Serikat, yang berisi tuntutan agar pejabat terpilih Amerika Serikat tidak menggunakan hak kebebasan bicara mereka di Amerika Serikat.

Surat itu menyebutkan : “Pejabat terpilih tidak melakukan kontak formal dengan pejabat Taiwan, termasuk mengirim pesan ucapan selamat kepada presiden Taiwan yang baru terpilih, memperkenalkan RUU dan deklarasi pemilihan, mengirim pejabat dan perwakilan ke Taiwan untuk menghadiri upacara pelantikan presiden terpilih dan mengundang pejabat Taiwan untuk mengunjungi Amerika Serikat.”

Pompeo juga menyinggung soal surat yang dikirim dari seorang pejabat diplomat Konsulat Jenderal Tiongkok di Houston untuk Gubernur Negara Bagian Mississippi, Phil Bryant yang isinya mengancam jika Phil berangkat ke Taiwan maka rencana investasi Tiongkok di Mississippi akan dibatalkan.

Area layanan Konsulat Jenderal Tiongkok di Houston meliputi Alabama, Arkansas, Florida, Georgia, Louisiana, Mississippi, Oklahoma, dan Texas.

Pejabat komunis Tiongkok merekrut elit untuk dikirim bekerja di daratan Tiongkok

Pompeo juga menyinggung soal penemuan dari penelitian yang dilakukan oleh Universitas A&M Texas di dekat Houston bahwa lebih dari seratus orang sarjana telah direkrut untuk mengisi ‘Program 1000 Talenta’. Meskipun hanya 5 orang dari mereka yang mengambil inisiatif untuk menyatakan bahwa mereka bersedia berpartisipasi dalam program itu.

Seorang pejabat universitas menyatakan bahwa prioritas perekrutan yang dikehendaki Beijing adalah para peneliti yang berkecimpung di bidang ilmiah.

Media Amerika Serikat ‘Washington Examiner’ pada 25 Juni memberitakan bahwa menurut sebuah dakwaan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh FBI, disebutkan duta besar Tiongkok untuk Washington dan diplomat di New York diam-diam membantu perekrutan ilmuwan dari Amerika Serikat yang rencananya dikirim bekerja di daratan Tiongkok.

Laporan menyebutkan, sumber memberitahu FBI bahwa para diplomat dari Kedutaan Besar Tiongkok di Washington DC bersama Konsulat Jenderal di New York mengadakan pertemuan ilmiah di Boston, dan pejabat komunis Tiongkok dari daratan Tiongkok juga diundang untuk hadir. 

Namun, para pejabat komunis Tiongkok ini terbang ke Amerika Serikat untuk merekrut orang-orang yang sudah dijadikan target. Ilmuwan yang baru saja dituntut oleh FBI ini adalah salah satu dari beberapa pembicara yang memberikan pidato sambutan di acara tersebut.

Laporan itu mengatakan bahwa meskipun dokumen penuntutan tidak menyebut nama duta besar Komunis Tiongkok untuk Amerika Serikat, Cui Tiankai. Tapi hanya Cui Tiankai yang menjadi duta besar untuk Amerika Serikat sejak tahun 2013.

Komunis Tiongkok memaksa para pelajar asal Tiongkok menjadi agen dan melapor secara berkala

Pompeo juga menjelaskan, menyambut baik siswa-siswi asal daratan Tiongkok yang berbakat untuk belajar di Amerika Serikat, tetapi mereka tidak perlu takut dengan “lengan panjang” Beijing. Terutama melakukan “operasi lengan panjang” melalui kelompok-kelompok seperti Asosiasi Pelajar dan Cendekia Tiongkok (Chinese Students and Scholars Association. CSSA).

“Memang ada laporan yang sangat kredibel menyebutkan bahwa pejabat pemerintah Tiongkok memberi tekanan pada pelajar asal daratan Tiongkok yang belajar di Amerika Serikat untuk mengawasi rekan-rekan sesama mahasiswa asal Tiongkok dan memberikan laporan ke Beijing,” katanya.

Komunis Tiongkok memanfaatkan para warga etnis Tionghoa di luar negeri, terutama mahasiswa asal Tiongkok untuk menjadi agen mata-mata. Seorang mantan agen komunis Tiongkok yang telah insaf dan menolak menjadi agen lagi mengungkapkan bahwa komunis Tiongkok menggunakan CSSA sebagai organisasi topeng untuk melakukan kegiatan spionase.

Demikian berita ET News hari ini. Terima kasih telah menonton, dan silakan subscribe channel ini dan bagikan ke teman-teman Anda. Jika Anda memiliki opini, silakan beri komentar di bawah ini. Sampai jumpa. (sin/rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular