Epochtimes, oleh Li Yan- Dr Douglas Dieterich, ahli hepatologi di Rumah Sakit Mount Sinai di New York City mengisahkan pengalamannya kepada Fox News. Dia mengaku sudah dirawat di ruang ICU selama beberapa pekan.

Dia mengikuti tahapan fisioterapi selama beberapa bulan. Kondisinya sudah mulai pulih dan indra penciumannya juga berangsur membaik. Akan tetapi Dr Douglas Dieterich hanya bisa mencium bau yang tidak sedap, sedangkan bau harum belum bisa.

“Ketika saya melepas sepatu dan kaos kaki, saya mencium baunya yang kurang sedap. Saya sangat senang bisa kembali mencium bau,”  kata Dr Douglas Dieterich. 

Ketika seorang teman yang mengunjunginya memuji bagaimana harumnya bau jeruk di rumahnya, dokter tersebut baru menyadari bahwa dirinya tidak bisa mencium aroma harum buah. Dr. Douglas Dieterich berinisiatif menguji lebih lanjut indra penciumannya.

“Saya menggunakan sekaleng kopi untuk menguji indera penciuman saya. Tetapi tidak ada rasa, tidak tercium bau apa pun,” katanya.

“Wah, saya kehilangan daya penciuman. Ini adalah salah satu gejala umum yang terjadi pada pasien COVID-19,” kata Dr. Douglas Dieterich.

Dr. Douglas Dieterich kemudian berdiskusi dengan ahli saraf tentang penyebab gejala tersebut.

“Sayangnya, ahli saraf hanya memberitahu bahwa penciuman berasal dari dua sumber, satu adalah bau yang tak sedap dan yang lainnya adalah yang sedap. Sejauh ini, hanya daya penciuman yang tak sedap yang sudah bekerja,” jelas Dr. Douglas Dieterich.

Alfred-Marc Iloreta Jr., seorang ahli THT di Rumah Sakit Mount Sinai mengatakan kepada Fox News bahwa virus komunis Tiongkok umumnya dapat berpengaruh terhadap indera penciuman pasien yang terinfeksi.

“Kami percaya bahwa virus komunis Tiongkok baik secara langsung menyerang saraf penciuman dari organ penciuman, atau menyerang sel-sel pendukung di sekitar saraf,” kata Alfred-Marc Iloreta Jr.

Menurutnya itu akan menyebabkan peradangan atau merusak saraf secara langsung, sehingga menghambat atau membatasi indera penciuman, sehingga menyebabkan perubahan indera penciuman. Bahkan muncul bau yang tidak nyata.

Alfred-Marc Iloreta Jr menjelaskan, bahwa bau dan rasa sangat berkaitan erat, dan sedikit saja  perubahan pada bau sudah dapat sangat mempengaruhi rasa. Penelitian telah membuktikan bahwa hilangnya indera penciuman secara jangka panjang dapat mempengaruhi suasana hati seseorang.

Sambil berseloroh, Dr Douglas Dieterich berharap suatu hari ketika dia bangun dari tidur, dirinya sudah mampu mencium aroma kopi, bukan bau kaus kaki yang belum dicuci. (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular