Mary Clark

Stonehenge di Wiltshire, Inggris,  membingungkan dunia selama berabad-abad, para ilmuwan berpikir bahwa mereka akhirnya menyelesaikan setidaknya satu dari misteri Stonehenge yang kuno — tempat asal mula banyak batu besar yang membentuk Stonehenge. Dan itu semua berkat sebuah sampel inti yang telah disimpan di Amerika Serikat selama beberapa dekade.

Hasil penyelidikan selama dua tahun menunjukkan bahwa batu-batu raksasa itu, dikenal sebagai sarsens atau batu-batu pasir yang besar, berasal dari suatu tempat sekitar 24 km di sebelah utara dari tempat batu-batu itu berdiri sekarang di atas Dataran Salisbury di lingkaran batu kuno.

Kisah penemuan baru tersebut dimulai saat sebuah  sampel inti dari salah satu sarsens— “batu 58” – diekstraksi selama pekerjaan konservasi pada akhir tahun 1950-an, saat batang-batang logam dimasukkan untuk menstabilkan sebuah megalit yang retak.

Sampel inti tersebut diberikan sebagai cenderamata kepada Robert Phillips, yang terlibat dalam pekerjaan konservasi di monumen yang ikonik. Robert Phillips membawa sampel inti tersebut saat ia beremigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1977, di mana sampel inti tersebut berada, hingga pada tahun 2018, ia mengembalikan sampel inti tersebut ke English Heritage, organisasi konservasi yang menjaga situs tersebut, untuk penelitian.

Sampel inti batu pasir tersebut memberikan informasi penting, yang memungkinkan para peneliti untuk mempelajari susunan kimia dari batu itu dan membandingkannya dengan batu-batu serupa dari seluruh Inggris Selatan.

Temuan geokimia baru, yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances, menunjukkan bahwa 50 dari 52 megalit Stonehenge yang berwarna abu-abu pucat, berasal dari suatu tempat disebut West Woods di tepi Marlborough Downs di Wiltshire.

Menurut Timothy Darvill, seorang profesor Arkeologi di Universitas Bournemouth, yang terlibat dalam penelitian ini, ilmu pengetahuan yang terlibat cukup lurus ke depan, tetapi hal itu membuktikan asal mula batu-batu itu adalah sulit karena bahan batu-batu itu terbuat dari bahan yang sangat umum.

“Apa yang kami lakukan adalah kasus sederhana sidik jari. Kami mengambil beberapa batu di Stonehenge itu sendiri dan kami sedang mengerjakan geokimia batu-batu itu. Untuk itu, kami mengukur semua elemen jejak kecil yang ada di batu tersebut. Kini, sarsens adalah batu yang benar-benar sulit untuk diolah karena 99 persen terdiri dari silika, dan silika adalah mineral yang cukup terdapat di mana-mana,” kata Timothy Darvill kepada Reuters.

Batu-Batu Besar

Lima belas batu sarsen Stonehenge yang besar, beratnya rata-rata 20 ton dan tinggi hingga 7 meter, membentuk konfigurasi sepatu kuda di pusat monumen. Batu-batu yang tegak dan salib di lingkaran luarnya, dan Heel Stone yang terkenal, Slaughter Stone, dan Station Stones juga adalah sarsens.

Ada 52 dari sekitar 80 sarsen asli yang masih ada di Stonehenge.

Bukit Preseli di Wales, sekitar 240 km jauhnya, adalah tempat “bluestones” yang lebih kecil lainnya yang membentuk lingkaran dalamnya dianggap berasal.

Namun, “sarsens — dalam komposisi yang lebih homogen — adalah mustahil untuk diidentifikasi sampai sekarang,” kata Heritage Inggris dalam sebuah pernyataan.

Penulis utama studi David Nash, profesor geografi fisik di Universitas Brighton, mengatakan dalam sebuah pernyataan : “Para ahli arkeologi dan ahli geologi berdebat di mana batu-batu sarsen yang digunakan untuk membangun Stonehenge berasal dari selama lebih dari empat abad.” 

Ia menambahkan : “Data baru yang bermakna ini akan membantu menjelaskan lebih banyak mengenai bagaimana monumen itu dibangun dan, mungkin, menawarkan wawasan mengenai rute di mana 20 hingga 30 ton batu diangkut.”

Namun demikian, masih ada beberapa misteri yang harus dipecahkan.

“Kami masih tidak tahu di mana dua dari 52 sarsens yang tersisa di monumen tersebut berasal. Ini adalah Batu 26 yang lurus di titik paling utara dari lingkaran sarsen luar dan Batu 160 dari tapal kuda trilithon sisi dalam. Ada kemungkinan bahwa batu-batu ini dulunya adalah batu yang lebih dekat dengan  Stonehenge, tetapi pada tahap ini kita tidak tahu,” kata David Nash.

Stonehenge adalah salah satu landmark paling terkenal di Inggris, dan dianggap memiliki asal usul agama dan mistis oleh banyak orang. 

Geoffrey dari Monmouth, dalam legendanya mengenai Raja Arthur, misalnya, dalam sebuah cerita sampai Abad Pertengahan, dianggap sebagai kisah sejarah Inggris yang nyata, bahkan menggambarkan Stonehenge sebagai diciptakan oleh penyihir Merlin.

Meskipun tujuan pastinya masih belum diketahui, Stonehenge, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, tetap menjadi lokasi yang menarik dan misterius, di waktu normal, menarik hingga 1 juta pengunjung per tahun. (Vv/asr)

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular