Epochtimes, oleh Chang Chun dan Fang Jing- Para petinggi Partai Komunis Tiongkok sedang berada di Beidaihe untuk mengikuti pertemuan yang diadakan setiap tahun. Pemerintah daerah Hebei dan Beidaihe giat melakukan pencegatan terhadap kunjungan warga Chongqing yang menyampaikan petisi. Termasuk warga pemohon petisi dari Chongqing bernama Yang Guangmei, Tang Daiquan, Gu Chun dan lainnya yang bersiap untuk naik kereta berkecepatan tinggi dari Xingtai, Hebei, menuju Beidaihe pada 8 Agustus. Mereka dicegat oleh polisi kereta api. Kartu identitasnya ditahan lalu mereka  dipulangkan secara paksa.

Pada 9 Agustus, 8 orang pemohon petisi lainnya dari Chongqing melakukan perjalanan ke Beidaihe. Tetapi mereka langsung dicegat oleh polisi saat tiba di stasiun Kereta Api Beidaihe. Mereka langsung diperiksa identitasnya. 

Akhirnya, mereka semua dipulangkan secara paksa oleh Kantor Beijing setempat karena status mereka sebagai pemohon petisi.

Salah seorang warga yang dipulangkan paksa bernama Yang Guangmei mengatakan bahwa dia menanyakan kepada polisi pada saat itu : “Saya katakan bahwa saya akan menemui pimpinan pusat, mengapa identitas resmi saya disita ? Alasan apa kalian mencegah warga negara resmi untuk mengajukan petisi ? Kalian bertindak ilegal.”

Polisi bilang mereka akan menunggu sampai pemerintah daerah datang untuk memberi jawaban. Setelah orang-orang yang dikirim kantor polisi pemerintah setempat tiba, Yang Guangmei dan yang lainnya justru dipulangkan secara paksa. “Setibanya di kota asal kita, kita ditinggal begitu saja oleh mereka tanpa mengatakan apa-apa, dibiarkan begitu saja di komunitas kita,” kata Yang Guangmei.

Menurut Yang Guangmei karena pembongkaran bangunan di tempatnya tidak mengikuti aturan yang berlaku, tidak ada kompensasi yang diberikan kepada mereka, maka ia beserta kawan-kawan terpaksa berangkat ke Beijing untuk menyelesaikan masalah. 

“Saya akan mengadukan  keluhan saya. Saya sekarang tidak punya rumah, tidak ada makanan, tidak ada baju untuk dipakai, jadi bagaimana saya sekarang ? Saya memiliki keluarga dengan beberapa anggota, saya memiliki cucu, dan seorang putri yang harus melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas yang sekarang menjadi masalah. Kemudian saya yang sudah tua ini juga sudah lemah dan badan sakit-sakitan, keluarga miskin, saya bahkan sudah tidak punya tempat tinggal,” tutur Yang Guangmei.

Menurut Yang Guangmei, sementara dia tinggal dalam ruang bekas bongkaran, tetapi pemerintah juga tidak mengizinkan. Dua hari sebelumnya, Yang Guangmei melihat tempelan pengumuman di depan pintu rumah yang meminta dirinya untuk pindah pada 12 Agustus. 

“Saya tanya mereka saya hanya tinggal sementara di sini apakah tidak diperbolehkan? Apakah harus mendesak saya menuju jalan buntu?” kata Yang Guangmei.

Yang Guangmei tinggal di Distrik Yubei, Chongqing. Tahun lalu, dia datang ke Zhongnanhai untuk mengadukan keluhannya tetapi ditahan selama 8 hari lalu dipulangkan secara paksa. 

“Mereka takut jika saya melaporkan kebobrokan mereka, jadi mereka terus mencegah munculnya para pemohon petisi. Alasan mereka adalah kita menginjak garis merah, apa garis merah yang mereka maksudkan itu?” Yang Guangmei mempertanyakan. 

Petugas setempat mengatakan Zhongnanhai, Lapangan Tiananmen adalah garis merah. Yang Guangmei membalas dengan mengatakan, “Zhongnanhai dan Lapangan Tiananmen boleh dikunjungi oleh orang asing, kenapa kita orang Tiongkok tidak bisa ke sana ?”

Yang Guangmei menilai di daratan Tiongkok terlalu “gelap”. Entah harus ke mana dirinya menyampaikan keluhan? Tidak ada pejabat yang mau peduli terhadap kesulitan-kesulitan warga, bahkan malah harus menerima tekanan yang berlapis-lapis. (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular