Eva Pu

Dokter-dokter Tiongkok memiliki empat jantung  untuk Sun Lingling, seorang warga negara Tiongkok yang berusia 24 tahun yang selama sembilan bulan menggunakan alat bantu hidup. 

Wanita berusia 24 tahun itu jatuh sakit di Jepang menderita penyakit autoimun yang langka yang mengakibatkan kerusakan jantung yang tidak dapat disembuhkan. 

Pada pertengahan bulan Juni 2020 lalu, tim medis Sun Lingling menerbangkannya ke Rumah Sakit Union Wuhan Tiongkok dengan menyewa sebuah pesawat. Empat jantung yang dicocokkan datang dalam waktu 10 hari. Setelah menjalani operasi selama tujuh jam yang melelahkan, Sun Lingling pulih ke titik di mana ia sudah mampu makan sendiri.

Kisah kelangsungan hidup Sun Lingling, dan sebuah foto dirinya yang tersenyum dan berpose dengan tanda tangan kemenangan di ranjang rumah sakit, muncul di halaman depan surat kabar utama Tiongkok dengan tajuk utama yang dramatis, seperti “Perlombaan hidup atau mati”.

Kedutaan Besar Tiongkok di Jepang menyebut operasi itu adalah “legendaris” dan memuji operasi itu sebagai pertunjukan persahabatan dan kerja sama Tiongkok-Jepang.

Ilustrasi Pengambilan organ secara paksa saat “donor” masih hidup. (Minghui.org)

Tetapi dengan sistem donasi organ sukarela Tiongkok yang masih dalam tahap awal, para ahli mempertanyakan bagaimana rumah sakit tersebut mampu mendapatkan sumber organ yang dicocokkan untuk Sun Lingling sedemikian cepat. Kekhawatiran akan inti tuduhan bahwa rezim Komunis Tiongkok terlibat dalam praktik panen organ secara paksa yang mengerikan, yakni dengan membunuh para tahanan hati nurani dan menjual organ-organnya demi keuntungan.

Organ ‘Sesuai Permintaan’?

Jantung pertama yang datang untuk dicocokkan pada Sun Lingling datang pada tanggal 16 Juni dari Wuhan. Akan tetapi para dokter, dalam menilai arteri koroner, menemukan kondisi kesehatan yang tidak normal dan menyerah.

Setelah menemukan jantung kedua dari Provinsi Hunan di dekat rumah sakit itu, tiga hari kemudian, Sun Lingling menderita demam yang tinggi yang sekali lagi menunda operasi. 

Pada tanggal 25 Juni, Sun Lingling menerima dua tawaran lagi: satu jantung dari seorang wanita di Wuhan, dan satu jantung dari seorang pria di selatan kota Guangzhou. 

Media Tiongkok melaporkan, mereka memilih jantung dari seorang pria di selatan kota Guangzhou karena memiliki “fungsi jantung yang lebih baik.

“Pertanyaannya adalah: siapa sumber dari 4 jantung ini,” kata Dr. Torsten Trey, direktur eksekutif kelompok pembela etika medis Dokter Menentang Panen Organ Secara Paksa. 

Di Amerika Serikat, menurut data pemerintah terbaru dari tahun 2018, pasien yang membutuhkan donor jantung harus menunggu sekitar 6,9 bulan untuk donasi jantung yang cocok. 

“Pada tingkat ini, untuk mendapatkan empat jantung yang cocok untuk orang yang sama — artinya empat orang mendonorkan organnya setelah meninggal di ICU atau dalam kecelakaan fatal — mungkin memakan waktu sekitar dua tahun,” kata Dr. Torsten Trey.

Pada tahun 2020, lebih dari 156 juta orang dewasa Amerika Serikat atau kira-kira setengah populasi Amerika Serikat, memberikan persetujuan donasi. 

Tiongkok, meski negara terpadat di dunia, hanya memiliki sebagian kecil populasi yang memberikan persetujuan donasi, karena keyakinan kebudayaan yang mengakar untuk menjaga tubuh seseorang tetap utuh setelah kematian. 

“Apa yang terjadi pada Sun Lingling adalah mungkin, meskipun sangat tidak biasa, bahkan di dalam sistem donor organ sukarela yang berfungsi dengan baik,” kata Jacob Lavee, seorang profesor direktur departemen bedah dan transplantasi jantung di Universitas Tel Aviv di Israel. 

Namun dalam konteks Tiongkok, Jacob Lavee mengatakan, “kelompok donor organ semacam itu dalam beberapa hari menimbulkan kecurigaan yang tinggi terhadap sifat para donor ini.”

Hal tersebut “lebih mengikuti ‘sistem permintaan,” kata Dr. Torsten Trey, yang menyebut kasus Sun Lingling adalah “di luar penjelasan.”

Transplantasi Paru Ganda

Sistem transplantasi organ Tiongkok diteliti dalam beberapa tahun terakhir, melalui pengadilan rakyat independen yang berbasis di London yang pada bulan Juni 2019 menyimpulkan

“tanpa keraguan” bahwa rezim Komunis Tiongkok  menargetkan para tahanan hati nurani untuk memanen organnya. 

Sumber utama organ tersebut adalah praktisi Falun Gong, sebuah disiplin meditasi untuk meningkatkan pikiran dan tubuh yang dianiaya dengan kejam oleh rezim Tiongkok selama dua dekade terakhir.

Dalam sebuah laporan setebal 160 halaman yang dirilis pada bulan Maret ini, pengadilan rakyat independen tidak menemukan bukti adanya  praktik tersebut telah dihentikan. Laporan itu mengatakan bahwa kurangnya pengawasan internasional telah memungkinkan banyak orang mati secara mengerikan dan tidak perlu.

Menurut penyelidikan oleh lembaga nonprofit Amerika Serikat, World Organisasi untuk Menyelidiki Penganiayaan terhadap Falun Gong menyebutkan bahwa saat virus melanda Tiongkok pada paruh pertama tahun ini, industri transplantasi organ Tiongkok adalah bisnis seperti biasa, tanpa penundaan waktu menunggu organ yang jelas.

Seorang perawat di wilayah Guangxi, Tiongkok memberitahu para penyelidik bahwa, meski takut terinfeksi, mereka  melakukan operasi kapan saja asal organ tersedia, hanya saja mereka tidak melakukan transplantasi organ secara gila-gilaan seperti selama masa pra-pandemi.

Sejak akhir bulan Februari, Tiongkok melakukan setidaknya transplantasi enam paru-ganda pada pasien yang terinfeksi virus Komunis Tiongkok atau Covid-19. Setidaknya dua transplantasi itu di antaranya terjadi di Wuhan, tempat pandemi virus yang sedang berlangsung pertama kali muncul dan adalah sebuah hotspot industri transplantasi Tiongkok. 

Rumah sakit Tiongkok memberikan sedikit informasi mengenai sumber organ-organ itu.

Keterangan gambar : Ethan Gutmann, Rekan Peneliti Studi Tiongkok di Yayasan Peringatan Korban Komunisme di Forum Kebijakan Pengadaan Organ dan Eksekusi di Luar Proses Hukum di Tiongkok di Capitol Hill pada tanggal 10 Maret 2020. (Samira Bouaou / The Epoch Times)

Ethan Gutmann, seorang analis Tiongkok yang menulis buku “The Slaughter” mengenai perdagangan organ terlarang oleh Komunis Tiongkok, mengatakan kasus Sun Lingling menjadi contoh masalah dengan industri transplantasi Tiongkok. “Adalah sangat sedikit mengenai pasien Jepang yang semuanya  adalah baru,” kata Ethan Gutmann.

Ethan Gutmann mencatat bahwa mirip dengan kasus Sun Lingling, keberhasilan transplantasi paru-ganda ditampilkan secara mencolok di media Tiongkok baik dalam bahasa Mandarin maupun Inggris. 

“Pesannya adalah jelas: ‘Kami memiliki organ. Itu adalah aman. Ayolah datang ke sini. Tiongkok adalah terbuka untuk bisnis’,” kata Ethan Gutmann kepada grup media The Epoch Times melalui email.

“Bloody Harvest,” buku lain yang menyelidiki tuduhan panen organ secara paksa di Tiongkok, memuat bahwa menurut seorang turis organ Taiwan yang disediakan delapan ginjal selama dua perjalanan terpisah ke Shanghai selama delapan bulan,  sampai ginjal yang terakhir diterima oleh tubuhnya.

“Praktik semacam itu menunjukkan industri transplantasi yang memiliki kumpulan yang besar atau stabil, dari tahanan politik dan agama yang sudah diketahui jenis-jaringan untuk transplantasi,” kata Ethan Gutmann.

Pada bulan Juli, Jaringan Televisi Fuji Jepang menuai kritik dari pembela hak asasi manusia karena menyiarkan segmen berita mengenai operasi Sun Lingling. Jaringan SMG, sebuah kelompok pembela di Jepang yang menentang pariwisata transplantasi organ, menulis kepada penyiar tersebut. Dia mengatakan bahwa dengan memromosikan industri transplantasi Tiongkok, yang memiliki sejarah pelanggaran hak asasi manusia yang terdokumentasi, semakin menempatkan penonton pada risiko yang membahayakan.

Keterangan gambar ; Para dokter membawa organ segar untuk transplantasi di sebuah rumah sakit di Provinsi Henan, Tiongkok, pada tanggal 16 Agustus, 2012. (Screenshot melalui Sohu.com)

Data yang Berubah-Ubah

Tiongkok baru membentuk sistem donor sukarela pada tahun 2015, yang berjanji itulah satu-satunya sumber organ untuk transplantasi. Tetapi para peneliti membantah klaim tersebut dengan menunjuk catatan Tiongkok yang berubah-ubah.

Sebuah studi pada bulan November 2019 yang diterbitkan di BMC Medical Ethics menemukan bahwa  data donasi organ tersebut hampir sama persis dengan formula matematika,” yang menyimpulkan bahwa pihak berwenang cenderung memalsukan data. 

Lainnya, sebuah studi yang diterbitkan pada bulan Februari di jurnal medis BMJ, mengidentifikasi 440 dari 445 dokumen medis Tiongkok yang gagal menjelaskan apakah individu telah memberi setuju untuk menyumbangkan bagian tubuhnya.

Selama investigasi rahasia baru-baru ini oleh World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong (WOIPFG), seorang dokter militer juga mengakui bahwa mereka memanen organ-organ “berkualitas tinggi” dari orang-orang muda yang masih hidup dan bahkan menawarkan kesempatan kepada para penyelidik untuk melihat sumber organ jika para penyelidik berkenan.

“Selama anda secara lancang mempunyai keberanian, saya dapat membawa anda melihat-lihat ke bangsal … anda akan melihat orang itu berusia 20-an,” kata Li Guowei, seorang ahli bedah transplantasi ginjal di Universitas Kedokteran Militer Keempat di Provinsi Shaanxi. Li Guowe mengatakan dalam sebuah panggilan telepon yang menyamar pada bulan Januari silam. 

Seorang penyelidik WOIPFG kemudian bertanya dalam wawancara terpisah: “Anda menggunakan organ praktisi Falun Gong, tetapi anda tidak dapat mengatakannya secara terus terang, dan hanya mampu mengatakan organ-organ ini dalam kualitas yang baik dan bebas penyakit?” 

“Ya, begitulah cara mengatakannya,” jawab Li Guowei.

“Waktu tunggu yang singkat dan belum pernah terjadi sebelumnya dari operasi transplantasi organ Tiongkok baru-baru ini, seperti transplantasi paru-ganda dan para pasien Jepang, harus memicu pertanyaan di kalangan komunitas internasional, yang bertanggung jawab untuk menolak praktik medis yang tidak etis,” kata Dr. Torsten Trey.

Dr. Torsten Trey menambahkan, jika Tiongkok tidak mengizinkan inspeksi independen tanpa pemberitahuan, komunitas transplantasi internasional harus memisahkan diri dari sistem transplantasi Tiongkok.

vivi/rp

Video Rekomendasi

Share

Video Popular