Ntdtv.com- Menurut laporan New Delhi Television Limited (NDTV) pada Rabu 12 Agustus, CBDT menyatakan bahwa departemen meliputi Delhi, Gurgaon dan setidaknya 24 lokasi di Ghaziabad, mitra Tiongkok, India, dan karyawan bank terlibat dalam aktivitas pencucian uang melalui perusahaan palsu.

CBDT adalah badan pembuat keputusan di departemen perpajakan India. CBDT  menyatakan bahwa anak perusahaan dari perusahaan Tiongkok dan perusahaan terkait menerima lebih dari 100 juta dolar AS atau lebih dari 10 miliar rupee, lebih dari Rp. 1,4 triliun dalam pembayaran palsu di muka melalui perusahaan fiktif untuk membuka “showroom ritel” di India.

Operasi pencarian mengungkapkan bahwa atas permintaan individu Tiongkok, mereka membuat lebih dari 40 rekening bank di berbagai perusahaan virtual, dan lebih dari 100 juta dolar AS kredit mengalir melalui saluran itu.

Selama penggerebekan, pihak berwenang menemukan bukti transaksi yang melibatkan dolar Hong Kong dan dolar AS, serta dokumen kriminal yang melibatkan transaksi “hawala” dan pencucian uang, dengan partisipasi aktif dari karyawan bank dan akuntan sewaan.

Konon seorang pria Tionghoa memegang paspor India palsu adalah otak utama dalam kasus pencucian uang. Pria Tiongkok itu menyiapkan paspor India palsu dari Manipur, sebuah negara kecil di timur laut India.

Petugas pajak telah mengirimkan informasi pria itu ke polisi, dan polisi dapat menuntutnya karena melanggar Undang-Undang Paspor.

Polisi menangkap pria tersebut dan mereka menyatakan bahwa menurut Undang-Undang Pencegahan Pencucian Uang India 2002, lembaga penegak hukum juga dapat mengambil alih penyelidikan kasus tersebut sesuai dengan peraturan pidana.

Kasus tersebut meningkatkan ketidakpuasan New Delhi dengan Beijing sejak konflik perbatasan Tiongkok-India pada bulan Juni. Pernyataan tersebut tidak menyebutkan nama perusahaan dan orang Tiongkok yang terlibat dalam pencucian uang, dan penyelidikan lebih lanjut sedang berlangsung.

“Hawala” adalah sistem transfer nilai informal. Dana ditransfer melalui jaringan pialang atau pialang uang. Tidak ada pertukaran catatan penerimaan antar pialang. Transaksi dilakukan sepenuhnya atas dasar reputasi. Ia dapat beroperasi bahkan tanpa adanya lingkungan hukum dan yudisial.

Meskipun jaringan pialang mata uang tersebar di seluruh dunia, terutama berlokasi di Timur Tengah, Afrika Utara, pinggiran Afrika, dan India dan Tiongkok daratan. Pejabat pemerintah di beberapa negara menyatakan bahwa “hawala” sering digunakan untuk pencucian uang, penghindaran pajak, dan transfer kekayaan tanpa nama.

 (Reporter Li Zhaoxi Laporan / Editor yang bertanggung jawab: Dongye)

hui/rp

Video Rekomendasi

Share

Video Popular