Erabaru.net. Mantan Ketua MPR RI Amien Rais mengkritik oknum-oknum pendukung rezim Presiden Jokowi yang mengatakan bahwa tidak ada lagi komunisme dan PKI sudah mati. Tindakan itu dinilai adalah sebuah kebohongan besar dan sangat memprihatinkan bagi orang-orang yang berpikiran kritis dan mengikuti perkembangan internasional.

“Perhatikan marxisme, komunisme dan sosialisme masih jadi rujukan baku bagi rezim China, oknum-oknum rezim Jokowi sedang menipu rakyat Indonesia ketika mereka menyatakan sudah tidak ada lagi komunisme di muka bumi ini dan tidak perlu khawatir bahwa PKI akan muncul kembali, kata mereka tak ada lagi negara yang menganut marxisme, leninisme dan komunisme. Itu Bohong besar,” ujarnya dalam kanal Youtubenya Amien Rais Official, Kamis (13/08/2020).

Mantan Ketua PP Muhammadiyah itu menjelaskan bahwa banyak tokoh pendukung rezim yang berusaha meyakinkan masyarakat bahwa seolah-olah PKI sudah mati dikubur dan komunisme sudah tak laku lagi. Selain itu, mereka berusaha menyakinkan bahwa PKI sudah jadi hantu. Bahkan, mereka berusaha menegaskan sudah tidak ada lagi negara yang masih menerapkan komunisme, marxisme dan leninisme.

Lebih parah lagi, kata Amien, para komunis malam berupaya meyakinkan masyarakat bahwa komunisme sudah jadi bagian sejarah masa lalu. Meski demikian, mereka lupa bahwa di zaman sekarang ini di internet  serta seluruh informasi global di bidang apa saja sudah  sangat mudah diakses oleh setiap orang. Amien Rais mengingatkan tentang partai Komunis Tiongkok yang masih berkuasa di daratan Tiongkok.

“Mereka buta bahwa RRC yang menjadi junjungan beberapa oknum dalam rezim Jokowi pada hakekatnya merupakan kekuatan komunisme internasional yang paling dahsyat sekarang ini di muka bumi,” ujarnya.  

Bapak Reformasi itu menyatakan bila dahulu Mao Zedong mempropagandakan dan memaksakan Maoisme sebagai ideologi tunggal di Tiongkok, maka Xi Jinping sebagai penguasa puncak dan penguasa tunggal yang jadi Presiden dan Sekaligus sekjen Partai Komunis Tiongkok telah mengeluarkan Xi Jingpingisme.

Amien dalam channel Youtubenya mengungkapkan bahwa di antara 14 butir ideologi Xi Jinping disebutkan  memegang kekuasaan mutlak atas tentara pembebasan rakyat (PLA) dan mengukuhkan jabatan Xi sebagai penguasa tunggal Tiongkok seumur hidup. Sekaligus  menekankan bahwa Tiongkok harus melaksanakan nila-nilai asasi dari Marxisme, Komunisme dan Sosialisme.

Meski demikian, Amien Rais bersyukur bahwa umat Islam tak buta sejarah serta tidak mungkin dapat dibohongi oleh oknum-oknum rezim Jokowi. Menurut Amien, mereka adalah oknum-oknum yang sungguh tak bertanggug jawab.

Pada kesempatan itu, Amien mengungkapkan penelitian David Satter seorang wartawan intelektual yang mendalami masalah-masalah komunisme. Satter mengungkapkan bahwa pada Tahun 1917-2017 selama seratus tahun kaum komunis telah membunuh sekitar 100 juta orang yang dipandang sebagai musuh komunis.

Pria kelahiran Solo 76 tahun silam itu, menjelaskan ada yang lebih terinci soal  temuan yang cukup identik dari seorang guru besar yang mengajar di Universitas Indiana, Universitas Yale dan Universitas Hawai bernama Rudolph Joseph Rummle (1932-2014). Pakar yang mendedikasikan seluruh karya akademiknya untuk mendalami ideologi komunisme itu mencatat, dalam jumlah besar pelenyapan manusia (Democida atau Genocida) oleh kaum komunis.

Penelitian itu menyebutkan akibat ulah Komunis bahwa di Kamboja terbunuh pada Tahun 1975-1979 sebanyak 2.035.000 jiwa, di Tiongkok sudah sangat luar biasa tahun 1949-1987 jumlah yang terbunuh 77.277.000 jiwa, Polandia sebanyak 1,585.000 jiwa di tahun 1945-1948, Vietnam 1945-1987 sebanyak 1,670.000 jiwa, Yugoslavia Tahun 1944-1987 sebanyak 1,072.000 jiwa dan Uni Soviet Tahun 1917-1987 dengan jumlah yang terbunuh sebanyak 61.911.000 jiwa.

Bahkan, ketika  tokoh komunis bengis Polpot menguasai Kamboja selama 1975-1979, ada sekitar 2 juta rakat kamboja yang dibunuh secara sadis. Parahnya, demi  mengehemat peluru, musuh-musuh komunus itu dipenggal kepalanya pakai kapak. Adapun jumlah yang dibunuh itu berkisar 25 persen, dari seluruh jumlah penduduk yang mencapai 7,8 juta jiwa.

Atas fakta-fakta itu, Amien bertanya-tanya kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya kepada Umat Islam apakah akan terus membiarkan bangkitnya Neo PKI dan kemudian mempraktekkan kebengisan khas yang menyasar kepada seluruh orang anti komunis.

Lebih jauh Amien menuturkan bahwa sangat beruntung ada pakar mengenai PKI/Komunisme seperti Alfian Tandjung. Walaupun, ia lebih sering masuk dan keluar penjara dikarenakan rajin memperingatkan bahaya PKI dan komunisme. Mantan Ketua Umum PAN itu mengatakan sudah semestinya berterimakasih kepada sang Ustadz yang tak pernah lelah mengingatkan bangsa Indonesia agar tidak terperosok ke lubang musibah besar yang sama untuk ketiga kalinya yakni peristiwa Madiun 1948 dan Gestapu PKI 1965.

Amien mengingatakan tentang  cara kaum komunis dalam merebut kekuasaannya melalui kudeta cepat. Sebagaimana di Rusia, kaum komunis Pimpinan Lenin pada 17 Oktober 1917 malam hari menangkap seluruh Menteri Tsar Nicholas II. Selanjutnya menangkap dan membunuh ribuan orang yang tak setuju dengan komunisme-leninisme,  menguasai seluruh stasiun kereta api, menguasai seluruh markas kepolisian dan menghabisi seluruh kekuatan militer pendukung Tsar dan sekaligus mengganti dengan tokoh-tokoh tentara merah.

“Pada 18 Oktober 1917, ketika bangun pagi seluruh rakyat Rusia, terutama di Moskow terperanjat merasa seolah hidup di planet lain. Rezim Tsarisme telah berubah sepenuhnya dengan rezim komunisme,” terang Amien. (asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular