Erabaru.net. Total konfirmasi kasus coronavirus wuhan yang dilaporkan pada Selasa (18/08/2020) mencapai 143.043 kasus dengan penambahan 1.673 kasus dari seluruh wilayah Indonesia.

Adapun spesimen yang selesai diperiksa  per hari 14.371 spesimen dengan 320 jumlah laboratorium jejaring.

BACA JUGA :  Pakar : Gunakan Nama ‘Virus Komunis Tiongkok’ untuk Menuntut Tanggung Jawab Rezim Komunis Tiongkok atas Krisis Global

Adapun jumlah orang yang diperiksa secara total berjumlah 1.081.354 jiwa dengan jumlah spesimen secara kumulatif 1.915.039 spesimen. Secara total 143.043 positif  dan 938.311 negatif. Sedangkan kesembuhan mencapai 96.306 kasus.

Secara total kasus konfirmasi di DKI Jakarta berjumlah 30.465 kasus dengan 20.505 kasus sembuh dengan kematian 1.014 jiwa.

Sedangkan di Jawa Timur terdapat 28.551 kasus konfirmasi dengan 21.632 sembuh. Angka kematian mencapai 2.055 jiwa.

BACA JUGA : Kronologi Munculnya Pandemi Virus Komunis Tiongkok dan Kerahasiaan yang Disengaja

Sedangkan di Jawa Tengah dilaporkan 11.793 kasus konfirmasi dengan kesembuhan 7.422 kasus. Jumlah kasus meninggal dunia yang dilaporkan 801 jiwa.

Laporan menyebutkan hanya enam Provinsi nihil temuan kasus yakni Nusa Tenggara Timur, Papua, Lampung, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, dan Jambi.

Sementara itu, banyak upaya telah diusahakan berbagai pihak guna mengatasi penyebaran Corona serta penyembuhan pasien-pasien terjangkit. Salah satu upaya nyata yang kini telah menghasilkan lebih dari 61 inovasi terkait penanganannya adalah dibentukya konsorium guna melakukan berbagai riset  dari sisi pencegahan terhadap virus dan pengobatan bagi para pasien yang sudah berjalan selama empat bulan terakhir.

Namun, sampai saat ini, menurut Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Ph.D selaku Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kemenristek/BRIN, belum ada satu pun obat spesifik yang bisa diklaim sebagai obat penyembuh Virus SARS-CoV-2, termasuk imunomodulator yang sedang dikembangkan oleh konsorium. 

Pernyataan tersebut didukung oleh Dr. Anwar Santoso selaku Anggota Komite Nasional Penilai Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurutnya, sampai saat ini belum ada pernyataan resmi terkait adanya obat spesifik yang efektif serta aman untuk COVID-19. 

“Saya setuju dengan pendapat dari Gufron, bahwa sampai sekarang belum ada satu statement yang menyatakan bahwa ini ada obat yang manjur dan aman untuk COVID-19. Semuanya dalam masih dalam fase uji klinik,” ujar Anwar dari kantor Graha BNPB pada Selasa (18/8).

Bahkan menurut Anwar, badan kesehatan dunia (WHO) yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional pun tidak menyatakan satu statement yang resmi ada obat yang direkomendasikan untuk dipakai atau aman tapi masih dalam status uji klinik.  Soal berbagai obat herbal, menurut Anwar obat herbal tersebut tetap memerlukan uji klinis sehingga aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat dan dapat memberikan nilai saintifik serta nilai sosial yang terjamin. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular