Gu Xiaohua

Warga distrik Dalian Bay, daerah yang paling parah terkena gelombang wabah virus Komunis Tiongkok atau coronavirus wuhan terbaru di Tiongkok, mengeluhkan salah urus regulasi lockdown oleh pihak berwenang. Warga memprotes tak dapat meninggalkan rumah mereka. Bahkan, mengeluhkan tindakan pencegahan yang terlalu ekstrim

Setidaknya sejak akhir Juli 2020, kota Dalian di timur laut Tiongkok mengalami wabah gelombang lanjutan dari COVID-19. Penularan telah menyebar ke sembilan kota di lima provinsi Tiongkok, termasuk Beijing.

Terjadinya peningkatan kasus penularan virus,  mendorong kunjungan baru-baru ini dari Wakil Perdana Menteri Sun Chunlan, yang menggelar tur inspeksi terakhirnya  ke Wuhan, hotspot virus Komunis Tiongkok pertama di dunia.

Otoritas Dalian memberlakukan lockdown dalam upaya membendung penyebaran. Teluk Dalian telah diisolasi secara total sejak 26 Juli 2020. Setelah berminggu-minggu diisolasi, otoritas lokal secara bertahap mulai mencabut Lockdown lokal setelah Sabtu 15 Agustus 2020 pada tengah malam.

Penderitaan Warga

Fujia Newtown adalah kompleks apartemen di Dalian Bay. Seluruh komunitas memiliki 12 gedung apartemen. Setelah seorang anak berusia 13 tahun yang tinggal di kompleks tersebut didiagnosis dengan COVID-19 pada 22 Juli 2020, kompleks tersebut di-lockdown selama tiga minggu.

Saat pelarangan dicabut, warga Fujia masih terjebak dalam ruang gerak di sekitar area kompleks.

Liu dari Fujia Newtown mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sejak 16 Agustus, penduduk berkumpul di lantai bawah dan meminta penjelasan dari pihak berwenang setempat. Namun, hanya seorang staf wanita yang muncul tetapi tidak memberikan penjelasan.

Liu menjelaskan bahwa warga turun secara sukarela. “Kami ingin mengetahui mengapa kami masih tidak bisa keluar, sementara tempat lain sudah mencabut larangan.”

Seorang warga mengatakan bahwa pada dini hari tanggal 17 Agustus mengatakan, sejumlah sepeda motor polisi dan lebih dari 10 mobil polisi menjaga kawasan kompleks tersebut.

Liu melanjutkan, “Selama lockdown, banyak penduduk mencoba menelepon [otoritas lokal], tetapi tidak berhasil. Orang-orang itu sepertinya telah lenyap.”

Ia mengatakan, aparat gagal menyampaikan informasi pandemi kepada warga. Penduduk lain mengatakan, seorang wanita hamil mengalami kontraksi, tetapi ditunda selama tiga jam sebelum dia dirawat di rumah sakit. Sang ibu melahirkan prematur dan bayinya lahir prematur.

Penduduk berkata: “Setelah tiga putaran uji asam nukleat, kompleks itu masih terkunci. Kita perlu hidup, kita perlu makan. Tidak ada yang tahu kapan ini akan berakhir. Pengiriman bahan makanan tidak memberikan pilihan. Saat makanan tiba, sudah busuk. Apalagi yang bisa kita makan? ” Warga juga mengatakan platform pengiriman makanan online yang disediakan oleh pihak berwenang, mengenakan biaya selangit.

 Mr. Liu juga mengatakan dikarenakan platform belanjaan online mahal, dia hanya mengandalkan persediaan beras dan mie yang tersisa untuk menghemat uang. Ia tinggal seorang diri. Dia kehilangan pekerjaannya bertahun-tahun lalu. Dia pernah menjadi pekerja pabrik baja dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Dia sekarang bekerja sebagai petugas keamanan paruh waktu.

Ia berkata : “Minggu pertama [selama lockdown [benar-benar menyedihkan. Anda tidak tahu apa yang ada di depan Anda, pekerjaan, biaya hidup, begitu banyak kekhawatiran … Dan saya menjaga telepon setiap hari, menonton berita sebagai cara berkomunikasi dengan dunia luar.”

Di hari ulang tahunnya, 31 Juli 2020, ia mengatakan : “Saya menangis. Itu terlalu menyakitkan. Saya memasak mie untuk diri saya sendiri. Sungguh menyedihkan. Biasanya kerabat dan teman saya ada di sini, dan saya juga punya anak perempuan. [Tahun ini,] saya menyanyikan lagu ulang tahun di rumah sendirian. ”

Pihak berwenang baru-baru ini mengatakan, Dalian Bay kini menjadi zona berisiko rendah, memberikan kepada Liu harapan bahwa lockdown akan segera berakhir. Dia merayakannya dengan bersulang pada 16 Agustus.

Pimpinan perusahaannya juga menyampaikan dia dapat kembali bekerja ketika lockdown selesai. Pejabat lokal setuju untuk “membuka” Fujia Newtown pada tanggal 19 Agustus. Pihak Komunitas juga mengeluarkan pemberitahuan yang menuntut penduduk untuk mendaftarkan izin masuk, yang akan diminta untuk masuk dan keluar kompleks.

Liu mengatakan, bahwa pejabat setempat tak berjanji kapan bus umum setempat akan Kembali beroperasi. Komunitas ini terletak di pedesaan, jadi akan merepotkan jika layanan bus tidak beroperasi.

 Tidak Waspada

Kebijakan lockdown diberlakukan secara tiba-tiba dan membuat banyak warga tidak waspada. Sebuah sumber di Dalian mengungkapkan bahwa kode QR kesehatan rekan kerjanya tiba-tiba berubah menjadi merah pada pagi hari 17 Agustus.

Sistem kode QR diterapkan secara nasional sebagai cara bagi pihak berwenang untuk melacak status COVID-19 bagi warga dan menentukan apakah mereka bisa lolos melalui pos pemeriksaan.

Kode QR kesehatan merah berarti  harus tinggal di rumah. Perusahaannya mengatakan bahwa dia hanya dapat memverifikasi dengan pemerintah kabupaten setempat tentang situasi tersebut.  (asr)

Catatan : Pandemi global yang terjadi saat ini akibat dari virus Komunis Tiongkok atau yang dikenal dengan pneumonia Wuhan atau coronavirus (COVID-19). Penyebutan Virus Komunis Tiongkok dilakukan sebagai bentuk tuntutan tanggung jawab kepada rezim komunis Tiongkok yang sejak awal berusaha menutupi wabah mematikan tersebut. Lebih miris lagi, menggunakan tangan besi untuk membungkam yang mengungkap fakta penyebaran virus itu. Oleh karena itu sangat penting mengetahui lebih mendalam perbedaan antara rakyat Tiongkok atau Tionghoa dengan rezim komunis Tiongkok

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular