Ntdtv, oleh Li Ming- Menurut laporan VOA pada 22 Agustus 2020 lalu, Adam Boehler, CEO Amerika International Development Finance Corporation (DFC) baru-baru ini berbicara dengan media Amerika Serikat  situs berita ‘Just The News’ tentang strategi pengembangan yang bersifat “lompatan” yang dikehendaki pemerintah Amerika di bidang teknologi komunikasi.   

Adam Boehler mengungkapkan bahwa Pentagon telah mendorong lembaga peneliti Amerika Serikat untuk mengembangan teknologi 6G. Industri memrediksi bahwa kinerja komunikasi seluler 6G dapat mencapai 10 hingga 100 kali lipat kemampuan 5G. 

Selain tuntutan kecepatan transmisi data akan meningkat pesat, frekuensi transmisi juga akan memasuki era Terahertz (THz). Dampaknya terhadap ekonomi dan militer dari transmisi seluler 6G akan menjadi lebih revolusioner.

Untuk membatasi penggunaan cara yang tidak tepat oleh komunis Tiongkok seperti subsidi pemerintah yang besar dalam upayanya memperluas jaringan 5G, pemerintah Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir telah menerapkan serangkaian tindakan menentang perilaku komunis Tiongkok itu seperti memblokir Huawei dalam skala global. 

Dalam video wawancara yang disiarkan oleh situs web ‘Just The News’ pada 9 Agustus, Adam Boehler menunjukkan bahwa perusahaan Huawei di masa lalu telah mendapatkan keuntungan yang tidak dapat diabaikan dalam penyebaran komunikasi 5G global hanya dengan mengandalkan subsidi keuangan besar yang diberikan oleh pemerintah komunis Tiongkok. 

Untuk alasan ini, Amerika Serikat akan mengambil strategi pengembangan “lompatan” melalui pengembangan teknologi 6G untuk melampaui Huawei.

Adam Boehler mengatakan, “Kami lebih tertarik dengan tren selanjutnya. Yang kami minati adalah 6G. Ini bidang investasi kita, karena Amerika Serikat dan negara lain akan memiliki hak dominasi di sana. Sedangkan komunis Tiongkok tidak bisa menggunakan subsidi untuk mengontrol area ini”.

Lebih jauh Adam Boehler  menegaskan, “Salah satu kekhawatiran kita adalah mengapa kita harus melihat 5G dari perspektif perangkat keras. Coba bayangkan, teknologi apapun, semua dimulai dari perangkat keras, lalu beralih ke virtualisasi dan perangkat lunak. Huawei dan 5G, adalah teknologi industri lama. Jadi, apakah suatu negara akan menghabiskan miliaran dolar untuk membiayai pengembangan teknologi di industri lama di saat yang sama membahayakan keamanan nasional ? Ini adalah pertanyaan yang akan saya tanyakan pada diri saya sendiri, dan akan saya pertimbangkan secara saksama, apakah mau berinvestasi di sana.”

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency), Badan Proyek Riset Lanjut Pertahanan Amerika Serikat  telah bekerja sama dengan organisasi nirlaba Semiconductor Research Corporation (SRC) sejak tahun 2016 untuk membentuk kelompok investasi kooperatif dengan lebih dari selusin perusahaan teknologi swasta Amerika. 

Pada bulan Januari 2018 secara resmi mengumumkan pemberian bantuan dana untuk proyek penelitian kolaboratif yang terdiri dari lebih dari 30 universitas Amerika Serikat.

Sebagaimana yang diperkenalkan bahwa, nama resmi proyek ini adalah ‘Joint University Microelectronics Program’ (Program Bersama Mikroelektronika Universitas) yang disingkat JUMP. Proyek ini berencana untuk menginvestasikan dana sekitar USD. 200 juta dalam 5 tahun untuk pengembangan inovatif bidang mikroelektronika. 

40% dari dana penelitian dan pengembangannya akan ditanggung oleh DARPA, dan 60% sisanya akan disponsori oleh perusahaan swasta Amerika Serikat.

VOA pada 22 Agustus juga mewawancarai Sundeep Rangan, penanggung jawab tim Sekolah Teknik Tanden Universitas New York yang berpartisipasi dalam sub-proyek dari proyek penelitian ‘JUMP’ yang bernama ‘ComSenTer’ (Communications Sensing Terahertz).

Sebagai seorang profesor teknik elektronik dan komputer, Sundeep Rangan mengatakan bahwa terahertz adalah salah satu teknologi kunci untuk transmisi data 6G, dan investasi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat dalam proyek mutakhir mikroelektronika ini mungkin menjadi fokus militer dalam pemanfaatan teknologi terahertz. 

Namun Sundeep Rangan juga menekankan bahwa prospek pengembangan 6G sangat bergantung pada keberhasilan pengembangan komersialnya.

Industri memrediksikan bahwa kinerja komunikasi seluler 6G akan mencapai 10 hingga 100 kali lipat kemampuan dari seluler 5G, kecepatan transmisi data akan mencapai 100GB per detik, atau bahkan setinggi 1TB per detik, dan frekuensi transmisi juga akan memasuki era Terahertz (THz).

Sundeep Rangan juga menunjukkan bahwa fungsi 5G saat ini terutama ditujukan untuk meningkatkan kemampuan peralatan teknis generasi sebelumnya seperti telepon seluler, sedangkan visi masyarakat tentang teknologi 6G perlu melampaui batasan perangkat seluler saat ini. 

“Saya pikir apa yang dapat kita lihat dari 6G adalah akan ada jenis perangkat lain yang mendapat manfaat dari koneksi nirkabel, tergantung bagaimana 6G berkembang,” kata Sundeep Rangan.

Abishur Prakash, salah satu pendiri ‘Centre for Innovating the Future’ yang berkantor pusat di Toronto, Kanada menunjukkan dalam sebuah wawancara dengan VOA bahwa 6G dapat memungkinkan kendaraan otonom, otomatisasi sistem medis, transportasi drone, prakiraan polisi secara luas dan matang menjadi mungkin.

Abishur Prakash menekankan, “6G akan membawa banyak manfaat ekonomi. Kita berbicara tentang kecepatan unduh 1 Gigabytes per detik dan terabyte (TB) per detik. Kita berbicara tentang konektivitas dan lompatan besar dalam kecepatan. Dalam hal kecepatan, ini hanyalah lompatan besar. Dengan kecepatan ini, masyarakat terbuka baru akan terwujud”.

Menurut Abishur Prakash yang juga penulis teknologi dan geopolitik,  semua negara besar di dunia sangat menyadari bahwa 6G dan teknologi baru lainnya akan menjadi kunci kekuatan geopolitik di masa depan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan pesannya melalui Twitter pada bulan Februari 2019. Dirinya berharap untuk melihat teknologi 5G dan bahkan 6G di Amerika Serikat sesegera mungkin. Trump mengingatkan perusahaan Amerika Serikat perlu mempercepat upayanya atau jika tidak mereka akan tertinggal.

Faktanya, militer komunis Tiongkok telah mulai membahas penerapan teknologi 6G di bidang militer. Sebuah artikel yang diterbitkan di harian militer Tiongkok pada bulan April tahun ini menekankan bahwa jika teknologi 6G digunakan dalam skala besar di bidang militer, itu akan sangat meningkatkan kemampuan pengintaian intelijen tak berawak, komando dan kendali cerdas, operasi pertempuran visual, dan dukungan kecepatan dan ketepatan. 

Pengembangan yang berdampak signifikan bagi bentuk peperangan, peningkatan fungsi peralatan, komunikasi di medan perang, dan praktik militer lainnya.

Selain itu, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Finlandia, Swedia, Jerman, dan Inggris yang merupakan negara berkekuatan teknologi komunikasi tradisional, telah bergabung dalam jajaran penelitian dan pengembangan teknologi 6G.

Memang belum ada kesimpulan akhir tentang bagaimana teknologi 6G dapat menembus 5G dan mencapai pengembangan “lompatan”. Namun, ada pendapat dari industri bahwa 6G mungkin didasarkan pada BTS 5G untuk meningkatkan efisiensi komunikasi, dan dapat memanfaatkan metode komunikasi generasi baru seperti satelit, drone, dan bahkan komunikasi cahaya tampak (Visible Light Communications. VLC).

Elon Musk, pendiri perusahaan ‘SpaceX’ menganjurkan penggunaan satelit untuk menyediakan layanan Internet berkecepatan tinggi, dan meluncurkan proyek ‘Starlink’. 

Abishur Prakash mempertanyakan, “Apakah itu ‘SpaceX’, ‘Starlink’, atau ‘Amazon’, Orbital Internet akan segera menjadi kenyataan. Oleh karena itu, satelit akan segera berkembang menjadi berkemampuan 6G. Ini juga akan segera mengubah cara negara membangun infrastruktur telekomunikasi”.

Tidak diragukan lagi bahwa pengembangan internet satelit akan membuat Amerika Serikat, yang memiliki keunggulan di bidang teknologi ruang angkasa mengembangkan teknologi 6G jauh lebih cepat dan unggul. (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular