Ntdtv.com- Pada 24 Agustus 2020 lalu, Kedutaan Besar Tiongkok di Afrika Selatan mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa dampak dari wabah virus Komunis Tiongkok di awal tahun, menyebabkan tingkat pengangguran Afrika Selatan tinggi dan keamanan publik memburuk secara tajam. Akibatnya sering terjadi kejahatan dengan kekerasan serius. 

Dalam satu setengah bulan terakhir sudah ada 7 warga Tiongkok tewas disini. Di antara warga Tiongkok yang terbunuh adalah Zhong Zhiwei dan istrinya, mantan presiden Asosiasi Qilu Afrika Selatan.

Laporan Radio Free Asia pada tanggal 25 mengutip orang yang bertanggung jawab atas kantor media Tiongkok di Afrika Selatan mengungkapkan bahwa penyerangan dan pembunuhan warga Tiongkok setempat menyebabkan kematian dan cedera yang lebih serius daripada yang diumumkan resmi oleh Komunis Tiongkok.

Orang dalam mengatakan bahwa situasi keamanan publik di Afrika Selatan telah memburuk belakangan ini daripada di masa lalu. Dulu, 50 orang terbunuh setiap hari, tetapi sekarang telah meningkat menjadi lebih dari 60 orang setiap hari. 

Oleh karena itu, pemerintah daerah tidak terlalu serius menanggapi orang-orang Tiongkok yang dibunuh.

“Saya telah menghitungnya. Rata-rata, satu orang Tiongkok harus mati dalam 4 hari. Karena Afrika Selatan telah kelaparan selama 5 bulan dari Maret hingga sekarang, jadi ini (perampokan dan pembunuhan) lebih serius,” kata sumber orang dalam. 

Pada 13 Agustus tahun ini, Zhong Zhiwei dan istrinya, mantan ketua Asosiasi Qilu Afrika Selatan, ditembak dan dibunuh oleh penjahat di siang hari bolong di Johannesburg. 

Media lokal melaporkan bahwa tiga pria yang menyerang Zhong Zhiwei dan istrinya melepaskan setidaknya enam tembakan, membunuh mereka.

Banyaknya orang yang menganggur karena dampak epidemi, membuat masyarakat Afrika Selatan semakin bergolak dan memicu kebencian sosial. Opini publik percaya bahwa pembunuhan, perampokan, dan penculikan berturut-turut baru-baru ini terhadap warga negara Tiongkok terkait dengan jenis kebencian ini.

Seorang teman Zhong Zhiwei bermarga Fan diwawancarai oleh Radio Free Asia beberapa hari yang lalu. Ketika berbicara tentang insiden penembakan Zhong Zhiwei dan istrinya, dia berkata: “Setelah epidemi, banyak pabrik, dan perusahaan telah tutup. Mereka sudah tidak bekerja selama lebih dari 5 bulan, sehingga tingkat kejahatan lebih banyak daripada biasanya. Orang Tionghoa berbisnis dan banyak uang, mereka biasanya berbisnis dengan uang tunai. “

Ia juga mengungkapkan bahwa putranya sendiri juga pernah dipukul di Afrika Selatan, dan matanya pecah. Alasannya adalah orang Tionghoa yang membawa virus Komunis Tiongkok ke Afrika Selatan dan sangat muak dengan fenomena orang Tiongkok memakan hewan liar yang menyebabkan penyakit menular.

Selain itu, pengusaha Tionghoa di Zambia, Afrika Tengah, juga mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa karena Komunis Tiongkok menyembunyikan epidemi virus Komunis Tiongkok, pengusiran dan karantina paksa orang kulit hitam terjadi di Guangzhou, yang menyebabkan tekanan pada orang Tionghoa di Afrika berlipat ganda. 

Sebelumnya ada tiga orang pengusaha Tionghoa dibunuh dan dibakar oleh warga setempat, dan beberapa pabrik di sekitarnya diserang oleh penduduk setempat. 

Pengusaha Tionghoa di Afrika ingin kembali ke Tiongkok tetapi dihadapkan pada hambatan yang ditetapkan oleh pemerintah Tiongkok. Sebagian besar harus tetap tinggal dan pasrah pada nasib.

Faktanya, penyebaran epidemi dan insiden permusuhan yang dipicu oleh strategi serigala perang Komunis Tiongkok di luar negeri tidak hanya terjadi di Afrika Selatan. 

Pada 11 Mei tahun ini, Yan Bangchao, wakil ketua Kamar Dagang Zhejiang di Myanmar, diburu oleh penjahat di Yangon dan tewas di dalam mobil pribadi dengan banyak luka di dada, tulang rusuk dan perut.

Keesokan harinya, Kamar Dagang Hunan di Myanmar mengeluarkan pemberitahuan kepada anggotanya, meminta mereka untuk tidak main-main dengan pria dan wanita, dan tidak berpikir mereka ingin menjadi “kaisar” di Myanmar jika mereka memiliki uang di saku mereka.

Pemberitahuan tersebut juga berulang kali menekankan untuk tidak terlibat dalam diskriminasi rasial dan nilai ekspor. 

“Terutama di tempat umum atau grup WeChat, jangan selalu mencoba untuk menempatkan nilai dan keyakinan Anda sendiri di kepala orang lain. Orang lain akan melihat tanpa mengatakannya. Karena memikirkan persahabatan, kita harus tahu bagaimana menyatu,” bunyi pemberitahuan Kamar Dagang Hunan di Myanmar itu.

(Laporan Komprehensif Reporter Liming / Pemimpin Redaksi: Ming Xuan)

hui/rp

Video Rekomendasi

Share

Video Popular