Erabaru.net- Kota Surabaya mencatatkan angka kasus terkonfirmasi positif dan kematian akibat coronavirus Wuhan tertinggi di seluruh wilayah perkotaan/Kabupaten di Indonesia. 

Data itu disampaikan oleh Anggota Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (26/08/2020) dalam channel Youtube BNPB.

Laporan itu disampaikan dalam pemaparan 40 kabupaten/kota di Indonesia dengan jumlah kumulatif kasus COVID dan kematian tertinggi di Indonesia.

Jika dilihat dari bahan pemaparan yang disampaikannya, secara kumulatif kasus positif 70 persennya berasal dari perkotaan atau 28 kota dari 40 kota/Kabupaten. Sedangkan 12 lainnya atau 30 persen berasal dari Kabupaten.  

Adapun dari peringkat satu hingga 20, ada dua Kabupaten dengan kasus kumulatifnya yang tertinggi yakni Sidoarjo dan Gresik bahkan mengalahkan kota-kota yang lainnya di Indonesia. “Ini adalah bentuk evaluasi kita apa yang akan kita benahi di Kabupaten/Kota,” ujarnya.

Kendati demikian, jika dilihat dari angka kematian ditemukan angka perbedaan yang tak jauh besar dengan Kabupaten.  Secara keseluruhan di Kota, angka kematian berjumlah 55 persen dibandingkan dengan Kabupaten yang menyumbang 45 persen.

“Kalau tadi (kasus konfirmasi posiif) gap jauh, kalau ini (kematian) tidak jauh, kita sudah melihat peringkat sepuluh terbesar, ada 2 kabupaten masuk ke sana, kalau kita bicara kematian dari top 20, 6 kabupaten masuk angka kematian tertinggi di Indonesia,” ujarnya.

Perbedaan dari kota dan Kabupaten,  kata Dewi, dilihat dari kerentanannya.  Faktor pertama yaitu jumlah penduduk yang mana di Indonesia hanya 98 perkotaan dengan 416 Kabupaten. Jika dilihat dari data itu, maka penilaian satu berbanding empat. “Ternyata penduduknya di Kota ini menyumbang 55 persen,” terangnya.

Faktor kedua adalah soal kepadatan penduduk, ketika dihitung luas per kilo meter persegi. Meski demikian, jumlah fasilitas kesehatan lebih banyak di Kota.  Sedangkan Kabupaten dengan fasilitas Kesehatan yang lebih sedikit.

Lebih jauh, Dewi mengungkapkan tentang kota dengan mobilitas dan aktivitasnya yang tinggi. Maka muncul kemungkinan ada penularan.

Dewi kemudian menyarankan perlunya kesiapsiagaan  karena tingginya jumlah kasus di Kota. Oleh karena itu, perlu dipahami faktor kerentanan yang berbeda jangan sampai penularan menjadi tinggi. Selanjutnya, harus menyesuaikan respon yang tinggi di kabupaten/kota dengan fasilitas kesehatannya memperhatikan jumlah tempat tidurnya dan kapan merujuk kepada yang lebih besar untuk melaksanakan pengobatannya. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular