Ntdtv.com- Media Jepang ‘NHK’ mengutip sumber berita dari pihak militer Amerika Serikat melaporkan bahwa komunis Tiongkok telah meluncurkan 4 buah rudal balistik jarak menengah ke Laut Tiongkok Selatan pada 26 Agustus lalu.

Rudal jatuh pada perairan antara Nansha dan Kepulauan Paracel. Jenis rudalnya masih sedang dianalisis. Sementara Media ‘South China Morning Post’ mengutip sumber yang dekat dengan militer Tiongkok  mengungkapkan bahwa militer Tiongkok pada 26 Agustus pagi telah meluncurkan rudal di Laut Tiongkok Selatan. Salah satu rudal Dongfeng -26B (DF-26B) diluncurkan dari Provinsi Qinghai, dan yang lainnya rudal Dongfeng-21D (DF-21D) diluncurkan dari Provinsi Zhejiang. 

Administrasi Keamanan Maritim Zhejiang mengumumkan pada yang sama bahwa pihak berwenang militer komunis Tiongkok akan melakukan pelatihan penggunaan senjata praktis di perairan Laut Timur mulai 27 Agustus pukul 08.00 pagi hingga 30 Agustus pukul 18.00 sore. 

DF-26B memiliki jangkauan sekitar 4.000 kilometer dan dapat membawa hulu ledak tradisional atau nuklir. Sedangkan DF-21D memiliki jangkauan sekitar 1.800 kilometer. Keduanya dikenal sebagai rudal balistik anti-kapal yang mampu menyerang target air yang besar, dan dikenal sebagai “pembunuh kapal”. 

Menurut berita, tujuan komunis Tiongkok meluncurkan rudal adalah untuk meningkatkan kemampuan Beijing dalam menolak akses pasukan lain yang masuk ke Laut Tiongkok Selatan. 

Dikatakan juga bahwa pesawat militer dan kapal perang Amerika Serikat semakin sering memasuki wilayah laut tersebut dan komunis Tiongkok melakukan hal ini untuk menanggapi potensi risiko yang dibawa oleh tindakan Amerika Serikat.

Sebelumnya, militer komunis Tiongkok menyebutkan bahwa pesawat pengintai AS U-2 acapkali “menyusup” ke dalam zona latihan amunisi di daerah militer utara komunis Tiongkok. 

“Sangat mudah untuk menyebabkan salah tafsir dan bahkan menimbulkan kecelakaan” dan “Harus segera diperingatkan agar tindak provokasi ini dihentikan,” kata militer komunis Tiongkok.

Sebagai tanggapan, Angkatan Udara Pasifik Amerika Serikat mengeluarkan pernyataan pada 26 Agustus yang memberi konfirmasi bahwa pesawat pengintai U-2 memang mengudara, tetapi pesawat tersebut tidak melanggar aturan dan regulasi apa pun. Operasi serupa masih akan terus dilanjutkan.

Pesawat pengintai AS U-2. (USAF/Getty Images)

Juru bicara pemerintah Jepang dan Kepala Sekretaris Kabinet Suga Yoshihide mengatakan pada konferensi pers pada 27 Agustus  bahwa dirinya tidak mengomentari kasus tersebut tetapi pihak berwenang Jepang terus mengawasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunis Tiongkok  di Laut Tiongkok Selatan di waktu belakangan ini. 

Semua negara, termasuk Jepang, sangat memperhatikan isu-isu perdamaian dan stabilitas kawasan. Suga Yoshihide mengatakan bahwa semua negara yang terlibat dalam masalah di Laut Tiongkok Selatan harus berusaha keras untuk menyelesaikan sengketa secara damai berdasarkan hukum internasional.

Pada 22 Agustus, Amerika Serikat mengkritik keras kegiatan komunis Tiongkok yang dilakukan dalam wilayah sengketa di Laut Tiongkok Selatan. Disebutkan bahwa komunis Tiongkok pada 13 Agustus kembali mengerahkan kapal eksplorasi ‘Haiyang Dizhi 8’ ke perairan lepas di pantai Vietnam, bahkan dikawal oleh kapal polisi maritim yang bersenjata. 

Langkah ini jelas dapat mengobarkan kembali sengketa wilayah di Laut Tiongkok Selatan antara komunis Tiongkok dengan Vietnam. 

Pihak berwenang Vietnam juga menyatakan bahwa langkah tersebut melanggar zona ekonomi eksklusif Vietnam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Morgan Ortagus mengatakan : “Dalam beberapa pekan terakhir, komunis Tiongkok telah mengambil serangkaian langkah campur tangan dalam kegiatan ekonomi negara-negara ASEAN”. 

Menurut Ortagus, Amerika Serikat percaya bahwa tindakan komunis Tiongkok itu bertujuan untuk memaksa negara-negara menolak eksplorasi bersama dengan perusahaan minyak dan gas alam asing, kecuali bekerja sama dengan perusahaan milik negara Tiongkok. (sin/rp)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular