Eva Fu

Seorang pasien, sebagai seorang profesional Teknologi Informasi tanpa kondisi kesehatan yang mendasarinya, diuji positif untuk kedua kalinya untuk virus tersebut pada tanggal 15 Agustus 2020 selama pemeriksaan. Itu terjadi saat tiba di bandara Hong Kong setelah perjalanan ke Spanyol dan Inggris.

Saat pertama kali jatuh sakit sekitar 4 1/2 bulan yang lalu, pria itu menderita batuk, nyeri tenggorokan, demam, dan nyeri kepala, dan dirawat di rumah sakit pada tanggal 26 Maret, menurut sebuah laporan oleh para peneliti Universitas Hong Kong.

Pria itu akhirnya pulih pada tanggal 14 April. Tidak jelas kapan atau bagaimana ia menjadi terinfeksi kembali, tetapi ia tetap tidak menunjukkan gejala selama infeksi kedua itu.

Setelah analisis genetik, para peneliti menemukan setidaknya 24 perbedaan antara genom dari dua strain virus SARS-CoV-2 (nama ilmiah untuk jenis Coronavirus baru), menunjukkan bahwa pasien yang sembuh dari COVID-19 adalah tetap rentan.

Strain kedua paling erat kaitannya dengan sampel yang dikumpulkan di Swiss dan Inggris dari bulan Juli hingga Agustus, menurut para peneliti studi tersebut, yang telah diterima untuk diterbitkan dalam jurnal medis Penyakit Infeksi Klinis.

Sedangkan kasus-kasus pasien yang kambuh telah dikutip di Tiongkok dan negara lainnya sebelumnya, kasus Hong Kong adalah infeksi ulang pertama yang dibuktikan melalui pengurutan genetik.

BACA JUGA :  Pakar : Gunakan Nama ‘Virus Komunis Tiongkok’ untuk Menuntut Tanggung Jawab Rezim Komunis Tiongkok atas Krisis Global

Temuan itu, kata para peneliti, berfungsi sebagai pengingat bahwa kekebalan tubuh setelah pemulihan dan vaksinasi virus tidak dapat selamanya melindungi seseorang dari bahaya virus tersebut. Virus tersebut cenderung tetap ada, mirip dengan flu biasa, dan pasien yang sembuh harus tetap memperhatikan pedoman kesehatan, seperti mengenakan masker, mengikuti aturan jaga jarak sosial, dan mempertimbangkan pilihan vaksinasi.

Pria tersebut dipulangkan dari rumah sakit Hong Kong pada tanggal 21 Agustus, menurut laporan media setempat.

Kelvin Kai-wang To, profesor klinis di Departemen Mikrobiologi Universitas Hong Kong dan rekan penulis studi, mengatakan kepada wartawan pada tanggal 24 Agustus bahwa pasien ini cukup beruntung karena tidak mengalami gejala apa pun selama infeksi kedua, tetapi pihaknya tidak dapat berasumsi bahwa infeksi kedua dari setiap orang akan menjadi ringan”.

Ia mengatakan : “Mungkin ada infeksi kedua, dan bahkan infeksi ketiga, infeksi keempat mungkin tidak mengejutkan, yang mengakibatkan lebih sulit untuk mengendalikan wabah.”

Virus-virus sering mengalami mutasi genetik saat virus-virus bereplikasi dan beradaptasi dengan lingkungan pejamu, yang dapat membuat patogen tersebut jauh lebih berbahaya atau kurang berbahaya.

Mutasi tersebut, yang disebut D614G, yang telah berkembang biak di Eropa dan Amerika Serikat, menghasilkan 4 atau 5 lebih tonjolan pada mahkota virus SARS-CoV-2 yang secara bermakna meningkatkan infektivitasnya. Hal demikian menurut penelitian terbaru oleh Scripps Research, sebuah lembaga penelitian medis nirlaba.

Menurut sebuah studi pada bulan Juli dari Universitas California–Los Angeles, setelah virus menyerang tubuh, sistem kekebalan tubuh seseorang menghasilkan antibodi untuk menetralkan patogen tersebut, sekaligus menawarkan perlindungan terhadap infeksi di masa depan. Tetapi kekebalan semacam itu memudar seiring waktu, terutama bagi orang-orang yang menderita gejala yang lebih ringan.

David Strain, dosen senior klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Exeter, mengatakan bahwa kasus Hong Kong adalah “temuan yang mengkhawatirkan.”

“Vaksinasi bekerja dengan mensimulasikan infeksi pada tubuh, sehingga memungkinkan tubuh untuk mengembangkan antibodi. Bila antibodi tidak memberikan perlindungan yang langgeng, kami perlu kembali ke strategi yang nyaris menghilangkan virus tersebut untuk kembali ke kehidupan yang lebih normal,” kata David Strain.

Pandemi global yang terjadi saat ini akibat dari virus Komunis Tiongkok atau yang dikenal dengan pneumonia Wuhan atau coronavirus atau COVID-19. Penyebutan Virus Komunis Tiongkok dilakukan sebagai bentuk tuntutan tanggung jawab kepada rezim komunis Tiongkok yang sejak awal berusaha menutupi wabah mematikan tersebut. Bahkan, menggunakan tangan besi untuk membungkam yang mengungkap fakta penyebaran virus itu. (vv)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular