Theepochtimes.com- Turki dan Yunani bersumpah pada tanggal 26 Agustus 2020 untuk mempertahankan klaimnya untuk bersaing sisi timur Mediterania, karena para sekutu NATO tetap terkunci dalam sengketa yang semakin menegangkan atas hak eksplorasi energi lepas pantai.

Yunani mengumumkan rencana untuk memperluas perairan teritorialnya di sepanjang garis pantai barat dan menggelar latihan militer hari kedua di perairan, yang mana Turki menantang yurisdiksi maritim yang ditetapkan Athena.

Yang membuat khawatir para sekutu Barat, negara-negara tetangga mengirim kapal perang untuk saling membayangi pada bulan ini di daerah antara Kreta dan Siprus, di mana Turki memiliki kapal yang melakukan penelitian pengeboran. Militer Yunani maupun Turki terlibat dalam latihan di bagian laut Mediterania pada tanggal 25 Agustus.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berkata : “Turki akan mengambil haknya di Mediterania, di Aegean, dan di Laut Hitam. Karena kami tidak memata-matai wilayah, kedaulatan, dan kepentingan siapa pun, kami tidak akan pernah berkompromi dengan apa yang menjadi milik kami. Kami bertekad untuk melakukan apa pun yang diperlukan dalam politik, ekonomi, dan militer”.

Kata-kata keras Recep Tayyip Erdogan muncul meskipun ada upaya mediasi oleh Jerman, di mana Menteri Luar Negeri Jerman melakukan diplomasi ulang alik antara Athena dan Ankara sehari sebelumnya. Langkah itu dalam upaya untuk meredakan keadaan, saat Turki dan Yunani terlibat dalam latihan militer bersaing di laut.

Recep Tayyib Erdogan menyatakan : “Kami mengundang lawan bicara kami untuk bertindak bersama dan untuk menghindari kesalahan yang akan menyebabkan kehancuran mereka”.  

Sementara itu di Athena, Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis mengatakan, Yunani berencana untuk menggunakan hak hukumnya untuk memperluas perairan teritorialnya di sepanjang wilayah garis pantai barat dari enam hingga 12 mil laut.

Perpanjangan yang direncanakan di sepanjang garis pantai Yunani yang menghadap ke Italia, tidak secara langsung memengaruhi kawasan tersebut di tengah perselisihan Yunani-Turki. Tetapi Perdana Menteri Kyriakos  Mitsotakis mengatakan kepada parlemen, bahwa Yunani telah meninggalkan dekade kebijakan luar negeri yang “pasif.”

Kyriakos Mitsotakis, berbicara di parlemen, menggambarkan tindakan Turki sebagai “ilegal dan provokatif,” tetapi menambahkan bahwa Athena bersedia memulai pembicaraan dengan Turki sebagai bagian inisiatif yang ditengahi Jerman bila survei seismik Turki berhasil dihentikan.

“Posisi kami adalah sangat jelas dan dapat diringkas dalam enam kata: Kapan provokasi berhenti, pembicaraan dapat dimulai,” kata Kyriakos Mitsotakis kepada anggota parlemen.

Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas pada tanggal 25 Agustus terbang ke Yunani dan Turki untuk menyerukan dialog dan meredakan ketegangan. Jerman memperingatkan bahwa “percikan  sekecil apa pun, dapat menyebabkan bencana.” Kunjungan Menteri Luar Negeri Jerman dilakukan sebelum pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa di Berlin akhir minggu ini, di mana Turki akan dibahas.

Setelah pembicaraan dengan Heiko Maas, Menteri Luar Negeri Yunani dan Menteri Luar Negeri Turki mengisyaratkan kesiapan untuk berdialog, tetapi saling menyalahkan atas kebuntuan tersebut. Kapal Turki Oruc Reis selama berminggu-minggu melakukan penelitian seismik dikawal oleh kapal perang Turki. 

Yunani, yang mengatakan kapal Turki tersebut beroperasi di atas landas kontinen Yunani, dalam area di mana Yunani memiliki hak eksklusif atas potensi cadangan gas dan minyak bawah laut, menggirim kapal-kapal perang untuk membayangi armada Turki.

Turki membantah klaim Yunani, bersikeras bahwa pulau-pulau kecil Yunani di dekat pantai Turki tidak boleh diperhitungkan saat menggambarkan  batas maritim. Ankara menuduh Athena berupaya mengambil bagian yang tidak adil dari sumber daya bagian timur Mediterania.

Turki juga mencari hidrokarbon di perairan yang diklaim Siprus sebagai hak ekonomi eksklusifnya. Ankara mengatakan melindungi haknya dan hak atas Siprus Turki di pulau yang terbagi secara etnis.

“Setiap orang harus melihat bahwa Turki bukanlah negara yang kesabaran, tekad, kapabilitas, dan keberaniannya dapat dipermainkan. Jika kami mengatakan, kami akan melakukan sesuatu, maka kami akan melakukannya dan mengorbankan apa pun. Jika ada ingin menantang kami dan menghadapi konsekuensinya, mereka dipersilakan. Jika tidak ingin menghadapi konsekuensinya, maka menjauhlah dan kami akan melanjutkan pekerjaan kami,” kata Recep Tayyi Erdogan pada tanggal 26 Agustus.”

Pemimpin Turki itu berbicara selama peringatan yang menandai pertempuran Manzikert yang terjadi pada tahun 1071, di mana Seljuk Turki mengalahkan pasukan Byzantium, dengan berhasil masuk ke Anatolia.

 (Vv/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular