Frank Fang

Chen Guangcheng, seorang pengacara hak asasi manusia tunanetra Tiongkok  yang melarikan diri dari Tiongkok dan tiba di Amerika Serikat pada tahun 2012, menyerukan kepada negara-negara demokratis dan pemilih untuk mendukung Presiden Donald Trump. Hal demikian untuk menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh rezim Komunis Tiongkok.

“Partai Komunis Tiongkok adalah musuh kemanusiaan. Partai Komunis Tiongkok meneror rakyatnya sendiri dan Partai Komunis Tiongkok memang mengancam kesejahteraan dunia,” kata Chen Guangcheng pada tanggal 26 Agustus 2020 sebagai pembicara pada malam ketiga Konvensi Nasional Partai Republik, bertemakan Land of Heroes.

Ia mengatakan : “Di Tiongkok, mengungkapkan keyakinan atau ide yang tidak disetujui oleh Partai Komunis Tiongkok — agama, demokrasi, hak asasi manusia — dapat mengarah ke penjara. Bangsa Tiongkok hidup di bawah pengawasan dan sensor massal.”

Rezim komunis Tiongkok telah menganiaya jutaan orang berkeyakinan, termasuk Kristen, Muslim Uyghur, Buddha Tibet, dan praktisi Falun Gong. 

Falun Gong adalah latihan spiritual dengan ajaran moral dan latihan meditasi yang telah menjadi sasaran penganiayaan di seluruh Tiongkok sejak bulan Juli 1999, di mana ratusan ribu praktisi Falun Gong ditahan dan disiksa di dalam penjara, pusat pencucian otak, dan kamp kerja paksa.

Pada bulan Juni 2019, Duta Besar Amerika Serikat untuk kebebasan beragama Sam Brownback mengatakan bahwa “perang melawan keyakinan” oleh Beijing akan gagal, dalam pidatonya di The Heritage Foundation, sebuah wadah pemikir Amerika Serikat.

Pembangkang politik seperti Chen Guangcheng menantang aturan satu partai yaitu aturan Partai Komunis Tiongkok.

“Saat saya berbicara menentang kebijakan ‘satu- anak’ dan ketidakadilan lainnya di Tiongkok, saya dianiaya, dipukuli, dikirim ke penjara, dan dijadikan tahanan rumah oleh Partai Komunis Tiongkok,” kata Chen Guangcheng.

Beijing mulai memberlakukan kebijakan satu-anak pada tahun 1979, dan keluarga yang tidak melakukan mematuhi kebijakan tersebut, dikenakan denda berat, aborsi paksa, dan sterilisasi. Kebijakan itu akhirnya dicabut pada tahun 2016.

Chen Guangcheng dipenjara pada tahun 2006 menyusul gugatan class action-nya melawan pihak berwenang setempat di Provinsi Shandong, timur Tiongkok karena penegakan kebijakan satu-anak secara berlebihan. Chen Guangcheng kemudian dijatuhi hukuman penjara selama empat tahun dan tiga bulan karena “merusak properti dan mengganggu lalu lintas.”

Setelah menjalani hukumannya, Chen Guangcheng dibebaskan pada tahun 2010, tetapi kemudian dibebaskan dijadikan tahanan rumah.

“Pada bulan April 2012, saya melarikan diri dan diberi perlindungan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beijing. Saya selamanya berterima kasih kepada rakyat Amerika Serikat karena telah menyambut saya dan keluarga saya di Amerika Serikat, di mana kami kini adalah bebas,” kata Chen Guangcheng.

Chen Guangcheng memiliki pesan untuk pemerintahan Donald Trump dan pemerintah demokrasi lainnya di seluruh dunia.

“Amerika Serikat harus menggunakan nilai-nilai kebebasan, demokrasi, dan aturan hukumnya untuk mengumpulkan koalisi negara demokrasi lain untuk menghentikan agresi Partai Komunis Tiongkok,” kata Chen Guangcheng.

Pada bulan Juli, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo meminta negara-negara bebas untuk “memicu perubahan perilaku Partai Komunis Tiongkok” dalam pidatonya di Perpustakaan dan Museum Kepresidenan Richard Nixon di California.

Guangcheng menambahkan pada tanggal 26 Agustus: “Presiden Donald Trump telah memimpin dalam hal ini dan kami membutuhkan negara lain untuk bergabung dengannya dalam pertarungan ini — perjuangan untuk masa depan kita. Kita perlu mendukung, memilih, dan memperjuangkan Presiden Donald Trump…demi dunia.”

Sebelum pidatonya di Konvensi Nasional Partai Republik, Chen Guangcheng  berbicara dengan NTD yang berbasis di New York.

Chen Guangcheng menunjuk ke pandemi saat ini, yang disebabkan oleh virus  Komunis Tiongkok, yang biasanya dikenal dengan jenis Coronavirus baru, sebagai contoh cara kerja Partai Komunis Tiongkok yang menimbulkan ancaman bagi seluruh dunia.

Beijing awalnya berusaha keras untuk menyembunyikan penyebaran virus Komunis Tiongkok, membungkam delapan dokter whistleblower — di antaranya dokter mata Dr. Li Wenliang — setelah para dokter itu  menggunakan media sosial Tiongkok untuk memperingatkan adanya sebuah bentuk baru pneumonia misterius pada akhir bulan Desember 2019.

Pada bulan Mei, Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa pandemi telah  menjadi “serangan terburuk” di Amerika Serikat.

“Pandemi ini seharusnya tidak pernah terjadi. Pandemi ini seharusnya dapat dihentikan di sumbernya. Pandemi ini dapat dihentikan di Tiongkok. Seharusnya pandemi ini dihentikan tepat di sumbernya, dan ternyata tidak demikian,” kata Donald Trump saat itu.  (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular