oleh Xu Jian

Pada  Selasa 1 September 2020 lalu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo  menerima wawancara dengan program Fox Business Network ‘Lou Dobbs Tonight’. Dalam wawancara itu, kembali menyinggung soal masalah seperti pencurian teknologi oleh komunis Tiongkok, dan konsulat jenderal komunis Tiongkok di Amerika Serikat sebagai sarang agen mata-mata mereka serta apakah akan membatasi pelajar asal daratan Tiongkok.

Pada awal bulan Agustus tahun ini, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi mengatakan bahwa hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok sedang memasuki era perang dingin baru. 

Lalu apakah sebutan perangan dingin yang diucapkan Menlu Tiongkok itu sudah dapat dikonfirmasi ?

“Benar, menggunakan metafora “perang dingin” untuk melukiskan hubungan antara kedua negara agaknya di luar kaitan. Tetapi faktanya adalah bahwa Partai Komunis Tiongkok di bawah kepemimpinan Sekretaris Jenderal Xi Jinping telah membuat pilihan,” jawab Pompeo.

 Menurut Pompeo, Xi Jinping telah membuat pernyataan yang jelas dalam semua aspek, apakah itu menyangkut perluasan kekuatan militer, upaya diplomatik, mencoba membangun negara pengikut melalui proyek-proyek OBOR (One Belt One Road) dan lainnya. 

Komunis Tiongkok adalah sebuah rezim otoriter yang berjuang untuk hegemoni di seluruh dunia, membawa tantangan yang berbeda. 

“Komunis Tiongkok ada tantangan ekonomi di dalam negeri, dan di luar ada Departemen Pekerjaan Front Bersatu, jadi kami terpaksa menutup Konsulat Jenderal Tiongkok di Houston, Texas, karena ada kegiatan spionase di sana. Itu memang merupak sarang mata-mata,” kata Pompeo.

Usai menjelaskan hubungan antar kedua negara yang mirip saat terjadinya Perang Dingin, Pompeo mengatakan : “Perbedaannya dengan Perang Dingin adalah bahwa kita sedang menghadapi tantangan negara dengan populasi 1,4 miliar jiwa (yang diandalkan oleh Partai Komunis). Pertumbuhan PDB tahunan rata-rata negara tersebut adalah sekitar 6%, yang menyebabkan Amerika Serikat kehilangan jutaan pekerjaan. Kita akan menghadapi mereka (komunis Tiongkok), dan Presiden Trump akan melakukan perlawanan satu per satu di semua bidang ini”.

Pompeo menambahkan : “Saya pikir Anda telah melihatnya sendiri pernyataan dari komunis Tiongkok yang semakin keras, karena mereka merasakan tekanan dari pemerintah saat ini”.

Pompeo mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari dan minggu mendatang, semua akan melihat pemerintahan Presiden Trump mengambil tindakan sangat serius pada tingkat yang lebih besar, termasuk membatasi pelajar asal daratan Tiongkok untuk studi di Amerika Serikat. 

“Anda akan melihat bahwa Amerika Serikat menangani masalah ini dengan cara yang sangat serius, dan apa yang kita lakukan akan menguntungkan ekonomi Amerika,” kata Pompeo.

 Menurut Pompeo Partai Komunis Tiongkok menolak untuk bertindak seperti negara normal dan menolak untuk bersaing dengan cara yang normal dalam berbisnis. Sesungguhnya Amerika Serikat telah mentolerir hal ini selama beberapa dekade. 

“Kita telah mengklarifikasi keberadaan permasalahan secara sepenuhnya. Sekarang adalah waktu bagi kita untuk melakukan dan mewujudkan strategi yang relevan dari presiden,” kata Pompeo. 

Ketika ditanya soal apakah akan ada larangan bagi semua mahasiswa asal daratan Tiongkok untuk memasuki Amerika Serikat, Pompeo menjawab bahwa dalam hal ini dia tidak tahu keputusan apa yang pada akhirnya akan dikeluarkan oleh presiden Trump. 

Menurut Pompeo, tidak semua dari mereka adalah agen mata-mata, tetapi banyak dari mereka berada di bawah pengawasan Partai Komunis Tiongkok. Keluarga mereka juga dijadikan target pengawasan Partai Komunis Tiongkok setelah mereka kembali ke daratan Tiongkok. Ini semua dilakukan oleh pemerintah komunis Tiongkok, khususnya, Partai Komunis Tiongkok untuk memastikan bahwa sekalipun orangnya yang berada di luar negeri harus bekerja untuk kepentingan rezim. (sin/rp)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular