Erabaru.net. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan soal ditemukannya Virus Corona D614G yang bermutasi di wilayah Indonesia. Sebagaimana diketahui penyebaran coronavirus bermula dari Wuhan, Tiongkok.

Hal demikian disampaikannya dalam Konferensi Pers di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta, Rabu (2/9/2020) via Channel Youtube BNPB.

Bambang menuturkan bahwa pihak Indonesia sudah melakukan Whole Genome Sequencing (WGS) yang tujuannya untuk mengetahui karakter dari virus corona. Ia menguraikan bahwa whole genome sequencing (WGS) dilakukan oleh penelitian masing-masing negara di dunia kemudian disubmit kepada ke Global Initiative on Sharing ALL Influenza Data (GISAID) yang merupakan bank data dari virus Influenza.

“Saat ini Indonesia sudah menyampaikan 34  sequencing dari genome SARS-Cov-2, yang mana hanya 24 dilakukan Analisa lebih lanjut oleh GISAID,” ujarnya.

BACA JUGA :  Pakar : Gunakan Nama ‘Virus Komunis Tiongkok’ untuk Menuntut Tanggung Jawab Rezim Komunis Tiongkok atas Krisis Global

Bambang menambahkan, sebanyak 24 genome tersebut sudah dianggap memenuhi syarat sebagai Whole Genome Sequencing. Sebanyak 24 whole genome sequencing tersebut terdiri 4 dari UGM, 2 dari LIPI, 2  dari Kerjasama ITB-UNPAD dan Lab Kesehatan Daerah Jawa Barat, 10 dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dan 6 dari Universitas Airlangga.

Soal berita yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan Malaysia  soal mutasi D614G, Bambang memaparkan bahwa mutasi tersebut sudah ditemukan di Bulan Januari 2020 di Jerman dan Tiongkok.

Selain itu, jika dilihat dari seluruh Whole Genome Sequencing yang ada GISAID, maka pada dasarnya sudah 78 persen virus mengandung mutasi D614G. “Jadi artinya mutasi D614G sudah mendominasi virus SARS COV-2,” ungkapnya.

Di mana penemuan virus tersebut? Bambang menjelaskan dari 24 whole genome sequence yang sudah di-submit, 9 di antaranya mengandung mutasi D614G. Rinicannya, dua dari surbaya, tiga dari Jogyakarta, dua dari Tangerang dan Jakarta, dan dua dari Bandung.

Ia mengatakan sudah berkomunikasi dengan Presiden GISAID. Kemudian disebutkan bahwa tidak ada atau belum ada bukti virus mutasi tersebut lebih ganas dan berbahaya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio membenarkan bahwa keberadaan mutasi virus D614G memang sudah dideteksi di Indonesia. Hal demikian sudah dilaporkan pada bulan Mei 2020 lalu.

“Dari  isolate virus yang diperoleh bulan April, bulan April sudah ada, kemudian berturut-turut ditemukan kota-kota lain di Jogya, Bandung, Jakarta,” ujarnya.

Amin menuturkan, pada saat ini pihaknya berupaya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut soal temuan itu di kota lainnya di seluruh wilayah Indonesia. Tujuannya, kata Amin, agar diperoleh gambaran tentang seberapa luas mutasi virus D614G.

Ia juga menuturkan bahwa keberadaan virus dengan mutasi D614G tersebut, masih belum ada dukungan data ilmiah yang kuat soal sebagai faktor penyebab penularan yang lebih cepat atau atau menambahkan semakin beratnya penyakit. “Namun, kita tetap tidak boleh menggangap bahwa pandemi ini tidak dapat dibiarkan,” tambahnya. (asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular