oleh Zhong Yuan

Pada 3 September 2020, 7 orang anggota Komite Tetap Partai Komunis Tiongkok yang selama beberapa hari tidak terlihat pada acara terbuka, secara bersamaan menghadiri acara peringatan 75 tahun kemenangan dalam perang melawan Jepang yang diselenggarakan di gedung Museum Memorial Rakyat Tiongkok Anti-Jepang yang terletak di Beijing Xi Jiao. Di saat itu, hadir juga Wang Qishan sehingga komposisinya menjadi 7 + 1, yang juga menjadi  fenomena yang langka selama beberapa waktu terakhir ini.

Anggota Komite Tetap 7 + 1, pertama-tama berbaris di luar, kemudian masuk ke aula peringatan dan berbaris lagi untuk memberi penghormatan. Delapan orang tidak termasuk sedikit, tetapi karena tidak ada orang lain yang diperbolehkan berada di sekitar, sehingga mereka masih mampu menjaga jarak sosial.

Laporan Standing Committee CCTV 7 + 1 berlangsung lebih dari 7 menit. Setelah mereka pergi, orang lain baru diizinkan masuk ke dalam gedung untuk meletakkan karangan bunga.

Mengapa 7 + 1 Komite Tetap sengaja dipisahkan dari yang lain, kemudian baru mendapatkan jawabannya. Pada hari yang sama, 7 orang anggota Komite Tetap mengadakan pertemuan di Balai Agung Rakyat untuk memperingati 75 tahun kemenangan Perang Anti Jepang. 

Para anggota Komite Tetap yang merupakan generasi tidak banyak berpartisipasi dalam Perang Anti-Jepang, justru menunjukkan mimik yang serius dalam memperingati Perang Melawan Agresi Jepang, justru membuat hati orang yang menyaksikan tergelitik untuk tertawa.

Yang lebih menarik perhatian adalah ke-7 + 1 orang anggota komite semua kembali memakai masker. Dalam rekaman CCTV, terlihat Xi Jinping berbicara hampir sepanjang waktu, dan anggota Komite Tetap lainnya yang duduk di podium serta mereka yang menghadiri pertemuan tersebut juga semua mengenakan masker. Xi Jinping juga memakai masker ketika orang lain berdiskusi.

Terakhir kali 7 orang anggota Komite Tetap muncul bersama adalah saat Raker Urusan Tibet pada 29 Agustus. Tak satupun dari mereka yang memakai masker. Mereka hanya menjaga  jarak sosial, meskipun semua peserta raker memakai masker.

Pada 26 Agustus, ketika Xi Jinping dalam acara penyerahan bendera kepada tim polisi dan menyampaikan pesan untuk setia kepada partai, Xi Jinping juga tidak mengenakan masker, dan tidak ada peserta dalam upacara yang mengenakan masker.

Pada 31 Agustus 2020, Politbiro Partai Komunis Tiongkok mengadakan pertemuan. CCTV hanya melaporkan dengan subtitle. Kemungkinan pertemuan itu merupakan konferensi video, jadi tidak saling bertemu.

Usai Pertemuan Beidaihe, PM. Li Keqiang kembali mengadakan rapat Dewan Nasional sesuai jadwal yang sekali seminggu, CCTV melakukan reportasi dengan teks, jangan-jangan juga merupakan konferensi video.

Tampaknya risiko epidemi di Beijing masih tinggi. Para petinggi Partai Komunis Tiongkok telah kembali memperkuat langkah-langkah pencegahan epidemi. Tidak menutup kemungkinan bahwa para petinggi ini, diungsikan ke tempat-tempat di luar kota Beijing untuk menghindari ketularan virus, dan baru bertemu pada acara-acara khusus untuk menyangkal rumor yang berkembang.

Para petinggi Partai Komunis Tiongkok ini muncul kembali, selain demi menyangkal rumor, juga mengambil kesempatan untuk mengatakan sesuatu.

Xi Jinping mengatakan : “Kemenangan besar dari rakyat Tiongkok berperang melawan agresi Jepang telah memantapkan kembali status Tiongkok sebagai negara besar di dunia. Rakyat Tiongkok telah memenangkan rasa hormat dari orang-orang yang cinta damai di dunia, dan bangsa Tionghoa telah memenangkan reputasi nasional yang tinggi”.

Namun dalam pidato tersebut, para petinggi sudah tidak lagi menyuarakan bahwa Partai Komunis Tiongkok yang memimpin perang perlawanan terhadap agresi Jepang, dan hanya menggantinya dengan rakyat Tiongkok, juga tidak menyebut pemerintahan Kuomintang dan Chiang Kai-shek. Apalagi menyebutkan bahwa Amerika Serikat yang telah banyak membantu Tiongkok dalam Perang Perlawanan itu. Ketika itu, rakyat Tionghoa melakukan perlawanan di bawah kepemimpinan pemerintah Kuomintang. Chiang Kai-shek, adalah panglima tertinggi. Amerika Serikat memberikan bantuan materi yang sangat besar. Amerika masih menjadi angkatan udara utama dalam tahap kontra-ofensif. Bertempur bersama AU Tiongkok untuk merebut supremasi udara dari tangan Jepang.

Setelah kemenangan Perang Perlawanan Melawan Jepang, Tiongkok menjadi anggota tetap Dewan PBB dengan bantuan Amerika Serikat. Bangsa Tionghoa akhirnya bisa menikmati reputasi internasional tertinggi. Namun, Partai Komunis Tiongkok segera merebut Timur Laut dan memulai perang saudara untuk merebut kekuasaan. Ketika dunia merayakan gencatan senjata, bangsa Tionghoa justru jatuh ke dalam lembah bencana perang lainnya.

Xi Jinping masih mengatakan : “Sangat perlu untuk merefleksikan sejarah agresi militerisme Jepang”.

Dia menyinggung Jepang seharusnya merenungkan kembali (kebijakan militerismenya). Faktanya, rezim komunis Tiongkok-lah yang harus benar-benar merenungkannya. Rezim komunis Tiongkok saat ini justru menjalankan kebijakan militerisme. Ia selalu memperlakukan  Amerika Serikat sebagai musuh khayalan dan telah melancarkan perang tak terbatas. Amerika Serikat telah sepenuhnya sadar dan sedang melawan ekspansi komunis Tiongkok. Namun, rezim komunis Tiongkok sekarang tidak ada bedanya dengan militerisme Jepang saat itu, sama juga mengobarkan nasionalisme untuk merangsang rakyat berperang demi kepentingan hegemoni militernya.

Benar saja, Xi Jinping mengatakan bahwa “untuk mencapai kejayaan, harus menjunjung tinggi kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok”. Dia akhirnya mengatakan : “Tidak akan membiarkan upaya yang menjelekkan sifat dan tujuan Partai Komunis Tiongkok”, “Mengubah jalur sosialisme dengan karakteristik Tiongkok”, “Upaya memisahkan Partai Komunis Tiongkok dari rakyat Tiongkok, Meletakkan mereka dalam pertentangan”, yang “berusaha untuk mengubah arah kemajuan Tiongkok”.

Inilah pesan yang benar-benar ingin disampaikan oleh para pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok, meskipun dengan risiko tertular virus komunis Tiongkok (COVID-19), mereka harus mengatakannya sambil mengenakan masker. Kata-kata ini sama saja dengan deklarasi menyangkut hubungan dengan AS.

Rezim komunis Tiongkok sama sekali tidak ingin berubah, bahkan lebih jahat dari militerisme Jepang. Raja Jepang saat itu masih tidak tega untuk mengorbankan lebih banyak nyawa rakyatnya sehingga mengambil keputusan menyerah. Namun, Partai Komunis Tiongkok meskipun melihat situasi kejayaannya sudah sangat meredup mendekati padam, tetapi tetap menolak untuk membubarkan diri, masih terus berusaha menjadikan rakyat Tiongkok sebagai sandera demi impian hegemoni globalnya. Menggunakan rakyat Tiongkok sebagai bemper dalam melawan Amerika Serikat.

Rakyat Tiongkok perlu memanfaatkan momentum peringatan kemenangan dalam berperang melawan Jepang ini untuk lebih cepat dalam menentukan sikap, sadar bahwa hari kematian partai jahat tersebut sudah dekat, jangan sampai ikut terseret masuk ke jurang kematian oleh Partai Komunis Tiongkok ! (sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular