oleh Li Shi

Pemimpin Partai Tiongkok, Xi Jinping tiba-tiba menyerukan dengan nada tinggi bahwa Tiongkok harus memperluas keterbukaan ekonomi. Dunia luar berkomentar bahwa komunis Tiongkok ingin meraih keuntungan bagi dirinya melalui keterbukaan bohong-bohongan tetapi tidak bersedia melakukan reformasi nyata. Zaman sudah berubah, mungkinkah masih ada negara yang mau percaya ?

Komunis Tiongkok yang terus mendapatkan blokade internasional mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang drastis. Untuk keluar dari situasi tersebut, Beijing baru-baru ini menekankan perlunya untuk memperkuat sirkulasi ekonomi domestik/ dalam negeri, beralih dari orientasi ekspor menjadi sirkulasi domestik. 

Namun, pada pertemuan yang diadakan 4 September 2020 lalu, Pemimpin Tiongkok,  Xi Jinping tiba-tiba menyerukan dengan nada tinggi bahwa Tiongkok harus  memperluas keterbukaan ekonomi. 

Dunia luar berkomentar bahwa komunis Tiongkok ingin meraih keuntungan bagi dirinya melalui keterbukaan bohong-bohongan tetapi tidak bersedia melakukan reformasi nyata. Zaman sudah berubah, mungkinkah masih ada negara yang mau percaya ? 

 Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping dalam China International Fair for Trade in Services,  Global Trade in Services Summit (Pameran Internasional Tiongkok untuk Perdagangan Jasa, KTT Perdagangan Jasa Global) tahun 2020 menyerukan bahwa Tiongkok tidak lagi ragu untuk memperluas keterbukaan ekonomi.

Tiongkok terus melonggarkan akses pasar untuk industri jasa, serta secara aktif memperluas impor layanan berkualitas tinggi. Xi Jinping juga mengatakan bahwa dirinya mendukung pembentukan aliansi perdagangan jasa global dan membangun zona demonstrasi yang komprehensif untuk perluasan dan pembukaan industri jasa nasional di wilayah Beijing.

 Menanggapi hal ini, Yang Jianli, pendiri organisasi hak asasi manusia ‘People Power’ mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa komunis Tiongkok ingin terus menggunakan metode bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di masa lalu. Menyalahgunakan aturan internasional untuk mendapatkan keuntungan bagi mereka, keterbukaan yang tanpa reformasi, yakni keterbukaan secara ekonomi, tetapi tertutup secara politik. 

Sekarang Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa telah semakin sadar bahwa cara komunis Tiongkok dalam berurusan dengan komunitas internasional hanya demi meraih keuntungan bagi komunis Tiongkok sendiri. Tetapi menempatkan semua orang di dunia  dalam ancaman dan menanggung risiko.

 Yang Jianli menegaskan bahwa kegagalan kunjungan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi ke beberapa negara Eropa baru-baru ini membuktikan bahwa situasi internasional telah berbeda sama sekali. 

Otoritas komunis Tiongkok masih terus ingin melanjutkan keterbukaan palsu tanpa reformasi nyata pada situasi negara-negara di seluruh dunia sudah tidak lagi naif, mungkinkah mereka mau percaya ?

Sejak awal tahun ini, pemerintah komunis Tiongkok telah menimbulkan kecaman keras dari internasional karena menutupi fakta tentang epidemi virus Komunis Tiongkok/ covid 19. Hal itu membuat lingkungan eksternal seperti politik dan ekonomi mereka memburuk dengan hebat, dan menjadi semakin diisolasi. 

Akibatnya, pejabat komunis Tiongkok mulai mempraktikkan sirkulasi ekonomi domestik. Seakan memberikan signal ‘berdiri di atas kaki sendiri’, bahkan beralih ke negara tertutup.

Pada 23 Mei yang lalu, dalam pidato pada Dwi Konferensi, Xi Jinping menyebutkan : “Kita harus menjadikan pemenuhan kebutuhan dalam negeri sebagai titik awal dan akhir pembangunan ekonomi dan secara bertahap membentuk pola pembangunan baru yang berpusat pada siklus domestik.” 

Pada akhir bulan Juli, Xi Jinping sekali lagi menekankan bahwa situasi ekonomi Tiongkok sedang parah dan di masa depan Tiongkok akan mengandalkan pertumbuhan ekonomi melalui sirkulasi domestik.  (sin/rp)

 

Share

Video Popular