Ivan Pentchoukov

Perusahaan  pengembang vaksin terkemuka, AstraZeneca dalam sebuah pernyataan pada malam tanggal 8 September mengatakan bahwa proses tinjauan yang standar memicu jeda vaksinasi untuk memungkinkan tinjauan keamanan data.  Hal itu menyebabkan penghentian penelitian tahap akhir untuk calon vaksin COVID-19.

Pernyataan itu tidak memberikan rincian lebih lanjut. Situs berita kesehatan STAT melaporkan bahwa jeda tersebut dipicu oleh efek samping potensial yang terjadi di Inggris.

Jeda tersebut berlaku untuk penelitian yang dijalankan AstraZeneca di Amerika Serikat Serikat dan negara lain. AstraZeneca mulai merekrut 30.000 peserta di Amerika Serikat pada bulan Agustus. Ribuan orang di Inggris, Brasil dan Afrika Selatan juga menjadi bagian dari uji coba tersebut.

Moderna dan Pfizer juga melakukan uji coba tahap-akhir berskala-besar di Amerika Serikat untuk vaksin yang bekerja secara berbeda dari vaksin milik AstraZeneca. Moderna dan Pfizer telah merekrut sekitar dua pertiga peserta yang dibutuhkan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyarankan setidaknya satu dari vaksin-vaksin tersebut mungkin disetujui sesegera mungkin pada bulan Oktober.

Jeda tersebut adalah bagian protokol wajib dalam penelitian, yang mengharuskan semua reaksi yang serius atau tidak terduga untuk diselidiki. AstraZeneca menunjukkan bahwa segala jenis penyakit dapat muncul dalam penelitian terhadap ribuan orang.

“Kami sedang bekerja untuk mempercepat peninjauan peristiwa tunggal untuk meminimalkan  dampak potensial apapun pada garis waktu uji coba,” kata pernyataan AstraZeneca.

“Sepertinya penyakit yang tidak dapat dijelaskan itu adalah cukup serius yang memerlukan rawat inap dan bukanlah efek samping ringan seperti demam atau nyeri otot,” kata Deborah Fuller, peneliti Universitas Washington yang mengerjakan sebuah vaksin COVID-19 berbeda yang belum mulai diuji pada manusia.

“Ini bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan,” kata Deborah Fuller.

Menurut Deborah Fuller,  justru, hal ini untuk meyakinkan bahwa AstraZeneca menghentikan penelitian untuk mencari tahu apa yang terjadi dan dengan cermat memantau kesehatan peserta penelitian.

Angela Rasmussen, seorang ahli virologi di Universitas Columbia di New York, mengatakan di Twitter bahwa penyakit tersebut mungkin tidak terkait dengan vaksin.  “Bagian yang penting adalah inilah yang menjadi alasan kami melakukan uji coba sebelum meluncurkan vaksin kepada masyarakat umum,” kata Angela Rasmussen.

Selama pengujian tahap ketiga dan tahap terakhir, peneliti mencari semua tanda-tanda efek samping yang mungkin terjadi yang tidak terdeteksi pada penelitian pasien sebelumnya. 

Karena ukurannya yang besar, penelitian tersebut dianggap sebagai fase penelitian yang penting untuk menyingkirkan efek samping yang kurang umum dan menciptakan keamanan.

Uji coba tersebut juga menilai efektivitas dengan melacak siapa yang jatuh sakit dan siapa yang tidak jatuh sakit di antara pasien yang mendapatkan vaksin dan mereka yang menerima suntikan palsu.

Perwakilan FDA tidak segera menanggapi permintaan komentar pada Selasa malam.  (vv)

Associated Press berkontribusi pada laporan ini

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular