Epochtimes.com

Yan Limeng, mantan peneliti virus dan imunologi di Pusat Penelitian Penyakit Menular dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Hongkong. Ia kini berada dalam pengasingan di Amerika Serikat membuka akun Twitter pada 14 September dan merilis laporan penelitian ilmiah pertamanya tentang virus komunis Tiongkok pada malam itu. Ia menyerukan kepada pihak yang berwenang untuk melacak aliran dana yang disalurkan kepada laboratorium P4 Wuhan oleh National Institutes of Health (NIH).

Sebelum merilis laporan penelitian lewat Twitter, Yan Limeng menerima wawancara media Inggris ‘Independent Television’ (ITV) melalui koneksi video pada 11 September 2020. 

Pada kesempatan itu ia kembali menegaskan bahwa virus yang menyebabkan wabah besar tersebut adalah virus buatan militer Tiongkok di laboratorium P4 Wuhan. Pada saat itu Yan Limeng juga mengatakan bahwa, laporan penelitian yang diselesaikan dirinya bersama kelompok peneliti ilmiah dalam waktu dekat akan dipublikasikan sebagai bukti ilmiah yang relevan.

Akun Twitter Yan Limeng baru saja dibuka, penggemarnya telah mencapai hampir 60.000 orang. Dia hanya memposting tiga atau empat tweet yang semuanya berkaitan dengan laporan terbaru mengenai hasil penelitian mereka tentang virus komunis Tiongkok.

Pada 15 September sekitar pukul 14.00 Waktu Bagian Timur AS, akun Twitter Yan Limeng diblokir dengan tulisan Account suspended. Sampai saat ini, pejabat Twitter belum memberikan alasan pemblokiran akun Yan Limeng.

Insiden tersebut menimbulkan komentar dan kutukan banyak netizens karena memblokir kebebasan berbicara.

Han Lianchao, wakil ketua ‘Civil Force’ mengatakan : “Memblokir akun Yan Limeng adalah tindakan yang menekan kebebasan berbicara. DR. Yan merilis makalah ilmiah yang dapat saja ditentang atau dibantah oleh berbagai pendapat. Mengapa baru beberapa pesan yang ia posting di Twitter, akunnya diblokir ? Ini sudah di luar nalar. Jika Twitter tidak memberikan klarifikasi, maka seharusnya pemerintah AS menyelidiki penindasan kebebasan berbicara ini. Media sosial telah menjadi ruang publik, dan harus ada aturan yang terbuka dan transparan untuk mengatur perilaku perusahaan, agar perusahaan tidak berbuat seenaknya !”

Cai Xia, mantan dosen Sekolah Partai Komunis Tiongkok yang berada dalam pengasingan di Amerika Serikat mengatakan : “Sungguh tindakan yang di luar nalar akun Twitter DR. Yan Limeng diblokir sewenang-wenang. Mengapa terdapat perbedaan yang begitu besar dalam manajemen Twitter menangani masalah ? Di satu sisi, meskipun banyak netizen membantu saya melaporkan dan mengekspos penjahat yang menyamar sebagai saya ? Tetapi manajemen Twitter sampai sekarang pun belum melakukan tindakan apa pun. Di sisi lain, akun tweet DR. Yan Limeng ditangani begitu cepat. Bagaimana hal ini tidak menimbulkan keraguan orang ? Saya menantikan penyelidikan pemerintah AS untuk melindungi hak kebebasan berbicara”.

Pada 16 Mei tahun ini, Presiden AS Trump menulis pesannya di Twitter : Kaum kiri radikal sepenuhnya mengontrol media sosial AS, termasuk Facebook, Instagram, Twitter, dan Google. Pemerintah AS sekarang sedang berupaya untuk memperbaiki situasi ilegal ini. Pantau terus, Dan kirimkan nama dan temuan Anda kepada pemerintah.

Pada bulan Agustus, pejabat Gedung Putih menyatakan bahwa pemerintahan Trump telah berupaya untuk mengatasi diskriminasi dan penindasan terhadap kaum konservatif di media sosial sayap kiri, tak lain untuk memastikan kebebasan berbicara yang adil bagi semua orang.

Pada bulan Mei tahun ini, Li Feifei, pakar kecerdasan buatan Warga Negara Amerika Serikat asal Tiongkok, telah bergabung dengan Twitter dan menduduki jabatan direktur independen dewan direksi perusahaan. Hubungan dekatnya dengan komunis Tiongkok, menarik perhatian dunia luar. Suara-suara yang beredar di masyarakat memang menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan Twitter diubah menjadi media sosial yang berwarna “merah”.  (sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular