oleh Fang Xiao

Larangan memasok chip berteknologi Amerika Serikat kepada Huawei mulai berlaku 15 September 2020. Produsen tidak lagi dapat memasok chip kepada Huawei.  Lalu apakah Huawei memiliki plan B atau rencana alternatif dalam mengatasi persediaan chip yang dibutuhkan? Itu  telah menjadi perhatian besar semua kalangan.

Dari informasi tidak langsung yang sampaikan eksekutif senior Huawei yang diperoleh media Tiongkok menunjukkan, bahwa Huawei tidak memiliki plan B untuk mengatasi pasokan chip yang terputus.

 Analisa sumber daratan Tiongkok yang ahli dalam semikonduktor dan rantai industri Huawei menggambarkan bahwa Huawei kali ini benar-benar mati kutu.

Sebelum larangan baru ini berlaku, karena berlanjutnya eskalasi larangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat, maka pengiriman ponsel Huawei ke pasar luar negeri hanya sekitar 30 % dari produksinya, lebih dari 70 % ponsel mereka dijual di pasar dalam negeri Tiongkok.

Produk-produk Huawei, mulai dari ponsel, BTS 5G hingga server, bahkan berbagai perangkat IoT tidak satu pun yang tidak mengandalkan chip. Akibat larangan chip yang diberlakukan mulai 15 September itu, maka Huawei menghadapi krisis kelangsungan hidup terbesar.

Yu Chengdong, Vice President Huawei sebelumnya menyatakan bahwa seri Huawei Mate 40 yang menggunakan prosesor Kirin tidak akan bisa diproduksi setelah pasokan chip terhenti. 

Dan rangkaian ponsel ini akan menjadi terputus. Huawei sebenarnya juga telah berkejaran dengan waktu untuk mendapatkan chip yang diproduksi oleh Taiwan sebelum batas waktu sanksi.

Menurut laporan media sekuritas Tiongkok ‘stcn.com’, pada 14 September sore, berdasarkan informasi yang diperoleh mitra Huawei dari para eksekutif Huawei diketahui bahwa Huawei tidak memiliki rencana alternatif dalam mengatasi pasokan chip yang terhenti. 

Tindakan penanggulangan sementara terutama digantungkan pada produksi chip domestik. Di masa mendatang, Huawei mungkin saja menerapkan penurunan dimensi (Dimensionality reduction).

Menurut laporan tersebut, seseorang yang mengetahui rantai industri Huawei dan ahli semikonduktor mengatakan bahwa akan sulit juga buat Huawei untuk mendapatkan pasokan chip yang sesuai kebutuhannya dari produksi domestik. 

Di satu pihak, chip kelas atas memiliki hambatan teknis dan sulit untuk menghindari penggunaan peralatan serta by-pass teknologi Amerika Serikat. Chip kelas bawah dapat digunakan, tetapi itu berarti  Huawei hanya mampu bersaing lewat produk berdimensi lebih rendah.

Menurut sebuah sumber yang  ahli dalam bidang ini, Huawei benar-benar mati kutu sekarang. Huawei benar-benar tidak dapat lagi bergerak di industri kelas atas. Di kemudian hari, Huawei hanya dapat menurunkan dimensi sebagai pabrik pembuat mobil atau OLED driver, dan mengembangkan produk periferal seluler lainnya seperti panel komputer, notebook dan tablet.

Media Hongkong ‘Apple Daily’ melaporkan bahwa Fang Baoqiao, ketua Kamar Dagang Pasar Interaktif Hongkong mengatakan, meskipun Huawei telah berburu dengan waktu untuk membeli chip dan memori kelas atas sebelum larangan Amerika Serikat diberlakukan, namun persediaan  diperkirakan hanya akan membuat pabriknya bertahan selama setengah atau satu tahun lebih lama. Periode patahan satu tahun di depan akan menjadi kunci perkembangan Huawei. 

Fang Baoqiao mengatakan bahwa chip yang digunakan dalam ponsel unggulan saat ini adalah chip 7nm (nanometre) atau bahkan 5nm, tetapi produsen chip dalam negeri Tiongkok seperti SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation) hanya dapat memproduksi yang 14nm. Paling tidak juga butuh 3 – 4 tahun untuk mengejar teknologi yang digunakan saat ini. 

“Tetapi persaingan chip tidak terbatas, dan ketika Anda sudah dapat mengejar level saat ini, lawan Anda sudah mampu mencapai chip berukuran 3nm, yang lebih canggih”, kata Fang Baoqiao.

Fang Baoqiao memrediksikan bahwa masih membutuhkan waktu 1 tahun untuk mematangkan ponsel cloud Huawei. 

“Selama 1 tahun pasokan chip dari luar negeri terputus ini, kita tinggal melihat masih berapa lama persediaan chip Huawei dapat membuat pabriknya berjalan. Namun, sangat mungkin penurunan (pengembangan dan pangsa pasar)  kian tak terkendali,” kata Fang Baoqiao.

Fang Baoqiao mengungkapkan, Huawei selain menghadapi pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras, hal yang tidak kalah pentingnya adalah isu kepercayaan konsumen. Jika konsumen khawatir dengan ponsel buatan Huawei tidak dapat lagi ditingkatkan dan dipertahankan setelah tahun depan, konsumen  tentu akan berpikir bahwa lebih baik tidak membeli ponsel Huawei, yang secara langsung akan merusak reputasi merek.

Menurut Fang Baoqiao, sebelum pasokan chip terputus, pangsa Huawei di pasar luar negeri sudah banyak tergerus oleh merk Samsung, diperkirakan situasinya akan semakin jelas terlihat di tahun depan pada periode sesar tersebut. Pangsa pasar domestik akan terbagi di antara merek Tiongkok lainnya seperti Vivo, OPPO, Xiaomi dan lainnya.

Sementara itu pada 15 Mei, Kementerian Perdagangan Amerika Serikat mengeluarkan larangan bagi setiap perusahaan yang memasok produk semikonduktor mengandung teknologi Amerika ke perusahaan Huawei harus terlebih dahulu mendapatkan lisensi ekspor dari pemerintah Amerika Serikat. Sebelum larangan diterapkan, perusahaan terkait diberikan tenggang waktu selama 120 hari yakni hingga 14 September 2020 untuk mengadakan penyesuaian.

Pada 17 Agustus, larangan ditingkatkan. Pemerintah Amerika Serikat menambahkan 38 anak perusahaan Huawei ke dalam Daftar Entitas, sehingga ada total 152 afiliasi Huawei yang dimasukkan ke dalam daftar hitam. 

Pada saat yang sama, diumumkan bahwa pada tahapan transaksi manapunnya, selama Huawei terlibat, tidak ada perusahaan di dunia yang dapat menjual semikonduktor yang dibuat dengan perangkat lunak atau peralatan Amerika Serikat tanpa izin pemerintah  Amerika Serikat. 

Ini berarti, mulai 15 September 2020, Huawei akan kesulitan mendapatkan chip dari sumber komersial.

Dampak terhadap industri dari langkah baru tersebut langsung bisa terlihat. Menjelang hari H, produsen chip besar dunia seperti TSMC, Intel, Qualcomm, MediaTek, dan Micron telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan memasok semikonduktor ke Huawei setelah 15 September. 

Bahkan pengecoran chip daratan Tiongkok SMIC juga secara halus menyatakan bahwa pihaknya akan mematuhi peraturan internasional tersebut.

Menurut situs BBC berbahasa Mandarin, dari perspektif sejumlah analis diketahui bahwa larangan baru  Amerika Serikat begitu kuat sehingga jika bukan karena Huawei dijatuhi “hukuman mati”, itu juga tidak jauh berbeda dengan hukuman mati yang ditangguhkan.

Menurut Ming-Chi Kuo, seorang analis industri terkenal di Tianfeng International, menjelang 15 September, daya saing dan pangsa pasar Huawei di pasar ponsel kena pengaruh. Skenario terbaik adalah pangsa pasar Huawei menurun, tetapi skenario terburuknya adalah Huawei menarik diri dari pasar ponsel.

Menurut laporan terbaru dari Strategy Analytics, sebuah organisasi riset,  pada tahun 2020, jumlah produk Huawei yang dikirim keluar gudang berkisar pada 190 juta unit dengan pangsa pasar sebesar 15,1%. Turun ke posisi ketiga di dunia. 

Namun, dengan berkelanjutannya larangan, dan habisnya persediaan chip, maka bisnis ponsel akan runtuh, dan pangsa pasarnya juga bakal turun menjadi 4,3%. Angka itu setara dengan Huawei keluar dari daftar produsen terkemuka. (sin)

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: TECHNEWS TEKNOLOGI

Video Popular