Li Yun/Li Quan

Baru-baru ini, majalah sayap kiri Tiongkok “Zhongliu”, yang dilarang karena mengkritik mantan Pemimpin Komunis  Tiongkok, Jiang Zemin, kini terbit kembali. Selain itu, otoritas Pemerintahan Pemimpin Komunis Tiongkok, Xi Jinping mengadakan simposium untuk memperingati 100 tahun kelahiran Yang Baibing, saingan Jiang Zemin kala itu. Hal ini memicu spekulasi dunia luar. 

Untuk diketahui  Yang Baibing,  adalah seorang jenderal di Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Tiongkok.Dia pernah menjadi wakil direktur departemen politik di Kawasan Militer Beijing. Dan, juga pernah menjabat sebagai direktur Departemen Politik Umum PLA pada tahun 1987 dan menjadi jenderal pada tahun 1988.

Beberapa analis mengatakan bahwa kedua insiden ini jelas merupakan tamparan Xi Jinping kepada Jiang Zemin, yang juga menunjukkan telah terjadi gesekan atau konflik dalam pertarungan antara Xi Jinping – Jiang Zemin.

 Majalah sayap kirim ekstrim yang terbit kembali menarik perhatian publik

Pada awal September 2020, majalah sayap kiri Tiongkok “Zhongliu”, yang telah dihentikan kiprahnya selama 19 tahun, tiba-tiba “terbit kembali” baru-baru ini. 

Edisi perdana “Majalah Zhongliu” dirilis dalam bentuk elektronik. Majalah itu dihentikan penerbitannya pada 19 tahun lalu karena mengkritik   Jiang Zemin, yang saat itu adalah pemimpin Partai Komunis Tiongkok.

Pasalnya menerbitkan “pidato 1 Juli” dianggap sebagai kesalahan politik yang sangat serius, sehingga dihentikan penerbitannya semasa era kepemimpinan Jiang Zemin.

Majalah sayap kiri “Zhongliu” didirikan pada tahun 1988 oleh penulis militer Wei Wei dan mantan wakil kepala Departemen Propaganda Pusat Lin Mohan.

Menurut analis, majalah sayap kiri “Zhongliu” yang kembali terbit adalah jalan yang dibuka Xi Jinping yang terpilih kembali dalam Kongres Rakyat Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok, tetapi tidak ada lagi pasar untuk ultra-left trend di daratan Tiongkok. 

Xi Jinping  tidak khawatir akan berdampak pada kekuasaannya, tetapi memanfaatkan “kaum sayap kiri lama” itu untuk kepentingannya. Saat mengizinkannya untuk terbit kembali sekaligus juga memberi tamparan pada Jiang Zemin dan mengirimkan sinyal akan terus berhaluan ke kiri dalam orientasi politik.

 Memperingati 100 tahun kelahiran Yang Baibing, komandan militer senior untuk menarik dukungan dalam kekuasaan politik

Selain peristiwa di atas, otoritas Xi Jinping mengadakan simposium pada September 2020 untuk memperingati 100 tahun kelahiran Yang Baibing, saudara tiri laki-laki dari almarhum anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok, Yang Shangkun, dan menekankan perlunya belajar dari kesetiaan Yang Baibing kepada Partai Komunis Tiongkok serta menekankan bahwa militer harus mempelajari gagasan Xi Jinping dalam memperkuat militer. Menekankan kepemimpinan absolut partainya atas pasukan  Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

Menurut aturan Partai Komunis Tiongkok, sulit untuk menyelidiki kembali suatu kasus yang telah ditetapkan oleh mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok. Namun satu hal yang langka adalah, dua hal tersebut di atas yang ditetapkan Jiang Zemin diselidiki kembali secara beruntun oleh Xi Jinping di saat Jiang Zemin masih hidup. Hal ini menunjukkan Xi Jinping secara terang-terangan mempermalukan Jiang Zemin.

Sehubungan dengan ini, analisis dari saluran YouTube “Wong Kim Observation” mengatakan, bahwa Jiang Zemin mencabut kekuasaan militer Yang Baibing melalui kekuasaan Deng Xiaoping. Sekarang Xi Jinping memperingati 100 tahun kelahiran Yang Baibing, hal ini menunjukkan bahwa Xi Jinping bermaksud membuka kembali kasus Yang Baibing, sekaligus memberi tamparan pada Jiang Zemin.

Menurut Wong Kim, tanda-tanda di atas menunjukkan adanya gesekan atau konflik antara Xi Jinping dan Jiang Zemin. Lagipula belum pernah mendengar Xi Jinping dan keluarga Yang Baibing memiliki hubungan khusus. 

Simposium yang digelar Xi Jinping untuk memperingati satu abad kelahiran Yang Baibing pasti sengaja untuk mempermalukan Jiang Zemin. Meskipun Xi Jinping berkuasa, kekuatan kedua belah pihak tidak sepenuhnya hanya di satu sisi. Xi Jinping membuka kembali kasus Yang Baibing diyakini untuk menarik dukungan kekuatan politiknya untuk melawan kekuatan faksi Jiang Zemin.

Wong Kim mengatakan bahwa keluarga Yang masih memiliki kekuatan dari keturunan merah (merujuk pada elite Partai Komunis Tiongkok).  Xi Jinping membela keluarga Yang untuk memperkuat kekuatan politik keturunan merah dan mencoba menarik dukungan dari berbagai kekuatan politik. Pada saat yang sama, ini juga menunjukkan bahwa Xi  Jinping akan menjadi semakin berhaluan ke kiri dalam orientasi politiknya.

 Pertarungan hidup dan mati antara Xi Jinping dengan Zeng Qinghong ?

Setelah Xi Jinping berkuasa dalam Kongres Rakyat Nasional ke-18 Partai Komunis Tiongkok, ia lebih dulu mengkampanyekan anti korupsi untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya. Saat memasuki konstitusi partai dengan “Pemikiran Xi” di Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis Tiongkok ke-19, dan berhasil merevisi konstitusi pada dua sesi pleno tahun 2018, dipandang sebagai “penetapan penguasa tunggal.” 

Namun, seiring dengan diplomasi prajurit serigala Partai Komunis Tiongkok yang terus mengalami kekalahan, apalagi memasuki tahun 2020, rezim Komunis Tiongkok terperosok dalam krisis baik di dalam maupun luar negeri.

Partai Komunis Tiongkok menyembunyikan informasi tentang virus corona, memaksakan Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong, hak asasi manusia di Xinjiang dan banyak masalah lainnya. Ditambah lagi dengan kemerosotan ekonomi, gejolak sosial di dalam negeri, gelombang suara anti-Xi dari internal Partai Komunis Tiongkok sendiri, perebutan kekuasaan yang terus berlanjut, dan bahkan secara langsung meminta Xi Jinping untuk mundur, sehingga dia menghadapi dilema yang sulit.

Komentator peristwa terkini Li Zhengkuan mengatakan dalam sebuah artikel di The Epoch Times bahasa mandarin menyatakan, bahwa rezim Partai Komunis Tiongkok terperangkap dalam kesulitan di semua sisi. Pertarungan di internal semakin sengit. Terutama, konfrontasi Xi Jinping dengan musuh politiknya, yakni Zeng Qinghong, wakil dari faksi Jiang Zemin yang telah mencapai klimaks antara hidup dan mati.

 Menjelang pertemuan Beidaihe, dimana untuk mencegah Zeng Qinghong “membuat onar” lagi, Xi Jinping mengambil alih sembilan lembaga keuangan inti di bawah bendera “Tomorrow Holdings Group Limited”-nya Xiao Jianhua. Karena Xiao Jianhua adalah “perantara gelap” yang digunakan oleh keluarga Zeng Qinghong untuk menghasilkan uang, sementara itu, tindakan Xi Jinping  jelas merupakan penyitaan aset keluarga Zeng Qinghong. 

Tak lama kemudian, Tomorrow Holdings Group Limited mengeluarkan empat poin pernyataan keras untuk menantang Xi Jinping, dan babak baru pertarungan sengit pun akan segera dimulai.

Pengusaha kaya Tiongkok di pengasingan, Guo Wengui menuturkan pada 28 Juli 2020 lalu,  “Saya mendengar bahwa Zeng Qinghong akan segera mengambil tindakan terhadap Xi Jinping, namun, karena telah diketahui sebelumnya oleh Xi, sehingga aksinya gagal. Xi sangat marah dan akan menghancurkan keluarga Zeng Qinghong berikut sarung perantara gelapnya, Xiao Jianhua.” 

Xiao Jianhua adalah seorang pengusaha Tiongkok-Kanada dan miliarder yang dikenal karena mengelola aset untuk keturunan para pemimpin terkemuka Tiongkok. Dia diculik ke Tiongkok Daratan pada tahun 2017.

Pada 4 Agustus 2020, Guo Wengui mengatakan dalam siaran langsung bahwa pertempuran antara Xi Jinping dan Zeng Qinghong adalah yang paling kejam dalam sejarah Partai Komunis Tiongkok. Saat ini, banyak orang di pihak Zeng Qinghong telah ditangkap.

Mantan bintang sepak bola Tiongkok Hao Haidong sangat akrab dengan Zeng Qinghuai, adik Zeng Qinghong  juga mengatakan bahwa kali ini adalah pertarungan hidup dan mati antara Xi Jinping dan Zeng Qinghong. Kedua belah pihak sama-sama menderita, dan bahkan mungkin mati bersama.

Menurut Li Zhengkuan, \tantangan terbesar Xi Jinping bukanlah ancaman dari Jiang Zemin dan Zeng Qinhong, melainkan titik fatal dalam pemikiran Xi Jinping, bahwa “melindungi partai dapat melindungi kekuasaan dan kekuasaan dapat melindungi hidupnya.” 

Hal ini menyebabkan Xi Jinping jatuh ke dalam “perangkap Tacitus.”

Tacitus Trap atau Perangkap Tacitus adalah pandangan Publius Cornelius Tacitus (55120) yang memiliki pengertian bahwa apapun yang dilakukan oleh pemimpin atau penguasa yang sudah kehilangan kredibilitasnya, tidak peduli yang dia lakukan itu benar atau salah, baik atau buruk, semuanya akan dianggap palsu, bohong dan buruk.

Karena itu, Xi mungkin akan menghadapi gelombang baru serangan balik yang brutal dari Jiang Zemin dan Zeng Qinghong. (jon)

Share

Video Popular