oleh Li Yun

Anggota keluarga DR. Yan Limeng yang tinggal di daratan Tiongkok mengalami penganiayaan, dikarenakan ahli virologi yang berada dalam pengasingan di Amerika Serikat telah mengungkapkan kepada dunia bahwa komunis Tiongkok selain memproduksi virus COVID-19, juga menyembunyikan fakta tentang epidemi sehingga menciptakan bencana bagi dunia. Pada 5 Oktober 2020 ia membenarkan bahwa ibunya ditangkap oleh polisi komunis Tiongkok. Hal ini menimbulkan perhatian publik

Baru-baru ini, tersiar kabar bahwa pihak berwenang komunis Tiongkok telah menangkap ibunda dari DR. Yan Limeng untuk mencegah pengungkapan lebih banyak kejahatan terkait COVID-19 di luar negeri. 

Pada 5 Oktobe 2020r, media Amerika Serikat ‘The Epoch Times’ memberitakan bahwa DR. Yan Limeng telah membenarkan kejadian tersebut, tetapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut.

Pengusaha asal daratan Tiongkok yang kemudian menjadi aktivis politik di AS, Miles Guo atau Guo Wengui, juga mengungkapkan dalam siaran langsung di ‘War Room’ bahwa polisi komunis Tiongkok telah menangkap ibunda dari DR. Yan untuk mengancam Yan Limeng.

Saat makan malam bersama Steve Bannon dan mantan Walikota New York Rudy Giuliani minggu lalu. DR. Yan menceritakan masalah ini kepada mereka, membuat Rudy Giuliani sangat marah saat itu juga, dan menyatakan kesediaannya untuk membantu Yan Limeng.

Guo Wengui menekankan bahwa pembeberan fakta tentang virus COVID-19, sudah merupakan bukti pihak militer komunis Tiongkok telah memproduksi senjata biologi dan kimia. 

“Ada jenderal dari militer komunis Tiongkok yang berdiri di pihak kita. Mereka juga ingin menggulingkan Partai Komunis Tiongkok dan membangun Tiongkok baru bersama kita. Mereka memberitahu dengan sangat jelas kepada saya bahwa ini adalah senjata biologi dan kimia dari komunis Tiongkok”, kata Guo Wengui.

Yan Limeng adalah salah satu ahli virologi pertama di dunia yang mempelajari virus komunis Tiongkok (COVID-19). Dia mengikuti Dr. Leo Poon, Direktur Laboratorium Referensi Organisasi Kesehatan Dunia di Universitas Hongkong, mulai dari akhir bulan Desember 2019 untuk mempelajari varian virus mirip SARS yang ditularkan dari daratan Tiongkok.

Yan Limeng mengungkapkan untuk pertama kalinya kepada Fox News pada 10 Juli, bahwa komunis Tiongkok menutupi fakta tentang pandemi tersebut. Dia mengatakan bahwa pada 28 April, dirinya terbang ke AS dengan menggunakan pesawat Cathay Pacific. Ketika dirinya mencoba mencari pijakan baru di Amerika Serikat, teman dan anggota keluarganya diganggu oleh orang-orang kiriman komunis Tiongkok. Yan mengatakan bahwa pemerintah setempat mendobrak pintu tempat tinggalnya di kota asalnya Qingdao, dan petugas polisi menggeledah apartemen kecilnya dan menginterogasi kedua orang tuanya. 

Ketika DR. Yan menghubungi orang tuanya melalui telepon, mereka meminta putrinya itu untuk segera pulang ke Tiongkok dan menghentikan pengungkapan fakta tentang COVID-19.

Sedangkan situs web yang relevan dari Universitas Hongkong tempat Yan Limeng bekerja, sebelum melarikan diri juga mengalami pembredelan. Meskipun pada saat itu ia sedang berlibur tahunan. Seorang juru bicara universitas mengatakan bahwa Yan Limeng bukan lagi karyawati di sana.

Yan Limeng pada saat itu mengatakan bahwa dirinya pun dalam keadaan berbahaya, tetapi mengingat waktu sangat mendesak dan dunia harus segera mengetahui kebenaran yang terjadi. Maka ia termotivasi untuk mengungkapkan apa yang ia tahu. 

Menurut data, Yan Limeng lahir di Kota Qingdao, Provinsi Shandong. Dia memiliki tujuh tahun program sarjana dan magister kedokteran klinis di Xiangya Medical College dari Central South University. 

Dia lulus pada tahun 2009 dan memiliki sertifikat kualifikasi dokter Tiongkok. Sebelum pergi ke Amerika Serikat, dia adalah peneliti pasca doktoral di Universitas Hongkong, terutama terlibat dalam penelitian vaksin, antibodi dan imunologi seluler.

Yan Limeng mengungkapkan dalam program khusus di Fox News bahwa pada bulan Desember tahun lalu, pemerintah komunis Tiongkok mengetahui ada 40 orang yang telah terinfeksi virus COVID-19 (pneumonia Wuhan), dan penularan dari manusia ke manusia itu benar terjadi. Namun demikian, hingga 20 Januari 2020, pihak berwenang komunis Tiongkok baru mengakui adanya hal ini. 

Sedangkan WHO yang bertanggung jawab untuk melaporkan epidemi, masih terus mengikuti arahan komunis Tiongkok untuk menyebarkan informasi kepada dunia, bahwa tidak ada penularan dari manusia ke manusia hingga 14 Januari 2020. Akibatnya, mempercepat penyebaran virus ke seluruh dunia.

Yan mengatakan bahwa ada banyak bukti tentang pemerintah komunis Tiongkok berusaha menutupi fakta epidemi tersebut. “Saya memiliki riwayat obrolan. Saya telah berbicara dengan banyak teman, termasuk mereka yang berada di Pusat Pengendalian Penyakit Tiongkok dan para dokter di garis depan”.

Pada 5 Agustus, ketika Yan Limeng menerima wawancarai dari VOA News, dia menuduh WHO menutupi kebohongan yang tak terhitung jumlahnya demi kepentingan komunis Tiongkok. Ia percaya bahwa komunis Tiongkok pandai memanipulasi ucapan dan mendapatkan kepercayaan melalui kekuatan “otoritas”. Sekarang menggunakan WHO untuk menghadapi negara-negara Barat. Bahkan, jika pejabat WHO datang ke daratan Tiongkok untuk melakukan investigasi mereka juga harus mengikuti instruksi pemerintah komunis Tiongkok.

Pada pertengahan bulan September, Yan Limeng menerbitkan laporan tentang virus korona jenis baru di situs web perpustakaan sumber daya akademik. Laporan yang ia buat berisikan pembuktian lewat gen, struktur virus dan literatur yang berkaitan untuk membuktikan sangat besarnya kemungkinan COVID-19 dihasilkan melalui metode sintesis buatan di laboratorium militer Tiongkok.

Yan juga mengungkapkan bahwa tidak hanya virus komunis Tiongkok (COVID-19), komunis Tiongkok juga sedang melakukan percobaan membuat jenis virus lainnya. Dan, mereka sekarang telah menghasilkan 127 jenis virus lainnya. Oleh karena itu, dunia harus waspada dan memperhatikan percobaan ilegal tersebut.

 

Pada 2 Oktober, setelah beredarnya berita bahwa Presiden AS Trump didiagnosis terinfeksi virus komunis Tiongkok, Yan Limeng mengatakan dalam siaran langsung di ‘War Room’ : “Saya berharap Presiden Trump dan ibu negara secepatnya pulih. Yang ingin saya katakan adalah, virus ini berbeda dengan virus yang kita kenal sebelumnya”.

Yan mengatakan bahwa pengalaman kita dalam mengendalikan virus dan mengendalikan penyebarannya, sebenarnya berasal dari pengetahuan yang terkumpul saat berhadapan dengan virus alam, bukan virus buatan. Berdasarkan pengalaman masa lalu, sulit bagi kita untuk menghentikan gelombang ketiga dan keempat dari pandemi COVID-19 tersebut.

Ia mengatakan bahwa dalam pengembangan vaksin yang efektif untuk COVID-19 ini, juga mengalami banyak kesulitan. Jika kita ingin mempelajari virus ini dan mengendalikan serta menghilangkannya secara efektif, pertama-tama kita harus menyelidiki virus ini secara menyeluruh. Namun demikian, ini hanya bisa dicapai setelah terlebih dahulu membasmi Partai Komunis Tiongkok. Jika tidak, tidak ada cara lain untuk mempelajari virus tersebut, serta menemukan program pengobatan dan pencegahan yang efektif.  (sin/asr)

 

Share

Video Popular