Luo Tingting /Wen Hui

Pasca libur panjang 1 Oktober 2020, yakni perayaan hari libur nasional, Pemkot Qingdao, provinsi Shandong melaporkan wabah virus Komunis Tiongkok, dan mengadakan pemeriksaan secara besar-besaran terhadap 9 juta warga setempat. Pada tanggal 13 Oktober, penerbangan ke Bandara Udara Internasional Liuting, Qingdao dibatalkan, sejumlah besar provinsi dan kota di Tiongkok melarang warga mengadakan perjalanan ke Qingdao. Menurut laporan, wabah virus di Qingdao mungkin sudah muncul sebelum Perayaan Hari Nasional Tiongkok “1 Oktober 2020”, namun, agar tidak berdampak pada pendapatan dari pariwisata, rezim sengaja menyembunyikan wabah virus tersebut

Pemerintahan Partai Komunis Tiongkok melaporkan ledakan wabah virus di kota Qingdao pada 10 Oktober 2020. Laporan menyatakan bahwa tiga orang terinfeksi tanpa gejala pada hari itu. Kemudian, pemerintah kota Qingdao mengadakan tes asam nukleat skala besar terhadap 9 juta penduduk kota tersebut. Hingga kini, hanya Wuhan, Urumqi, dan Qingdao yang melakukan pemeriksaan secara nasional, menunjukkan parahnya epidemi di kota Qingdao.

 Pada 13 Oktober 2020, penerbangan ke Bandara Udara Internasional Liuting, kota Qingdao dibatalkan secara besar-besaran. Sementara itu, sejumlah besar provinsi dan kota di Tiongkok mengeluarkan peringatan perjalanan, menghimbau warga untuk tidak pergi ke Qingdao. Termasuk Kota Heze, provinsi Shandong, Kota Dalian, Kota Dandong, provinsi Liaoning, Kota Baicheng, Kota Huadian, Kota Gongzhuling, Provinsi Jilin, Kota Ganzhou, Provinsi Jiangxi.

Menurut warga Shandong, pemkot Qingdao telah mengonfirmasi kasus penyakit terkait sebelum libur panjang pada Hari Nasional Tiongkok, 1 Oktober 2020. Namun, pejabat setempat menyembunyikan wabah virus tersebut demi pendapatan dari pariwisata dan tidak memberitahu kepada publik hingga akhir liburan. 

 

Menurut laporan media resmi Partai Komunis Tiongkok, Qingdao menerima sekitar 4,47 juta wisatawan selama periode ke-11, menyadari konsumsi wisatawan sebesar 4,645 miliar yuan atau sekitar Rp.9.9 triliun.

Menurut laporan resmi pemkot Qingdao, tiga pasien terinfeksi asimtomatik paling awal ditemukan pada masing-masing pasien rawat inap di Shandong Chest Hospital, perawat pasien di rumah sakit terkait, dan seorang pria bernama Shao berumur 57 tahun, yang mana juga seorang sopir taksi. Pria ini terakhir kali meninggalkan rumah sakit pada 29 September 2020, menunjukkan bahwa epidemi telah menyebar di Qingdao sebelum libur panjang “1 Oktober 2020”. Saat ini operasional Qingdao Chest Hospital telah ditutup.

Pada 12 Oktober, beredar di internet pemberitahuan yang dikeluarkan Changhai Hospital of Shanghai pada 29 September, mengimbau untuk tidak pergi ke Qingdao, provinsi Shandong selama libur panjang 1 Oktober. Ini menunjukkan bahwa rumah sakit Shanghai itu mungkin telah mengetahui maraknya wabah virus di kota Qingdao.

Selain itu, cakupan pengujian asam nukleat yang diusulkan pemkot Yantai dan Jinan, Provinsi Shandong telah diperluas hingga ke orang-orang yang kembali dari kota Qingdao sejak 23 September. 

Voice of America mengutip laporan pengamat, mengatakan bahwa indikasi ini menunjukkan epidemi di Qingdao mungkin telah muncul sebelum liburan “1 Oktober 2020”.

Media daratan Tiongkok juga melaporkan bahwa, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Hubei mengharuskan semua orang yang baru kembali dari kota Qingdao sejak 27 September untuk menjalani tes asam nukleat.

Menurut penuturan netizen Tiongkok, “Pemerintah Provinsi Shandong saat ini sedang menyelidiki orang-orang yang ke Qingdao sejak 23 September 2020, dan pada dasarnya sesuai dengan laporan berita sebelumnya, bahwa ada kasus penyakit sebelum 1 Oktober 2020. Namun, kasus itu disembunyikan hingga akhir liburan demi memastikan arus perjalanan wisata berlangsung lancar selama perayaan hari nasional Tiongkok 1 Oktober 2020.

“Sejak awal tahun, kota Qingdao telah tercemar, diduga menutupi penyebaran epidemi! Hanya saja hampir tidak dapat menutupinya lagi,” kata netizen.

(Tangkapan layar jaringan)

Dunia luar khawatir kota Qingdao kemungkinan mengalami situasi yang sama dengan ledakan wabah di Wuhan. Karena disembunyikan pejabat setempat atas instruksi dari pusat, sehingga menyebabkan epidemi menyebar dari Qingdao ke seluruh pelosok negeri dan bahkan dunia. 

Netizen Tiongkok mengatakan, “Perbedaan antara epidemi Qingdao dan ledakan epidemi baru adalah liburan panjang, ratusan ribu orang melakukan perjalanan ke Qingdao dan setidaknya setengah dari negeri Tiongkok terkena dampaknya.”

Beberapa netizen Tiongkok juga marah dengan hal ini dengan menyebutkan, “selalu menyembunyikan epidemi, itulah kebiasaan Partai Komunis yang tidak pernah berubah!”

Epidemi di Qingdao kali ini tampaknya telah berdampak ke provinsi lain. Kota Zhuhai, Provinsi Guangdong, semula dijadwalkan menjadi tuan rumah Zhuhai Airshow atau Pameran Penerbangan & Penerbangan Internasional Tiongkok dari 10 hingga 15 November 2020. Penyelenggara telah mengumumkan akan menunda pameran ini karena epidemi dan akan diumumkan sesuai dengan kondisi.

Hingga 13 Oktober 2020, Komisi Kesehatan Kota Qingdao melaporkan bahwa 6 kasus baru ditambahkan pada tanggal 12 Oktober 2020. 

Laporan Komisi Kesehatan Nasional mengatakan bahwa dalam 24 jam terakhir, ada 13 kasus baru di seluruh negeri, 7 di antaranya berasal dari luar wilayah dan 6 kasus lokal, semuanya di provinsi Shandong. Karena Komunis Tiongkok selalu menutupi fakta yang sebenarnya, sehingga dunia luar meragukan data epidemi resmi yang diumumkan pejabat setempat.

The Epoch Times merujuk pada virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus Komunis Tiongkok, karena sensor berita dan kesalahan manajemen dari Partai Komunis Tiongkok, sehingga memungkinkan virus itu menyebar ke seluruh Tiongkok dan menciptakan pandemi global. (jon/asr)

 

Share

Video Popular