Jack Phillips

Departemen Kehakiman AS mengajukan gugatan antitrust terhadap Google pada Selasa 20 Oktober 2020. Turut menggugat kejaksaan Agung dari 11 negara bagian di AS. Ini adalah tantangan hukum paling sengit yang dilakukan pemerintah AS terhadap perusahaan raksasa teknologi dalam 20 tahun terakhir. 

Bahkan baru-baru ini, raksasa media sosial seperti Twitter dan Facebook, juga menyensor dan memblokir skandal korupsi Biden dan putranya, serta komentar konservatif. Membuat dunia luar sangat prihatin.

Gugatan yang diajukan ke pengadilan federal Washington, menegaskan bahwa Google, anak perusahaan Alphabet Inc.,  mencoba mengukuhkan posisinya sebagai penjaga gerbang ke Internet dengan menggunakan sejumlah bisnis yang saling terkait, tak lain untuk melumpuhkan adanya pesaing.  

Kementerian Kehakiman AS mengklaim perusahaan Silicon Valley, menggunakan miliaran dolar dari iklannya sendiri untuk membayar operator, browser, perusahaan telepon, dan entitas lain untuk mempertahankan Google sebagai mesin pencari.

“Tanpa perintah pengadilan, Google akan terus menjalankan strategi anti persaingan, melumpuhkan proses persaingan, mengurangi pilihan konsumen, dan menghambat inovasi. Google sekarang menjadi gerbang tak tertandingi ke internet bagi miliaran pengguna di seluruh dunia,” demikian tuduhan gugatan Kementerian Kehakiman, yang mengakibatkan konsekuensi negatif bagi pengiklan, konsumen, dan perusahaan start Up yang” tidak dapat muncul dari bayang-bayang Google “.

Selama bertahun-tahun, Kementerian Kehakiman AS berpendapat, konsumen AS harus “menerima kebijakan Google, praktik privasi, dan penggunaan data pribadi”. Namun demikian, otoritas AS menambahkan: “Waktunya telah tiba untuk menghentikan perilaku antikompetitif Google dan memulihkan persaingan.”

Seorang juru bicara Google  kepada Fox News mengatakan, gugatan itu tidak pantas. “Gugatan hari ini oleh Departemen Kehakiman cacat hukum. Orang-orang menggunakan Google karena mereka memilih — bukan karena mereka terpaksa atau karena mereka tidak dapat menemukan alternatif, ”kata juru bicara itu. 

Gugatan tersebut lebih lanjut menyatakan bahwa perjanjian Google dan dugaan perilaku monopoli telah “menyumbang hampir 90 persen dari semua mesin pencari di Amerika Serikat serta hampir 95 persen di perangkat seluler”.

Anggota parlemen di DPR dan Senat AS memuji gugatan Departemen Kehakiman  terhadap Google atas tuduhan  monopoli.

“Gugatan hari ini adalah kasus antitrust paling penting dalam satu generasi,” kata Senator AS Josh Hawley.

Ia menyatakan : “Google dan sesama Teknologi Besar memonopoli  kekuasaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kehidupan warga Amerika, mengendalikan segala sesuatu mulai dari berita yang kita baca hingga keamanan informasi paling pribadi kita. Dan, Google  mengumpulkan dan mempertahankan kekuatan itu melalui cara-cara ilegal. ”

Ketua Subkomite Antitrust DPR AS David N. Cicilline (D-R.I.) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gugatan itu “sudah lama tertunda”.

Ia mengatakan, Penyelidikan Subkomite menemukan bukti ekstensif yang menunjukkan bahwa Google mempertahankan dan memperluas monopoli untuk merugikan persaingan.  

Selain itu, Cicilline mengatakan gugatan Departemen Kehakiman berfokus pada monopoli Google atas mesin pencari dan  pencari iklan, sementara juga menargetkan praktik bisnis anti-Trust yang digunakan Google untuk memanfaatkan monopoli  ke area lain, seperti peta, browser, video, dan asisten suara . ”

Cicilline mengatakan pada awal Oktober di subkomite antitrust DPR AS, bahwa Facebook, Google, Amazon, dan Apple semuanya memegang kekuasaan monopoli. (hui/asr)

Video Rekomendasi :

Share
Tag: Kategori: TECHNEWS TEKNOLOGI

Video Popular